Ass. Wr. Wb.

Saya mengucapkan selamat untuk warga dan pengurus PCI NU UK. Pagi ini di NU 
Online diberitakan bahwa KH Nahduddin Royandi Abbas, Rais Syuriah PCI NU UK 
mendapat amanat sebagai Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon menggantikan KH 
Abdulllah Abbas.

Semoga beliau dikaruniai Allah SWT kekuatan lahir batin dalam menunaikan tugas.
Dan semoga pesantren Buntet makin berkembang luas mengibarkan ajaran Islam ala 
ahlussunnah wal jama'ah di bawah naungan Nahdlatul Ulama'.

Ada yang tau email atau telp beliau ?

Wassalam
Agus Zainal Arifin
Fakultas Teknologi Informasi, ITS Surabaya

KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet 
Jumat, 16 Mei 2008 10:20 
 Jakarta, NU Online
Pondok pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat kini telah memiliki pengasuh baru 
setelah meninggalnya KH Abdullah Abbas. Adik kandungnya yang terakhir, KH 
Nahduddin Royandi Abbas kini menggantikan posisinya sebagai tokoh sentral di 
ponpes tersebut.

Putra ke tujuh dari tujuh bersaudara ini memang kurang dikenal karena 
perjalanan hidupnya lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Sejak tahun 1954 
saat usianya masih 18 tahun, ia sudah berangkat ke Arab Saudi untuk menimba 
ilmu agama. Diantara guru-gurunya adalah Syeikh Yasin Padang dan Syeikh Hamid 
al Banjari. Di negeri kaya minyak itu, ia tinggal selama lima tahun.

Selanjutnya, mulai tahun 1959 ketika usianya menginjak 23 tahun, ia pergi ke 
London Inggris untuk bekerja sebagai diplomat RI. Ia juga sempat bekerja di PT 
Aneka Tambang. Di kota yang dialiri sungai Thames ini, dakwah Islam tak pernah 
ditinggalkan, terutama kepada muslim warga negara Indonesia yang tinggal di 
sana. Ia juga menjadi rais syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU United 
Kingdom (UK).

“Seandainya masih ada yang lain, saya tak mau menduduki posisi kakak saya di 
pesantren ini,” katanya merendah ketika ditemui NU Online di Gd. PBNU seusai 
pertemuan alumni santri Buntet di Jakarta, Kamis (16/5).

Dengan penuh semangat ia menuturkan, pesantren Buntet akan terus dikembangkan, 
terutama pendidikan formalnya seperti sekolah tinggi ilmu kesehatan, yang 
sebelumnya hanya akademi keperawatan. Sekolah-sekolah yang bersifat kejuruan 
yang memberi bekal ketrampilan kepada siswa menjadi prioritas lainnya di masa 
mendatang.

“Tapi tentunya tidak melupakan pengajian kitab kuning, ini tetap berjalan 
sebagaimana biasanya,” ujarnya.

Jumlah santri yang belajar di pesantren Buntet sekarang berkisar 5000 orang. 
Puluhan ribu alumninya saat ini sudah tersebar di seluruh Indonesia. Pertemuan 
alumni yang diselenggarakan di Gd. PBNU Kamis kemarin dihadiri oleh para alumni 
mulai dari tahun 1970-an sampai tahun 2000-an dengan berbagai latar belakang 
profesi.

Meskipun saat ini sudah berusia 72 tahun, ia masih terlihat sehat, enerjik dan 
penuh semangat. Penampilan yang rapi selalu menyertainya kemanapun ia pergi. 
“Saya ini masih muda lho, Presiden Mesir Husni Mubarok kemarin saja baru 
merayakan ulang tahun ke 80-nya. Saya juga masih ada kesempatan,” katanya 
dengan penuh canda. 

Ia mengaku masih akan bolak balik London-Jakarta untuk menyelesaikan berbagai 
urusan. Kedatangannya ke Indonesia juga baru sekitar satu bulan. Saat ini ia 
tinggal di komplek pesantren Buntet. (mkf)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke