Mas
Ahmad Badrudduja,
Komentar
Anda bagus sekali. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Benar
bahwa situs tersebut mengusung semangat Kristenisasi dan tak lain merupakan
bagian dari proyek apologetik missionaris yang hendak melakukan konversi
(evangelism). Saya menyadari hal ini sudah sejak dari awal
mengamati buku-buku yang ada di sana. Kita dengan mudah sekali dapat menemui
buku-buku yang "mencibir" al-Quran, Muhammad saw, dan Islam. Tetapi,
buku-buku tersebut tidak bisa kita abaikan begitu saja, sebab penting bagi kita
untuk mengkritisi logika-logika mereka.
 
Selain menawarkan buku-buku apologetik, dalam situs
muhammadanism juga terdapat buku-buku kritis karya sarjana Muslim seperti
Khalafullah dan Khalil Abd al-Karim, sekaligus karya-karya orientalis, baik
yang objektifkarena semata-mata didorong sekadar memenuhi rasa ingin tahu 
(intellectual
curiosity)maupun yang subjektif. Yang sangat menyedihkan
adalah ketika saya melihat karya-karya kritis sarjana Muslim progresif,
sekaligus karya orientalis yang
hendak melakukan studi atas Islam dengan semangat scientific inquiryitu, 
kemudian "disalahgunakan" atau "ditumpangi"
oleh kepentingan Kristenisasi situs muhammadanism.
 
Saya juga sependapat dengan Anda bahwa orientalis
(atau lebih tepatnya "islamolog", sebab nomenklatur orientalis dan
orientalism sudah mengalami pelapukan pasca kritik Edward Said) tidaklah
monolitik. Orientalisme itu variatif. Edward Said pun, dalam bukunya 
Orientalism,
mengakui hal ini dengan statemen, "Jika Islamolog
Barat era Renaisans terbukti kaku dan memusuhi Islam, maka Islamolog abad
kedelapan belas menghadapi dunia Timur secara objektif. Tafsiran al-Qur`an dari
Goerge Sale merupakan contoh perubahan struktur paradigmatik orientalisme
modern. Tidak seperti para pendahulunya, Sale mencoba berurusan dengan sejarah
Arab dalam bahasa yang dipakai oleh sumber-sumber Arab. Lebih jauh, ia
membiarkan para penafsir Muslim berbicara atas nama mereka sendiri. Sale hendak
menjelaskan Islam yang sejati di Eropa". Dus, dengan berbekal statemen ini
sekaligus hasil pembacaan saya terhadap beberapa karya orientalis, maka sudah
bukan saatnya lagi kita melakukan generalisasi, memukul rata, atau
"nggebyah uyah" dalam menilai orientalism.
 
Saya juga mengamini pandangan Anda bahwa banyak
sekali para sarjana Barat dan non-Islam yang ingin menelaah Islam secara
ilmiah. Konklusi-konklusi mereka tak selalu bertentangan dengan kalangan
ortodoksi Islam, melainkan terkadang sejalan. Saat membaca Syriac
Influence on the Style of the Kur'ankarya Alphonse
Mingana (buku hasil download di situs muhammadism), misalnya, saya sedikit
"geli" ketika melihat dia meragukan keilahiaan sumber al-Quran. Tapi
hal ini wajar, karena pandangan itu muncul dari seorang Minganayang
latarbelakangnya adalah pendeta Kristen asal Iraq (guru besar di Universitas
Birmingham, Inggris). Tapi saya tidak bisa menutup mata bahwa ada banyak
pendapatnya yang "senada" dengan pandangan sebagian sarjana klasik. Dengan
menggunakan teori pinjaman dan pengaruh (theories
of borrowing and influence), ia berhasil menguak pengaruh bahasa Aramaic ke 
dalam al-Qur`an. Pendapat ini sejatinya  tidak jauh berbeda dengan pendapat 
Imam al-Wasithi bahwa kata
"al-Asfar", "Sajada", "al-Qayyum",
"Haun", "Alîm", dll. adalah asli bahwa Aramaic. Kajian ini
bukan hal baru, sebab para sarjana klasik telah sampai pada pendapat, misalnya,
kata "Ishri" (menurut Imam Abu Qasim), "Akwalib" (menurut
Ibn Jauzi), "Tatbir" (menurut Said bin Jubayr) adalah bahasa Nabatea.
Al-Dhahak, Ibn Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ahmad bin Hamdan al-Lughawi, al-Karmani,
al-Jawaliki, dan sederet salaf al-shalih bahkan berpandangan bahwa ada banyak
sekali bahasa Yunani, Persia, dll yang mempengaruhi bahasa al-Quran. Tentunya
setelah melalui proses "ta'rib".
 
Tetapi sayang, sebagian besar kalangan Islam keburu
alergi dengan karya-karya orientalis tanpa meneliti terlebih dahulu. Hal ini
besar kemungkinan karena ketidaksiapan umat Islam secara intelektual dalam
mensikapi keragaman. Kalau pun ada sikap respon balik dari kalangan Islam, maka 
kerap sekali hanya bernuansa emosional dan polemis.
 
Salam,
R-1
 
 
 
 
 
 
 
 
 


----- Pesan Asli ----
Dari: ahmadbadrudduja <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 3 Mei, 2008 20:10:32
Topik: [kmnu2000] Re: Download karya2 orientalis dan para sarjana progresif


Mas Irwan,
Situs yang anda ceritakan itu menarik, tetapi juga sekaligus
"mengecewakan" buat saya. Setelah saya buka, memang banyak karya
orientalis yang kritis. Tetapi semangat situs "Muhammadanism" itu
adalah kebencian pada Islam, seraya mendakwahkan Kristen. Dengan kata
lain, ini adalah situs untuk Kristenisasi.

Sekarang ini banyak saya jumpai situs-situs yang ditujukan ke pembaca
Arab dengan tujuan menjelek-jelekkan Islam dengan cara memakai
studi-studi kaum orientalis yang kritis pada Islam. Tujuan mereka
adalah untuk menyebarkan agama Kristen.

Menurut saya, ini adalah penyalahgunaan karya kaum orientalis.
Sebagaiamana kita tahu, kaum orientalis melakukan studi atas Islam
dengan semangat "scientific inquiry" atau penelaahan ilmiah. Kalau
mereka sampai kepada kesimpulan yang bertentangan dengan pendapat yang
telah mapan dalam Islam, itu bukan berarti mereka ingin menjatuhkan
Islam. Para sarjana tidak ada urusan dengan soal iman pemeluk suatu
agama; dia hanya bekerja dengan data-data yang ditelaah secara ilmiah.
Kesimpulan mereka bisa sama atau berbeda dengan kaum ortodoks.

Ada dua kesalahan fatal dalam menyikapi orientalisme. Pertama,
kalangan Islam yang marah-marah karena kajian orientalisme mencoba
mengusik tsawabit atau hal-hal yang sudah diandaikan "given" dalam
Islam. Pekerjaan orientalisme mereka anggap sebagai mu'amarah atau
konspirasi untuk -yuhaddid hushun al-islam min dakhiliha-, untuk
menhhancurkan Islam dari dalam.

Kesalahan kedua adalah sikap yang ditunjukkan oleh kuam Kristen
apolohetik seperti terlihat dalam situs Muhammadanism itu. Mereka
senang sekali dengan karya-karya orientalisme yang kritis pada Islam
dan memakainya untuk menjelek-jelekkan Islam, seraya mendakwahkan Kristen.

Metode kritik teks seperti dipakai oleh kaum orientalis terhadap Islam
juga dipakai oleh sarjana lain terhadap teks-teks Kristen. Hasilnya
sama saja: keduanya potensial menghasilkan kesimpulan yang menabrak
ortodoksi, baik dalam Islam atau Kristen. Jadi, kaum Kristen jangan
buru-buru gembira dulu saat membaca kajian kaum orientalis terhadap
teks Islam, sebab sarjana lain juga bisa memakai metode yang sama
dengan kaum orientalis itu untuk mengkaji teks Kristen. Bahkan,
teks-teks Kristen sudah terlebih dahulu dianalisis dengan menyakitkan
oleh metode modern.

Saya tidak suka dengan apologetika, baik dilakukan oleh pihak Muslim
atau Kristen. Saya menghargai kajian kaum orientalis yang semata-mata
ingin memakai metode ilmiah, tanpa dibebani oleh pretensi akidah
tetentu. Studi mereka berguna untuk umat agama manapaun, sebab
biasanya jika seseorang terikat dengan tradisi agama tertentu akan
gagal melihat kekurangan-kekurang an dalam dirinya. 

Ini juga terjadi pada hal-hal lain. Misalnya, studi sarjana Barat
tentang NU umumnya lebih baik ketimbang tulisan orang NU sendiri. Saya
katakan, umumnya. Sebab, sarjana Barat yang datang dari luar bisa
melihat hal-hal yang tak bisa dilihat oleh orang dalam NU sendiri.
Begitu juga, studi tentang Muhammadiyah, Persis, atau ormas-ormas
Islam yang lain oleh orang luar, biasanya lebih baik. 

Jadi, boro-boro membahayakan, kita butuh orientalisme untuk
menunjukkan beberapa hal yang kurang dalam diri kita yang tak kita
lihat selama ini. Dengan kata lain, orientalisme berguna untuk input,
masukan, guna kritik diri, bukan dipakai untuk menjelek-jelekkan agama
tertentu.

Semoga catatan pendek ini bermanfaat.

AB

--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "--::Irwan Masduqi::--"
<irwan_masduqi@ ...> wrote:
>
> http://www.muhammad anism.com/ Arabic/English/ english_default. htm
> 
> semoga bermanfaat.
> 
> salam,
> R-1
> www.irwanmasduqi83. blogspot. com
> 
> 
> 
>       ____________ _________ _________ _________ _________ ________ 
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers. yahoo.com/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

    


      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke