Jurnal Sairara:
DUA PULUH TAHUN INSTITUT DAYAKOLOGI
Hari ini 21 Mei 2008, Insttitut Dayakologi [ID], tepat berusia 20 tahun. ID
bermula dari sebuah kelompok diskusi antar beberapa cendekiawan muda Dayak di
Pontianak yang prihatin dan memikirkan keadaan masyarakat Dayak, di antara
mereka adalah Mecer, pengajar pada Universitas Tanjungpura, Stepanus Djuweng,
sarjana bahasa Ingris, mantan orang pertama ID, John Bamba, sekarang
penanggungjawab utama ID.
Dari komposisi anggota awal janis ID ini, yang ingin kugarisbawahi adalah
peranan cendekiawan engagé [berkomitmen manusiawi] dalam pemberdayaan dan
pembangunan masyarakat untuk keluar dari keterpurukan. Komitmen manusiawi akan
membawa para cendekiawan turun dari menara gading mereka dan langsung menyatu
dengan masyarakat baik di hulu, di muara sungai, atau yang jauh terletak di
pegunungan yang sunyi. Tanpa komitmen kuat dan kesetiaan pada komitmen ini,
kiranya, tidak mungkin ada kesanggupan demikian. Tanpa komitmen yang disetiai
dan dikhayati, maka ide-ide baik hanya akan jadi kata-kata di kertas yang makin
menguning dan lusuh dari hari ke hari. Terpisah kata dan perbuatan, kata yang
tak dikhayati akan membuat para cendekiawan, yangcepat atau lambat
mengkhianati diri sendiri, mengingkari kata-katanya sendiri, tak obah seekor
kuda yang tersuruk di tengah jalan. Padahal daya tahan seekor kuda diuji dalam
perjalanan jauh.
Pertanyaan kunci yang dibicarakan dalam kelompok diskusi awal ini, janin dari
ID, adalah: Apakah keterpurukan masyarakat Dayak merupakan hal yang fatal?
Merupakan nasib ataukah suatu hasil perkembangan? Bagaimana kongkretnya keadaan
masyarakat Dayak sekarang? Apa-bagaimana jalan keluar dari keterpurukan ini
jika ia tidak merupakan takdir, bukan nasib dan bukan hal fatal?
Setelah menganalisa keadaan masyarakat dan sepakat bahwa keterpurukan
bukanlah takdir, dan bukan pula nasib, lebih-lebih lagi pula hal yang fatal,
tapi ada jalan keluar dengan semangat kemandirian, maka cendekiawan-cendekiawan
muda ini berkeputusan untuk membentuk sebuah lembaga yang dinamakan Institute
Dayakology for Research and Development [IDRD]. Nama ini beberapa tahun
kemudian dirobah menjadi Institut Dayakologi. Tanpa mengobah misi dan visinya.
Progam jangan pendek, menengah dan panjang pun disusun yang dijadikan patokan
bagi kegiatan-kegiatan membawa masyarakat Dayak keluar dari keterpurukan. ID
adalah sarana untuk melaksanakan konsep yang diperoleh dan dirumuskan melalui
diskusi-diskusi panjang dan sengit.
Wacana, organisasi dan program agaknya merupakan tingkat-tingkat
perkembangan yang dilalui oleh ID. Wacana, organisasi ini pun terus-menerus
disempurnakan dari saat ke saat agar selalu tanggap zaman dan aspiratif.
Wawasan dikembangkan terus-menerus melalui belajar tanpa lelah. Belajar dalam
arti luas, baik dari buku, pengalaman orang lain, dari proses "trial and
error", dari kehidupan nyata.
Dari nama semula yaitu IDRD, sebenarnya bisa dilihat kerangka ide dan
program yang dijadikan pegangan oleh ID. Dayakologi, jika pemahamanku benar,
mau memperlihatkan bahwa lembaga ini menitik beratkan masalah masyarakat Dayak
sebagai pusat perhatian dan pekerjaan. Dan masalah Dayak dihadapi dan
depecahkan secara logos, secara nalar, tidak emosional. Agar bisa bersikap
nalar maka harus bersikap mencari kebenaran dari kenyataan. Untuk mengenal
kenyataan diperlukan penelitian [research] lapangan yang intensif dan
sunguh-sungguh. Tujuannya: membangun masyarakat Dayak bertolak dari
pemberdayaan agar manusia Dayak bisa menjadi aktor aktif usaha pemberdayan dan
pembangunan diri dan masyarakat. Pembangunan tanpa didasarkan pada pemberdayaan
di mana anggota masyarakat hanya menjadi obyek dan bukan subyek atau aktor
pemberdayaan diri, kiranya akan tidak mencapai tujuan pembangunan yang hakiki.
Dalam usaha pemberdayaan dan pembangunan agar keluar dari keterpurukan, agar
manusia Dayak menjadi aktor sendiri dari pemberdayaan dan pembangunan, maka ID
mengawali kegiatan dengan proses yang disebut oleh Paulo Freire sebagai proses
penyadaran [conscientization process].
Guna menyebarkan ide-ide dan kegiatan, sejak dini menerbitkan sebuah bulanan
bernama Kalimantan Review [KR] yang sekarang mencapai oplag 20.000 eksemplar.
Sementara itu bagian penerbitan ID menerbitkan karya-karya sastra dan hasil
penelitian mereka yang kemudian digunakan sebagai bahan mengisi program muatan
lokal dalam dunia pendidikan di Kalimantan Barat. Sejak terjadinya musibah yang
meratakan 6 pintu kantor ID tahun ini, dan semua hasil riset selama 20 tahun,
KR kemudian dicetak oleh Tempprint Jakarta. KR dimulai dalam bentuk sangat
sederhana yaitu fotokopian. Sangat jauh berbeda dengan tampilannya sekarang
yang tak kalah dibandingkan dengan majalah mana pun di Indonesia sekarang.
Kebakaran yang menghanguskan gedung, percetakan, domumen, hasil-hasil riset 20
tahun, sangat memukul anggota ID. Mereka seperti harus mulai dari awal lagi.
John Bamba dengan susah payah meyakinkan para anggota agar tidak kehilangan
semangat. "Dahulu kita mulai dari nol, mengapa di hadapan
musibah ini kita takut memulai lagi segalanya?Apakah kita masih mempunyai
semangat kemandirian dan kegagahan Dayak kita?", ujar John Bamba. "Kita sudah
mencapai hasil-hasil tertentu. Artinya syarat kita beda sekali dari saat kita
mulai membangun ID". Dari sisa-sisa dokumen dan hasil riset 20 tahun, beberapa
hari lalu telah diluncurkan di Pontianak sebuah buku tentang ethno-linguistik
di Kalbar setebal seribuan halaman dan dinilai oleh pers lokal sebagai buku
terbaik pernah diterbitkan tentang Dayak. Dua puluh tahun ID melakukan riset
desa per desa tanpa kecuali. Melakukan pendataan tentang desa-desa tersebut.
Hasil riset inilah yang punah dimakan api.
Dalam waktu dekat, KR berencana untuk menerbitkan KR edisi khusus untuk
Kalimantan Timur. "Mengapa tidak suatu saat yang sesuai syarat, kita terbitkan
KR khusus Kalimantan Tengah?", ujar John Bamba kepadaku dalam jumpa singkat
kami di Paris bulan Mei ini. Ide John Bamba ini kukembalikan sebagai tantangan
kepada teman-teman, terutama yang Dayak, di Kalimantan Tengah.
Sebagai majalah bulanan dengan oplag 20.000 eksemplar, tentu saja ia sudah
bisa membeayai diri sendiri. Kemampuan membeayai diri sendiri begini
memperlihatkan kemampuan mengelola usaha dan adanya profesionalisme di kalangan
ID. Idealisme dan profesionalisme mereka yakini tak bisa dipisahkan. Tanpa
profesionalisme, kiranya , usaha tidak mungkin berkembang sehat dan berjangka
panjang.
Kegiatan pemberdayaan dan pembangunan untuk keluar dari keterpurukan yang
dilakukan oleh ID tidaklah pertama-tama dimulai dari uang. Tapi dari
kerampungan wawasan, dari adanya konsep yang kemudian diejawantahkan
menggunakan organisasi sebagai sarana. Mulai dari adanya manusia yang
berwawasan. Manausia inilah kemudian yang mencari dana untuk membeayai kegiatan
pemberdayaan dan pembangunan. Dan dana ini didapat terutama melalui masyarakat
Dayak itu sendiri yang berhimpun di sekitar Credit Union [CU], semacam bank
kredit simpan-pinjam dari, oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Berawal
dari saham seribuan rupiah, sekarang aset CU Pancur Kasih sudah mencapai
miliaran rupiah. CU berbeda dengan Koperasi. Sifat sosial CU jauh lebih nyata.
Karena itu CU Pancur Kasih berharap agar UU Koperasi tidak memungut pajak
terhadap CU karena pajak demikian hanya memukul usaha swadaya masyarakat bawah
guna keluar dari keterpurukan.
Dari pengalaman 20 tahun lebih ini, aku melihat bahwa ID adalah sebuah
lembaga think-tank komunitas Dayak Kalbar tetapi juga sebuah lembaga
pemberdayaan dan pembangunan serta pusat kegiatan penelitian.
Kegiatan-kegiatannya dengan pendekatan kebudayaan dan ekonomi kongkret,
relatiff telah menjawab kepentingan-kepentingan dasar para anggota ID dan CU.
Mereka mampu membantu para anggota dengan jaminan kesehatan, hari tua, dana
pendidikan untuk anak-anak mereka, mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi
untuk hidup layak, mendapatkan rumah kediaman betapa pun sederhananya. Dari
pengalaman ini dan pengalaman-pengalaman di daerah lain di berbagai bidang, aku
masih melihat bahwa betapa pun runyamnya keadaan negeri, tanahair ini masih
tetap merupakan tempat di mana kita bisa berharap. Manusia masih ada di negeri
ini. Manusia belum mati.
Selamat berulang tahun ID. Ulangtahun ke-20 ini barangkali merupakan titik
pijak baru melangkah ke depan lebih jauh setelah mengebas debu-debu duka
musibah kebakaran baru lalu. Sebagai anak Katingan, aku ingin mengajak
teman-teman memekikkan lahap [pekik pertarungan] dan manakir petak [menumiti
bumi] menyambut tantangan esok. Isen mulang, tak pulang jika tak menang, ujar
orang Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Menjadi Dayak Kekinian, Dayak Bermutu
turunan Utus Panarung, Penimba Tasik, Pemungkas Gunung, barangkali adalah esok
yang jauh kita songsong itu. ***
Paris, Mei 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
Keterangan foto:
John Bamba, orang pertama ID sekarang bersama JJK di Koperasi Restoran
Indonesia Paris, Mei 2008.[Dari Dok.: JJK].
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]