Jurnal Sairara:
DEFENDS TON IDENTITE
Sebuah segiempat 30 X 30 cm, ditengah-tengahnya terdapat gambar sebuah tinju
diacungkan. Di atas tinju ini tertera kata "Defends" [ Bela] sedangkan di
bagian bawah, tercantum kata "Ton Identité" [Identitasmu]. Gambar sablon hitam
putih ini disemprotkan di mana-mana di permukaan jalan-jalan kilometer nol
kota Paris. Jalan-jalan yang paling banyak dilalui orang, terutama jalan-jalan
yang terletak di Rive Droite [Tebing Kanan] Sungai Seine, sungai yang membelah
ibukota Perancis.
Sambil berjalan menuju ke tempat pekerjaan, aku merenungkan sablon tinju dan
kata-kata yang tertera di atasnya: "Defends Ton Identité". Mengapa seruan
membela identitas ini muncul sekarang. Apa latarbelakangnya?
Sebelum sampai ke tempat pekerjaan, di beberapa jalan di Kartir Latin [Le
Quartier Latin], sebuah kartir bersejarah dimana janin "eksistensialisme"
dilahirkan. Kartir yang secara tradisional menjadi pusat unjuk rasa para
mahasiswa-pelajar. Di kartir ini pulalah Revolusi Mei 1968 yang menggoyahkan
pemerintahan Jendral Charles de Gaulle dan "memberi wajah baru bagi Perancis.
Tapi Nicolas Sarkozy, Presiden Perancis yang dipilih dengan suara relatif
mutlak pada pemilu Mei 2007 lalu dalam kampanye presidensialnya, memandang
Revolusi Mei 1968 sebagai rendah dan bahkan tidak berguna bagi Perancis. Untuk
menjawab Sarkozy maka pemikir-pemikir Perancis yang langsung terlibat dalam
Revolusi Mei 1968 telah menulis beberapa buku, baik secara perorangan mau pun
secara kolektif. Mengenang Revolusi Mei 1968, di Place de Sorbonne yang
terletak di pusat Paris, diselenggarakan pameran foto tentang peristiwa
bersejarah. Orangtua-orangtua datang membawa anak-anak mereka dan menjelaskan
kepada mereka tentang peristiwa besar yang "mengobah wajah Perancis". Salah
satu cara orang Perancis untuk mengasuh anak-anak mereka agar tidak melupakan
sejarah,tahu sejarah dan sadar sejarah agar tidak menjadi generasi tanpa
sejarah, lepas sejarah dan atau hilang sejarah.
Dalam kampanye presidensialnya Sarkozy menjanjikan kesejahteraan bagi rakyat
Perancis dengan meningkatkan daya belinya. Menjanjikan modernisasi Perancis di
berbagai bidang seperti pendidikan jaminan kesehatan, hari tua, dan lain-lain,
dan lain-lain.... Pendeknya Sarkozy menjanjikan bersama dia maka akan lahir
Perancis Baru yang sejahtera dan cemerlang di antara bangsa-bangsa di dunia.
Setelah setahun berlalu, rakyat Perancis mendapatkan janji-janji manis itu
berhadapan dengan kenyataan yang menghasilkan sesuatu yang sebaliknya. Daya
beli [le puvoir d'achat] rakyat Perancis makin merosot.
Di pinggiran Paris, di mana terdapat banyak tokotoko besar bahan makanan,
penduduk sekitarnya menunggu toko-toko tersebut tutup dan membuang
makanan-makanan, sayur-sayuran, dan lain-lain yang tidak lagi layak jual.
Mereka berlomba-lomba memungut barang-barang ini. Inflasi meningkat, gaji
terasa makin mepet. Apakah keadaan begini ini memperlihatkan meningkatnya daya
beli? Ataukah sebaliknya?
Dari segi pekerjaan, atas nama reformasi, ribuan guru-guru akan dipecat. Dari
segi politik dan kebudayaan rakyat, melihat bahwa Perancis oleh Sarkozy
diamerikanisasikan. Apalagi Sarkozy menyatakan akan lebih aktif di NATO --
NATO yang oleh Charles de Gaulle ditolak untuk bermarkas di Perancis.
Unjuk rasa demi unjuk rasa, pemogokan demi pemogokan , apalagi kritik tajam
terbuka di media massa , makin menjadi-jadi setelah setahun Sarkozy menduduki
kursi Presiden Perancis. Jarak antara janji pemilu dan kenyataan, barangkali
bisa dilihat dari popularitas Sarkozy seperti ditunjukkan oleh pengumpulan
pendapat umum [sondage]. Menurut sondage terakhir, popularitas Sarkozy merosot
dari 60% lebih menjadi hanya 30%. Sarkozy secara sinis disebut oleh semua media
massa negeri ini sebagai "Presiden daya beli" [le president du pouvoir
d'achat]. Kekecewaan pada Sarkozy ini lebih nyata lagi pada hasil pemilihan
kotapraja [municipal] seluruh Perancis, di mana partai-partai kiri menang
telak. Hasil pemilihan munisipal nasional ini oleh media massa disebut sebagai
"pemilihan hukuman" pada Sarkozy dan UMP , partai yang sekarang berkuasa.
Unjuk rasa yang yang kulihat memenuhi beberapa jalan di Kartir Latin hari ini
sambil merenungkan arti sablon "Defends Ton dentité", hanyalah bagian kecil
saja dari ujuk rasa anti kebijakan pemerintah dalam berbagai bidang yang
dirasakan sangat merugikan rakyat Perancis. Tanggal 20an Mei yang akan datang
diumumkan melalui media massa akan terjadi pemogokan transpor publik yang
besar.
Adanya sablon yang menganjurkan agar Perancis membela identitas nasionalnya,
kuduga tidak lain dari reaksi perlawanan dari masyarakat bawah terhadap politik
Amerikanisasi Perancis oleh Sarkozy. Masyarakat lapisan bawah yang tak punya
akses ke media massa akhirnya menggunakan permukaan jalan, tembok-tembok kota,
ruang-ruang terbuka yang disebut la place, untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan mereka. Pengungkapan pikiran dan perasaan secara leluasa melalui
berbagai cara dan sarana dari lapisan bawah serta berbagai kalangan, dari segi
lain, bisa dipahami sebagai ujud dari tingkat kesadaran berkewarganegaraan
mereka. Ujud dari kesadaran civic. Salah satu ciri dan contoh dari identitas
Perancis juga.
Indonesia. Indonesia-ku. Apakah seruan untuk "Defends Ton Identité" [Membela
Identitasmu] menjadi pertanyaan juga bagimu, o tanahair? Seberapa jauh
kesadaran civic ini kau miliki, wahai tanahairku? Tinju teracung dalam sablon
permukaan jalan Paris menyertai kata-kata "Defends Ton Identité", adalah tinju
kesadaran. Tinju wawasan. Tanahair, adakah tinju-tinju demikian diacungkan oleh
putera-puterimu, sebagai penanggungjawab timbul-tenggelamnya bangsa dan negeri?
Yang kudengar dan kulihat dari kembara jauhku, jalan-jalan riuh gemuruh suara
kecupetan, kobaran api kebakaran dan kekerasan tak jelas jentrungan arah
tujuannya. Tanahair terasa makin menjadi ruang sempit pengap, penuh asap rokok.
Menyesakkan paru-paru. Di hadapan keadaan begini, kau Rara, kau masih saja
tersenyum menjaga dan percaya pada asa.
Demikiankah, inikah identitas kita? Apa bagaimanakah identitas kita?
Pertanyaan inilah yang tersisa dan membuntut mengusikku setelah melihat sablon
" Defends Ton Identité" di permukaan jalan-jalan kilometer nol kota Paris, kota
di mana aku masih bertenda.****
Paris, Mei 2008
---------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]