Karena percaya akan "misteri ilahiyah" angka empat puluh, sejumlah ulama menulis buku dengan merujuk angka tersebut. Imam Razy, misalnya, menulis buku "Empat Puluh Masalah Penting dalam Teologi", Assullamy menulis "Empat Puluh Dalil Tasawuf", dan Abu Naim Al-Asfahany menulis "Empat Puluh Hadis Pijakan Para Punggawa Tasawuf"
Imam Nawawi, dalam muqaddimah "Arbain Nawawiyahnya" yang terkenal di kalangan NU, mengutip sebuah hadits (dhoif): "Barangsiapa menjaga untuk umatku, empat puluh hadits tentang persoalan2 agama, maka ia akan dibangunkan kelak di hari kiamat bersama golongan fuqaha' dan ulama'. Kalau kita menengok pada 'tetangga' sebelah, yakni kalangan Syiah, kita akan menjumpai sejumlah hadits mengenai keutamaan mengumpulkan 40 hadits itu. Muhammad Baqir Al-Majlisy, dalam "Bihaarul Anwar", rujukan penting hadits2 Syiah, mencatumkan bab "man hafidza Arbaina haditsan", mereka yang menjaga empatpuluh hadits'. Salah satu hadistnya, dari Anas bin Malik, bunyinya mirip dengan hadis yang dikutip Imam Nawawi di atas. Bahkan Imam Majlisy, dalam bukunya yang lain, Miratul 'Uqul, menegaskan kemutawatiran keutamaan "Hifdzu Arba'iina hadiitsan". Karena itu, penulisan buku dengan merujuk angka empat puluh tidak saja masyhur di kalangan Sunny, akan tetapi para ulama Syiah juga berlomba-lomba meraih "fuyuudhatul barakaat al-ilaahiyah" dari angaka itu. Jamaluddin Alhully, Syamsuddin bin Makky, dan Attusy adalah bagian dari sederet ulama' Syiah yang menulis buku "Arba'in". Dan sang pemimpin revolusi Iran, Ayatollah Khumainy, pun tidak mau ketinggalan gerbong. Di abad lalu, ia mengumpulkan 40 hadits yang dia anggap penting, sebagai pijakan ber-Islam dengan benar. Semoga kita bisa menikmati 40 hadits yang ditawarkan oleh sang revolusioner ini. ghofur
