Soal Gus Dur ada humor yang lumayan lucu begini: Seorang ibu protes kepada Gus Dur: "Gus, sebagai kiai, Anda kog membolehkan segala hal sih....! Pornografi boleh. Kartun Nabi Muhammad boleh. Film 'Fitna' boleh. Ahmadiyah boleh. Lalu apa sih yang tidak boleh menurut Anda?"
Gus Dur menjawab dengan nada agak marah: "Satu hal yang tidak boleh. Jangan katakan kalau PKB kalah pada pemilu 2009." --------zzzzzz Ibarat kata, menurut saya Gus Dur sudah mengalami peyorasi atau penyempitan makna: hanya pada wilayah kerja LSM dan Politik (PKB). Gus Dur sudah kehilangan nyoni sebagai budayawan, filosof, apalagi agamawan. Jadi tidak semua perkataannya harus didengarkan. Kecuali para wartawan yang masih menganggap Gus Dur sebagai "news maker" yang terus dipancing-pancing untuk ngomong segala hal. Semoga kembali ke jalan yang benar, Salam semuanya, On Mon, Apr 21, 2008 at 7:08 PM, MGR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-979%7CX > > Senin, 21 April 2008 > Keberagaman Arabisasi Gejala Tidak Percaya Diri > Jurnalis : Nur Azizah > Jurnalperempuan.com-Jakarta. Menyambut Hari Kartini, acara Kongkow Bareng > Gus Dur di KBR68H (19/4) mengulas tema "Perempuan, Keragaman, dan Kearifan > Lokal". Hadir sebagai pembicara lain yang menemani KH Abdurrahman Wahid atau > Gus Dur adalah Mariana Amiruddin, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal > Perempuan. > > Acara kongkow tersebut dimulai dengan respon Gus Dur terhadap pelarangan > Jemaah Ahmadiyah, baik melalui fatwa Majelis Ulama Indonesia yang telah > mengeluarkan fatwa "sesat" ataupun rekomendasi Badan Koordinasi Pengawas > Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) bahwa ajaran Ahmadiyah bertentangan dengan > Islam. > > Menanggapi pertanyaan tersebut, KH Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa > pelarangan merupakan bentuk pembodohan. Bahkan, Gus Dur juga menambahkan, > seharusnya pemerintah membubarkan ormas atau lembaga yang mengeluarkan > rekomendasi penyesatan dan pelarangan. > > Sedangkan narasumber lain, Mariana Amiruddin, mengakui bahwa kakeknya > adalah seorang penganut Ahmadiyah. Pengalaman pribadi itu pula bagi Mariana > menunjukkan kemajemukan dalam Islam di Indonesia. Bagi Mariana, > masing-masing individu pasti memiliki akar-akar yang majemuk tadi. "Dalam > diri kita masing-masing telah melekat kemajemukan," jelas perempuan yang > pernah menjadi anggota Negara Islam Indonesia (NII) ini. > > Mariana juga merespon munculnya Perda-perda Syariah yang justeru hendak > mnyeragamkan perempuan dalam balutan busana muslimah seperti yang terdapat > di beberapa kota di Indonesia. Dia mencontohkan kewajiban jilbab di Padang > telah memaksa siswi-siswi non-muslim memakai jilbab ke sekolah. Bagi > Mariana, fenomena ini akan mengancam keberagaman di Indonesia, karena akan > menyeragamkan masyarakat pada satu bentuk busana saja. > > Sementara Gus Dur menyatakan bahwa kemajemukan bisa juga dimiliki oleh > orang yang besar dan lahir dari kultur tunggal. "Seperti saya yang lahir dan > besar di pesantren, orang tua saya juga pesanten, kultur yang tunggal juga > bisa menerima kemajemukan, yang penting apakah ia mau terbuka atau tidak," > ujar mantan Presiden RI ke-4 ini. > > Ketika sesi tanya jawab yang dikirim melalui pesan singkat dibuka, > terdapat satu pesan yang bertanya tentang maraknya masyarakat kita yang > mengenakan baju ala Arab seperti jubah dan cadar. " Itu menunjukkan gejala > kurang percaya diri dan lantas menganggap Arabisasi sama dengan Islamisasi," > respon Gus Dur terhadap penanya itu. > > Sementara bagi Mariana, busana ala Arab tidak sesuai dengan kondisi iklim > negeri Indonesia. "Tidak fashionable karena Indonesia kan negara tropis, > jadi ngga mungkin kalau harus meniru trend semacam itu," ujarnya menimpali > pernyataan Gus Dur. > > Selain itu pesan singkat juga dikirim dari Kupang yang menyatakan bahwa > jilbab merupakan kewajiban Islam karena ada dalam Al-Quran, dan ia juga > menilai berita jilbab kasus Padang yang disampaikan Mariana adalah "bohong > besar". Nampaknya pengirim pesan singkat tersebut geram dengan pernyataan > Mariana dan Gus Dur. " Biar saya saja yang menjawab," pinta Gus Dur sebelum > Mariana menanggapi pesan tersebut. "Orang Arab membedakan budak dan > majikannya itu dengan jilbab, dan tidak semua yang ada dalam Al-Quran bisa > dijadikan hukum" tegas Gus Dur. > > --------------------------------- > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it > now. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
