Bismilahirrahmanirrahiim

Kalau ulama2 melakukan perbuatan2 zolim dan menindas keyakinan orang lain., dan 
kemudian pemerintah berpihak kepada kezoliman, maka tunggulah laknat dari ALLAH 
swt.....karena yang menetukan sesatnya suatu jemaah hanya ALLAH saja QS.16:125.

Kalau Ahmadiyah di tindas,maka maka kemudian NU juga akan ditindas 
nantinya,karena NU dia nggap pula ajaran sesat tidak sesuai dgn ajaran wahhabi 
dan salaf....

Yang terjadi di Indonesia selanjutlanya adalah perebutan kekuasaan dan kemudian 
menindas golongan2 yang tdk sepaham....

Itulah kemehaan masarakat islam, bukannya salng tolong menolong dan saling kuat 
menguatkan tapi saling menindas satu sama lain..

bpk doakan semoga masih ada orang2 stand up untuk menegakan  kedamaian dan 
hidup yang harmonis di Indonesia yg kita cintai ini.

Wassalam

abdulghofur1 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             Di Saudi, 
Islam model NU dimusuhi karena dianggap syirik. NU
 mengkritiknya dengan pedas, dan menganggap mereka sebagai muslim2
 radikal fundamentalis. Bahkan berdirinya NU sendiri sangat berhubungan
 dengan itu. Apakah di negerinya sendiri NU akan melakukan sesuatu yang
 dikritiknya itu?
 
 Ada tanda-tanda ke arah itu. Pak Said Aqiel, faksi moderat di tubuh
 PBNU, sudah memberi lampu hijau walau agak malu-malu. Katanya: "Boleh
 saja ajaran Ahmadiyah dilarang. Tapi, ingat, keluarga Ahmadiyah
 harus kita bina dan dilindungi, terutama hak hidupnya, aset, properti
 dan kehormatannya,"
 
 Di Jawa Timur, pusat kekuatan NU, lebih tegas lagi. Suara resmi sudah
 dinyatakan: mendukukung pelarangan Ahmadiyah.
 
 Ada yang tahu sikap Mbah Sahal?
 
 ================== 
 
 PBNU Minta Umat Islam Tak Musuhi Ahmadiyah
 
 http://www.nu.or.id/
 
 Rabu, 7 Mei 2008 11:55
 
 Pamekasan, NU Online
 
 Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj meminta
 kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tak memusuhi pengikut aliran
 Ahmadiyah. Menurut dia, umat Islam harus tetap menghormati dan
 melindungi para pengikut aliran yang difatwa sesat itu.
 
 "Boleh saja ajaran Ahmadiyah dilarang. Tapi, ingat, keluarga Ahmadiyah
 harus kita bina dan dilindungi, terutama hak hidupnya, aset, properti
 dan kehormatannya," tegas Kang Said-begitu panggilan akrabnya-di
 sela-sela silaturrahim dengan Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, di
 Pendapa Ronggosukowati, Pamekasan, Madura, Jawa Timur Selasa (6/5)
 kemarin.
 
 Kang Said menjelaskan, membina warga Ahmadiyah berarti memberikan
 pencerahan bahwa ajaran yang mereka anut menyimpang dari Islam. Agar
 pencerahan diterima dengan baik, harus dilakukan dakwah secara bijak
 dan santun.
 
 Ia menambahkan, jika kebijakan tersebut diterapkan, pasti di antara
 mereka ada yang sadar dan kembali ke ajaran Islam yang benar. Walau
 nanti tidak 100 persen berhasil, tapi cara ini dia yakini mampu
 mengembalikan kesadaran mereka.
 
 "Selama ini, warga Ahmadiyah tidak pernah diberi pencerahan, tapi
 dilarang disertai kekerasan dan diserang serta dikafir-kafirkan.
 Bukankah sejak tahun 1980-an Majelis Ulama Indonesia sudah menyatakan
 Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam tapi waktu itu tidak ada
 kekerasan," tegasnya.
 
 Di tempat terpisah, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menilai
 pemerintah gamang dalam menghadapi aliran Ahmadiyah terkait dengan
 rencana penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang
 terus ditunda-tunda.
 
 "Penyelesaian masalah ini tergantung pada political will (kehendak
 politik) pemerintah. Kita memiliki Pancasila sebagai panduan, ada
 ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan, ada persatuan. Ukuran-ukurannya
 di situ," katanya.
 
 Hasyim juga meminta agar keputusan yang dibuat oleh pemerintah
 mempertimbangkan faktor keamanan bagi masyarakat dan bagi anggota
 jamaah Ahmadiyah. "Keputusan yang dibuat jangan sampai malah
 menimbulkan kekacauan," ujarnya. (rif/mkf/sy)
 
 ==============
 
 Tolak Pelarangan Ahmadiyah, Wakil Rais Syuriyah NU Surabaya Diperingatkan
 Jumat, 9 Mei 2008 07:08
 
 Surabaya, NU Online
 Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya, H
 Imam
 Ghozali Said, diperingatkan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Pasalnya, ia
 menolak pelarangan Ahmadiyah di Indonesia. Sikap itu dinilai tak sejalan
 dengan kebijakan NU yang telah menegaskan bahwa Ahmadiyah menyimpang dari
 Islam.
 
 Karena itu, PWNU Jatim telah melayangkan surat kepada PCNU Surabaya pada
 Kamis (8/5) kemarin. Surat tersebut berisi perintah agar PCNU memberikan
 peringatan kepada Ghozali Said.
 
 "Dimohon agar yang bersangkutan diberi peringatan agar konsisten dan dapat
 sejalan dengan keputusan di dunia Islam dan di lingkungan NU sendiri,"
 begitu salah satu bunyi surat tersebut.
 
 "Kita meminta agar Cabang (baca: PCNU) Surabaya memanggil dan
 memperingatkan
 dia (H Imam Ghozali Said)," ujar Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Miftachul
 Akhyar, kepada NU Online di kantornya, Jalan Masjid Al-Akbar Timur,
 Surabaya, Kamis (8/5).
 
 Kiai Miftach—begitu panggilan akrabnya—menjelaskan, surat tersebut
 dikeluarkan untuk menghindari kesimpangsiuaran informasi mengenai sikap
 resmi NU atas kasus Ahmadiyah. Ia juga tak ingin ada pengurus NU yang
 berpendapat sesuka hati terkait aliran yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad
 sebagai nabi tersebut.
 
 Ghozali Said merupakan salah satu dari rombongan ulama dan kiai
 se-Jawa yang
 menemui Ketua DPR RI Agung Laksono di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/4)
 lalu.
 
 Dalam kesempatan itu, ia beserta sejumlah kiai lainnya meminta kepada
 Agung
 agar DPR membatalkan rencana pemerintah menerbitkan Surat Keputusan
 Bersama
 (SKB) tiga menteri terkait pembubaran Ahmadiyah.
 
 Bahkan, Ghozali Said, menilai, tuntutan pelarangan Ahmadiyah merupakan
 pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Menurutnya, Islam pun
 menghargai kemanusiaan. "Kalau pemerintah tidak melindungi Ahmadiyah,
 berarti negara gagal melindungi warganya," pungkasnya. (sbh/rif)
 
 
     
                                       

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke