Potret buram pers Arab

Oleh: Arwani Syaerozi

TV Aljazirah sebagai "corong informasi" dunia Islam dan Arab yang sudah 
go-internasional, saat ini sedang menghadapi problem. Pasalnya, pada hari 
Selasa (6/5/08) stasiun relai di Rabat Maroko yang khusus memberitakan wilayah 
Maghrib Arabi (Barat Arab) dilarang mengudara oleh pemerintah Maroko dengan 
tanpa penjelasan motifnya.

Hari-hari ini, “akhbar maghribiyah” (berita seputar barat Arab), disiarkan 
langsung dari stasiun pusatnya di Doha Qatar, ada kemungkinan stasiun relai 
yang di Rabat Maroko akan dipindahkan ke Madrid Spanyol (lihat: 
www.almassae.press.ma), hingga saat ini masih dikaji segala persiapannya dan 
dalam waktu dekat akan direalisasikan.

Spontanitas, mungkin kita bertanya-tanya, mengapa tidak dipindah ke Tunisia, 
Aljazair atau Mauritania saja? bukankah tiga negara tersebut merupakan anggota 
"Maghrib Arabi", yang secara geografis berada di kawasan? secara kultur dan 
emosional juga Arabian? lagi-lagi kasus "penutupan paksa" pernah dialami TV 
Aljazirah di negara-negara tersebut. Padahal, di tiga negara tadi bukan berupa 
stasiun relai akan tetapi hanya berupa kantor cabang (koresponden).

Spanyol dipilih untuk dijadikan sebagai base camp TV Aljazirah di wilayah 
"barat Arab", dengan alasan dekat dengan wilayah, dan secara history, pernah 
masuk dalam peta regional "Barat Arab", saat bangsa Arab berkuasa dalam rentang 
waktu (711-1492 Masehi)

Semsetinya, komunitas Arab bangga atas pengakuan dunia internasional terhadap 
TV Aljazirah, dimana ia dijadikan rujukan berita di samping BBC dan CNN. Paling 
tidak, pemerintah negara-negara Arab memberikan support dengan membuka 
selebar-lebarnya bagi aktivitas Aljazirah. Namun, kekritisan Aljazirah dalam 
pemberitaan sepertinya telah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi para pimpinan 
negara Arab.

Maka, Apa pun alasan pemindahan stasiun Aljazirah dari Rabat Maroko ke Madrid 
Spanyol, saya hanya bisa mengambil satu kesimpulan, bahwa; kebebasan pers di 
mayoritas negara Arab masih jauh dari yang dibayangkan, pertanyaan yang 
kemudian muncul adalah: mampukah Aljazirah terus memposisikan diri sebagai 
pusat rujukan berita dengan semangat obyektifitas dan kekritisannya di tengah 
tekanan-tekanan para penguasa Negara Arab? Wallahu A'lam.

www.arwani-syaerozi.blogspot.com


Jabat erat

Arwani Syaerozi
Rabat-Maroko

www.arwani-syaerozi.blogspot.com

Kirim email ke