ETELAH mengalami 'mati suri' lebih dari 20 tahun, kini 'LESBUMI' atau Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia dibangkitkan kembali. Lembaga seniman dan budayawan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) ini diaktifkan lagi atas keputusan 2 muktamarnya NU tahun 1999 dan 2004.
Tahun 2004 boleh dibilang sebagai 'Tahun Kebangkitan Lesbumi' di persada nusantara. Para seniman dan budayawan NU di berbagai daerah berkumpul dan melebur di Lesbumi dengan membuat berbagai kegiatan, termasuk sejumlah seniman dan budayawan NU di Yogyakarta. Beberapa nama seniman Yogya yang tampaknya kini bersemangat 'menghidupkan' Lesbumi tercatat M Jaddul Maula, Agus Sunyoto, Memet Khaerul Slamet, Sumpeno, Farid Mustav, Wibie Maharddika, Takdirotun Musfroh, Anis Masduki, Kahi Habeb, Aguk Irawan, Robert Nasrullah dan Karseno serta masih ada seniman lainnya, termasuk pendongeng kondang Kak Wees. Kebangkitan Lesbumi rupanya menarik perhatian Direktur Eksekutif Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan (LKP2) Fatayat NU DIY, Choirotun Chisaan. Untuk itu membuat tesis di Program Magister Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma. Tesis ini telah dijadikan buku dan baru saja diedarkan di masyarakat. Menurut Entis, panggilan akrab Choirotun Chisaan, dunia seni budaya bukanlah hal yang asing bagi NU. Namun kehadiran Lesbumi bukanlah satu-satunya penanda ketidakasingan tersebut. Sebab, jauh sebelum Lesbumi hadir, kehidupan seni budaya di lingkungan NU telah tumbuh dengan subur dalam sebuah tradisi. "Dengan perkataan lain, kehadiran Lesbumi bukan merupakan titik awal perjumpaannya dengan dunia seni budaya, melainkan upaya lebih lanjut memperkaya ragam seni budaya yang sebelumnya telah hidup di lingkungan NU," kata Entis saat acara bedah buku karyanya yang berjudul 'Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan', Sabtu (3/5) di toko buku Togamas Gejayan. Dalam memperkaya ragam seni budaya, kata Entis, ini menyangkut dunia seni budaya modern dan mengecualikan Lesbumi yang menjadi modern. Lesbumi menjadi jembatan penghubung modernitas yang pada awal-awal berdiri menghadapi tantangan terbesar yaitu mencari bentuk yang fleksibel bagi hubungan-hubungan antara agama, seni dan politik. Lesbumi yang lahir pada 28 Maret 1962, menurutnya menarik untuk dipelajari lantaran berpengaruh pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam NU dan kehidupan kebudayaan di Indonesia seiring dengan proses pembentukan negara-bangsa dan pertumbuhan kompleksitas masyarakat. Lesbumi hadir pada saat Presiden Sukarno mengimajinasikan kesatuan 'Nas-A-Kom' sebagai kekuatan politik. Jadi, kata Entis, identitas Lesbumi juga dikontruksikan dalam bingkai trilog tersebut. Bagi Lesbumi, identitas keagamaan atau keislaman menjadi persoalan yang sangat serius. Apalagi seniman budayawan seperti Djamaludin Malik, Usmar Ismail dan Asrul Sani (para tokoh Lesbumi) telah mengeluarkan banyak karyanya sebelum mereka ditahbiskan menjadi 'seniman budayawan muslimin', sekalipun pengertian tentang 'kebudayaan Islam', 'seni Islam' dan 'seniman budayawan Islam' berhasil dirumuskan. "Namun proses negosiasi masih terus dilakukan antara seniman budayawan dan NU pada saat itu," katanya. Jadi, menurut Entis, Lesbumi sebenarnya merupakan proses-sedang-menjadi hingga meletus 'Peristiwa 30 September 1965'. "Kalau sekarang Lesbumi diaktifkan kembali, proses-sedang-menjadi apa yang akan ditempuh dan menjadi pilihan Lesbumi?" [Non-text portions of this message have been removed]
