http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-979%7CX
 
 Senin, 21 April 2008 
  Keberagaman   Arabisasi Gejala Tidak  Percaya Diri 
 Jurnalis : Nur Azizah 
 Jurnalperempuan.com-Jakarta.  Menyambut Hari Kartini, acara Kongkow Bareng Gus 
Dur di KBR68H (19/4)  mengulas tema “Perempuan, Keragaman, dan Kearifan Lokal”. 
Hadir sebagai  pembicara lain yang menemani KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur 
adalah Mariana  Amiruddin, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan. 

Acara kongkow  tersebut dimulai dengan respon Gus Dur terhadap pelarangan 
Jemaah Ahmadiyah,  baik melalui fatwa Majelis Ulama Indonesia yang telah 
mengeluarkan fatwa “sesat”  ataupun rekomendasi Badan Koordinasi Pengawas 
Aliran Kepercayaan (Bakorpakem)  bahwa ajaran Ahmadiyah bertentangan dengan 
Islam. 

Menanggapi pertanyaan  tersebut, KH Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa 
pelarangan merupakan bentuk  pembodohan. Bahkan, Gus Dur juga menambahkan, 
seharusnya pemerintah membubarkan  ormas atau lembaga yang mengeluarkan 
rekomendasi penyesatan dan pelarangan.  

Sedangkan narasumber lain, Mariana Amiruddin, mengakui bahwa kakeknya  adalah 
seorang penganut Ahmadiyah. Pengalaman pribadi itu pula bagi Mariana  
menunjukkan kemajemukan dalam Islam di Indonesia. Bagi Mariana, masing-masing  
individu pasti memiliki akar-akar yang majemuk tadi. “Dalam diri kita  
masing-masing telah melekat kemajemukan,” jelas perempuan yang pernah menjadi  
anggota Negara Islam Indonesia (NII) ini. 

Mariana juga merespon  munculnya Perda-perda Syariah yang justeru hendak 
mnyeragamkan perempuan dalam  balutan busana muslimah seperti yang terdapat di 
beberapa kota di Indonesia. Dia  mencontohkan kewajiban jilbab di Padang telah 
memaksa siswi-siswi non-muslim  memakai jilbab ke sekolah. Bagi Mariana, 
fenomena ini akan mengancam keberagaman  di Indonesia, karena akan 
menyeragamkan masyarakat pada satu bentuk busana saja.  

Sementara Gus Dur menyatakan bahwa kemajemukan bisa juga dimiliki oleh  orang 
yang besar dan lahir dari kultur tunggal. “Seperti saya yang lahir dan  besar 
di pesantren, orang tua saya juga pesanten, kultur yang tunggal juga bisa  
menerima kemajemukan, yang penting apakah ia mau terbuka atau tidak,” ujar  
mantan Presiden RI ke-4 ini. 

Ketika sesi tanya jawab yang dikirim  melalui pesan singkat dibuka, terdapat 
satu pesan yang bertanya tentang maraknya  masyarakat kita yang mengenakan baju 
ala Arab seperti jubah dan cadar. “ Itu  menunjukkan gejala kurang percaya diri 
dan lantas menganggap Arabisasi sama  dengan Islamisasi,” respon Gus Dur 
terhadap penanya itu. 

Sementara bagi  Mariana, busana ala Arab tidak sesuai dengan kondisi iklim 
negeri Indonesia.  “Tidak fashionable karena Indonesia kan negara tropis, jadi  
ngga mungkin kalau harus meniru trend semacam itu,” ujarnya menimpali  
pernyataan Gus Dur. 

Selain itu pesan singkat juga dikirim dari Kupang  yang menyatakan bahwa jilbab 
merupakan kewajiban Islam karena ada dalam  Al-Quran, dan ia juga menilai 
berita jilbab kasus Padang yang disampaikan  Mariana adalah “bohong besar”. 
Nampaknya pengirim pesan singkat tersebut geram  dengan pernyataan Mariana dan 
Gus Dur. “ Biar saya saja yang menjawab,” pinta  Gus Dur sebelum Mariana 
menanggapi pesan tersebut. “Orang Arab membedakan budak  dan majikannya itu 
dengan jilbab, dan tidak semua yang ada dalam Al-Quran bisa  dijadikan hukum” 
tegas Gus Dur. 

 
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke