Setelah melihat, mendengar dan membaca pergolakan PKB yang tiada abis, saya 
kira sepatah dua patah kata perlu dituliskan. Mungkin ini bisa bentuknya keluh 
kesah, kejengkelan atau semangat yang perlu ditumbuhkan lagi. Semuanya 
bercampur aduk. Dan yang menjadi ketertarikan untuk dituliskan di sini adalah 
sisi keunikan PKB Cak Imin. Ini terlepas dari keputusan resmi nanti nya, siapa 
yang sah menyandang pimpinan PKB.

Beberapa sisi keunikan PKB Cak Imin antara lain saat MLB di Ancol kemarin 
dihadiri oleh sebagian kyai sepuh NU yang notabene mereka itu sebelumnya 
melawan PKB (Gus Dur – Cak Imin) bahkan sudah mendeklarasikan partai baru 
bernama PKNU. Kyai sepuh yang dimaksud adalah KH Dimyati Rais (Kendal) dan K.H. 
Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri). Apakah mereka berniat kembali ke PKB? 
Ataukah hanya sekedar memenuhi undangan Cak Imin saja untuk memberikan dukungan 
psikologis, seperti elit2 PBNU yang hadir juga di sana. Kita tidak tahu yang 
sebenarnya. Yang jelas, secara efek psikologis kehadiran mereka tentu saja 
memberi “kejutan” bagi para pecinta PKB di manapun, terlepas pendukung kubu ini 
itu.

Keunikan lain adalah cara penghormatan pro Cak Imin terhadap Gus Dur, yang 
berencana akan memasukkannya ke dalam struktur baru partai yaitu Dewan 
Mustasyar (meniru struktur NU). Yang jadi point, dewan baru ini tidak mempunyai 
kewenangan strategis atau mengikat, karena sifatnya hanya “ngemong” atau 
“menasehati”. Jadi kalau pun PKB Cak Imin yang menang (ini misalnya), Gus Dur 
yang dulu mereka benar2 jadikan “icon” dan “panutan” hanya menjadi “patung” di 
dalam partai. Usaha “mematungkan” Gus Dur ini semakin diperjelas dengan 
kehadiran pengganti Gus Dur di jabatan Ketua Dewan Syuro PKB Cak Imin yang 
baru, yaitu KH Azis Mansyur (Jombang).

Keunikan lain tentu saja adalah pola pelanggaran terang2an PKB Cak Imin 
terhadap khittah NU dengan mengkombinasikan orang2 struktural NU ke dalam LPP 
PKB. Mungkin niat dan maksud positifnya adalah merekatkan hubungan NU-PKB. 
Namun, bukankah PB NU secara tegas dalam muktamar NU memisahkan kedudukan PKB 
dan NU? Bukankah masih ada cara yang lebih elegan untuk merekatkan kembali 
NU/PKB seperti langkah cerdas Gus Dur mengadakan MASURA di kampung2?

Keunikan lain tentu saja jika PKB Cak Imin dinyatakan menang. Mengapa, karena 
sepanjang sejarah pergolakan kepemimpinan di PKB, selalu dimenangkan oleh kubu 
Gus Dur. Tentu bukan karena ketokohan Gus Dur semata, tapi tentu saja dengan 
melihat pendekatan hukum dan realitas politik yang ada. Pada kasus Cak Imin, 
bisa dibilang Cak Imin berjuang sendiri. Pendukung nya dari DPP tentu ada, tapi 
tak seberapa karena masih kalah banyak dengan pengurus dewan tanfidz di 
belakang Gus Dur, temasuk Dewan Syuro DPP juga dibelakang Gus Dur. Fraksi PKB 
di DPR pun dibelakang Gus Dur, termasuk DKN Garda Bangsa dan PPKB. Dan yang 
lebih serius adalah kepengurusan PKB Cak Imin yang baru pun masih menjadi tanda 
tanya, karena susunan itu hasil MLB tanpa melibatkan Dewan Syuro DPP.

Keunikan2 lain tentu lah ada, termasuk di kubu Gus Dur. Ya itu lah PKB, 
dilahirkan dengan berbagai keunikan. Bukankah keunikan itu kadang datang secara 
alami dan menjadi daya tarik tersendiri? 

Kini, mari kita lihat babak baru pergolakan PKB di Depkumham dan KPU. Dan tentu 
dari relung hati yang paling dalam, bersatulah PKB ! Realisasikan semboyan mu 
dan tegakkan darma bakti mu untuk bangsa.

---------------------
Maaf, kalau ada yang kurang berkenan
----------------------


Regards,

[EMAIL PROTECTED]
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke