Di Saudi, Islam model NU dimusuhi karena dianggap syirik. NU
mengkritiknya dengan pedas, dan menganggap mereka sebagai muslim2
radikal fundamentalis. Bahkan berdirinya NU sendiri sangat berhubungan
dengan itu. Apakah di negerinya sendiri NU akan melakukan sesuatu yang
dikritiknya itu?

Ada tanda-tanda ke arah itu. Pak Said Aqiel, faksi moderat di tubuh
PBNU, sudah memberi lampu hijau walau agak malu-malu. Katanya: "Boleh
saja ajaran Ahmadiyah dilarang. Tapi, ingat, keluarga Ahmadiyah
harus kita bina dan dilindungi, terutama hak hidupnya, aset, properti
dan kehormatannya,"

Di Jawa Timur, pusat kekuatan NU, lebih tegas lagi. Suara resmi sudah
dinyatakan: mendukukung pelarangan Ahmadiyah.

Ada yang tahu sikap Mbah Sahal?

================== 


PBNU Minta Umat Islam Tak Musuhi Ahmadiyah

http://www.nu.or.id/

Rabu, 7 Mei 2008 11:55

Pamekasan, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj meminta
kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tak memusuhi pengikut aliran
Ahmadiyah. Menurut dia, umat Islam harus tetap menghormati dan
melindungi para pengikut aliran yang difatwa sesat itu.

"Boleh saja ajaran Ahmadiyah dilarang. Tapi, ingat, keluarga Ahmadiyah
harus kita bina dan dilindungi, terutama hak hidupnya, aset, properti
dan kehormatannya," tegas Kang Said-begitu panggilan akrabnya-di
sela-sela silaturrahim dengan Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, di
Pendapa Ronggosukowati, Pamekasan, Madura, Jawa Timur Selasa (6/5)
kemarin.

Kang Said menjelaskan, membina warga Ahmadiyah berarti memberikan
pencerahan bahwa ajaran yang mereka anut menyimpang dari Islam. Agar
pencerahan diterima dengan baik, harus dilakukan dakwah secara bijak
dan santun.

Ia menambahkan, jika kebijakan tersebut diterapkan, pasti di antara
mereka ada yang sadar dan kembali ke ajaran Islam yang benar. Walau
nanti tidak 100 persen berhasil, tapi cara ini dia yakini mampu
mengembalikan kesadaran mereka.

"Selama ini, warga Ahmadiyah tidak pernah diberi pencerahan, tapi
dilarang disertai kekerasan dan diserang serta dikafir-kafirkan.
Bukankah sejak tahun 1980-an Majelis Ulama Indonesia sudah menyatakan
Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam tapi waktu itu tidak ada
kekerasan," tegasnya.

Di tempat terpisah, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menilai
pemerintah gamang dalam menghadapi aliran Ahmadiyah terkait dengan
rencana penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang
terus ditunda-tunda.

"Penyelesaian masalah ini tergantung pada political will (kehendak
politik) pemerintah. Kita memiliki Pancasila sebagai panduan, ada
ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan, ada persatuan. Ukuran-ukurannya
di situ," katanya.

Hasyim juga meminta agar keputusan yang dibuat oleh pemerintah
mempertimbangkan faktor keamanan bagi masyarakat dan bagi anggota
jamaah Ahmadiyah. "Keputusan yang dibuat jangan sampai malah
menimbulkan kekacauan," ujarnya. (rif/mkf/sy)

==============

Tolak Pelarangan Ahmadiyah, Wakil Rais Syuriyah NU Surabaya Diperingatkan
Jumat, 9 Mei 2008 07:08

Surabaya, NU Online
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya, H
Imam
Ghozali Said, diperingatkan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Pasalnya, ia
menolak pelarangan Ahmadiyah di Indonesia. Sikap itu dinilai tak sejalan
dengan kebijakan NU yang telah menegaskan bahwa Ahmadiyah menyimpang dari
Islam.

Karena itu, PWNU Jatim telah melayangkan surat kepada PCNU Surabaya pada
Kamis (8/5) kemarin. Surat tersebut berisi perintah agar PCNU memberikan
peringatan kepada Ghozali Said.

"Dimohon agar yang bersangkutan diberi peringatan agar konsisten dan dapat
sejalan dengan keputusan di dunia Islam dan di lingkungan NU sendiri,"
begitu salah satu bunyi surat tersebut.

"Kita meminta agar Cabang (baca: PCNU) Surabaya memanggil dan
memperingatkan
dia (H Imam Ghozali Said)," ujar Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Miftachul
Akhyar, kepada NU Online di kantornya, Jalan Masjid Al-Akbar Timur,
Surabaya, Kamis (8/5).

Kiai Miftach—begitu panggilan akrabnya—menjelaskan, surat tersebut
dikeluarkan untuk menghindari kesimpangsiuaran informasi mengenai sikap
resmi NU atas kasus Ahmadiyah. Ia juga tak ingin ada pengurus NU yang
berpendapat sesuka hati terkait aliran yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad
sebagai nabi tersebut.

Ghozali Said merupakan salah satu dari rombongan ulama dan kiai
se-Jawa yang
menemui Ketua DPR RI Agung Laksono di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/4)
lalu.

Dalam kesempatan itu, ia beserta sejumlah kiai lainnya meminta kepada
Agung
agar DPR membatalkan rencana pemerintah menerbitkan Surat Keputusan
Bersama
(SKB) tiga menteri terkait pembubaran Ahmadiyah.

Bahkan, Ghozali Said, menilai, tuntutan pelarangan Ahmadiyah merupakan
pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Menurutnya, Islam pun
menghargai kemanusiaan. "Kalau pemerintah tidak melindungi Ahmadiyah,
berarti negara gagal melindungi warganya," pungkasnya. (sbh/rif)



Kirim email ke