Amin, salah pendapatmu. 

tidak semuanya bisa SALING MEMASUKI.
contohnya hubungan laki-laki dengan perempuan. dalam hubungan lak-laki 
perempuan tidak berlaku faidah MUSYAROKAH. karena yang bisa MEMASUKI hanya 
laki-laki. dalam berhubungan,  perempuan SELALU menjadi maf'ul, dimasuki. 
makanya, tidak dijumpai "tadakhola" utk menyatakan hubungan laki-laki 
perempuan. tp cukup "dakhala bi..."
hehehehe....

Bukankan begitu mas  baso? saya kira mas ulil, kiai maruf amin, dll, juga 
sependapat.

utk Anam, saya ucapkan selamat, Anda telah jadi fa'il. kecuali Anda belum 
berhasil memasuki.


salam,

hamz`

----- Original Message ----
From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, May 19, 2008 3:08:12 PM
Subject: RE: [kmnu2000] MUI Telah 'Dimasuki' Kelompok Islam Transnasional


Jangan-jangan memang wis jamane saling memasuki...: -)

Kyai hasyim harusnya sadar perkembangan teknologi
informasi-telekomun ikasi luar biasa pesatnya, jadi yg namanya
transnasional dengan bermacam bentuknya (agama, kultur, hobi, olahraga,
ekonomi, dst) juga dengan sendirinya akan ikut serta.

Sekarang yg namanya nonton bola dari semua Negara bisa ditonton
langsung, dari liga inggris, jerman, spanyol, Italia, belanda, prancis,
amerika, sampai gempor tuh mata...nonton astro atau indovision atau yg
lain...hehe.

Btw, untuk liga champion saya ndukung Chelsea ketimbang MU...

Salam,

____________ _________ _________ __

From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On
Behalf Of abdulghofur1
Sent: Sunday, May 18, 2008 1:24 PM
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: [kmnu2000] MUI Telah 'Dimasuki' Kelompok Islam Transnasional

Jangan-jangan, NU sendiri juga sudah dimasuki Islam Transnasional :-)

NU online: 

PBNU: MUI Telah `Dimasuki' Kelompok Islam Transnasional
Sabtu, 17 Mei 2008 09:30
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi
menyatakan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah `dimasuki' orang-orang
dari kelompok Islam berhaluan transnasional (gerakan politik
antarnegara) . Hal itu terjadi saat era reformasi dan ideologi dari
luar dibiarkan bebas masuk ke Indonesia.

Sejak saat itulah, kata Hasyim, bangsa Indonesia, khususnya umat
Islam, mulai mengenal gerakan Islam liberal dan Islam garis keras.
"Mulai itulah, kita mengenal, misal, Jaringan Islam Liberal, Al-Qaeda,
Majelis Mujahidin, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan sebagainya,"
terangnya.

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke