Pada 29 Mei 2008 11:15, lkis Aksara <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > DAPATKAN BUKU-BUKU TERBITAN LKIS > TERBITAN KHUSUS 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL > > Seberapa Jauh Sudah Kita Melangkah..?! > > > Judul:Rekam JejakRekam Jejak > Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch > ISBN:979 1283 613 > Ukuran:xlvi + 194 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 34.500,- > > Satu Abad Bangsa Kebangkitan Nasional merupakan momentum yang setrategis > untuk merefleksi sejarah perjalan bangsa ini. Siapakah > sesungguhnya"orang-orang besar"yang telah rela > mengendalikan dirinya sebagai tegaknya sebuah negara bernama Indonesia itu. > Sejarah mencatat,Indonesia dilahirkan melalui proses perjuangan panjang > founding Fathers.Rekam jejak para pendahulu bangsa ini pantas "dibaca" > oleh anak bangsa ini.Oleh karena itu buku ini hadir sebagai persembahan > istimewa > menyongsong Satu Abad Kebangkitan Nasional Dengan pembahasan yang luas dan > tuntas. > Buku ini menjadi bahan refleksi dan refrensi historis-sosiologi kita.Mari > bangkit bersama menuju > Indonesia yang bermartabat! > > > > > Judul:Bangsa InlanderBangsa Inlander > Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch > ISBN:979 1283 605 > Ukuran:xxxii + 198 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 34.500,- > > Kemiskinan material, krisis spiritual, dan penyakit mental biasanya luput > dari perhatian pemerintah. Rakyat sulit berobat jika tak berduit dan tidak > bisa bersekolah kalau tidak berharta. Maka, bunuh diri dianggap sebagai > solusi akhir setiap penyakit akut itu. > Politik divide et impera yang dahulu dipakai kaum kolonial, rupanya masih > diterapkan oleh penguasa republik hingga kini. Dan, pada abad ke-21 ini, > bangsa ini kembali dijajah dalam format baru, yaitu kapitalisme global. > Momentum Satu Abad Kebangkitan Nasional ini selayaknya menjadi cerminan > bagi kita untuk menata kembali prinsip dan praktik berbangsa dan bernegara. > > > > Judul:Neo Patriotisme Neo Patriotisme > Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch > ISBN:979 1283 656 > Ukuran:xviii + 222 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 35.500,- > > Jika Anda berpikir menetap di suatu tempat selama beberapa tahun, mulailah > bertanam padi. > Jika Anda berpikir menetap untuk waktu lebih lama lagi, mulailah bertanam > pohon.Tetapi, jika Anda mau menetap untuk selamanya, mulailah mendidik > manusianya. > > > > > Judul:Bangsa Gagal Bangsa Gagal > Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch > ISBN:979 1283 656 > Ukuran:xvi + 196 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 34.500,- > > Ilmu dan teknologi mempunyai peran yang sangat dominan dalam segala bidang > kehidupan. Pembagian kerja sangat terperinci sehingga terjadi > subspesialisasi. Sebagian pekerjaan dikerjakan oleh robot karena berbahaya > dan membosankan. Pekerjaan kasar dan kotor cenderung diserahkan pada negara > terbelakang; kasar karena manual, dan kotor karena adanya pencemaran. Padat > modal bergeser ke padat otak. > Abad mendatang dianggap sebagai abad biologi karena yang dominan adalah > bioteknologi. Industri yang mempersingkat ruang dan waktu akan bertambah > maju, seperti telematik, mikroteknologi, dan kolonisasi angkasa. Industri > budaya berkembang seperti industri sosial, industri ruang-waktu, dan > industri jaminan. Ekonomi menjadi dualistik karena adanya ekonomi informal. > Dunia semakin padat karena terdapat lebih dari enam biliun manusia: 50% > hidup di kota-kota besar yang ada di Selatan. > Terdapat perubahan gaya hidup yang mendasar, seperti misalnya, kehidupan > keluarga, hubungan antarindividu, dan pola perkawinan dan pertemanan. > Kemungkinan ilmu pengetahuan akan dijadikan semacam agama, dan para ilmuwan > menjadi rahibnya. Namun, hal ini tidak akan dapat memuaskan. Persoalan yang > transendental tidak dapat diatasi hanya melalui pemecahan hubungan > non-transendental. > Momentum Satu Abad Kebangkitan Nasional ini selayaknya menjadi cerminan > bagi kita untuk menata kembali prinsip dan praktik berbangsa dan bernegara. > > > > > Judul:Banyumas > Penulis:H.Budiono Herusatoto > ISBN:979 1283 591 > Ukuran:xiv + 591 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 37.500,- > > Adoh ratu cedhek watu-jauh dari raja dekat dengan batu.Istilah ini sangat > cocok untuk > menggambarkan eksistensi wong mBanyumasan Tetapi,ini tidak berarti wong > mBayumas > "terpinggirkan"dalam sejarah Tanah Jawa baik secara > budaya maupun politik.Secara budaya wong mBayumas,yang identik dengan > identik dengan dialek > Ngapaknya,tidak dapat katakan tidak bisa berbahasa Krama (bahasa Jawa Kawi) > Bahkan,jika menilik pada sejarah > bahasa Jawa,asal-usul bahasa Krama mula-mula berkembang justru di kalangan > (seniman)dalang Mbanyums. > > > > > Judul:Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Pendidikan Berwawasan Kebangsaan > Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch & GKR.Pembayun > ISBN:979 1283 621 > Ukuran:xiv + 210 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 35.500,- > Pendidikan adalah tiang pancang budaya dan fondasi utama untuk membangun > peradaban sebuah bangsa. Kesadaran akan arti penting pendidikan menentukan > kualitas kesejahteraan warganya. Oleh karena itu, substansi pendidikan, > materi pengajaran, dan manajemen pendidikan yang akuntabel sudah seharusnya > menjadi perhatian para penyelenggara negara. Terbukti, bangsa yang berhasil > mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tinggi mesti disangga > oleh kualitas pendidikan yang kokoh. > Dalam konteks saat ini, jati diri dan kepribadian bangsa perlu dibentuk > melalui pendidikan yang berbasis multikultural. Hal ini karena Indonesia > dihuni oleh beragam agama, tradisi, dan budaya. > Sekecil apa pun, buku ini mencoba memberi pencerahan dalam kerangka > kesadaran multikulturalisme, tepat pada momentum Satu Abad Kebangkitan > Nasional > > > > > > Judul:Kelah Sang Demang Jahja Datoek > Penulis:Azizah Etek,Mursyid A.M.,dan Arfan B.R > ISBN:979 1283 583 > Ukuran:xiv + 512 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 65.500,- > > Mutiara di alam Minangkabau selayaknya dapat kita lihat dari sesuatu yang > mungkin secara umum dianggap sederhana. Pernih-pernik kecil dalam kehidupan > kita sebagai bangsa kerap dilupakan. Seolah-olah hal itu tidaklah penting > dibicarakan dan mungkin pula diingat. Namun, sekali lagi, sebetulnya gerak > dan cara berpikir kita juga kesadaran kita dalam berbangsa sering ditentukan > oleh peristiwa-peristiwa kecil yang terlewatkan. > Oleh karena itu, di antara tugas penting kita saat ini adalah melakukan > penggalian atas aspek-aspek lokalitas di dalam sejarah kita sendiri. Melalui > buku ini, penulis menghadirkan "mutiara" Minangkabau yang bagi kita mungkin > masih asing, tetapi sebenarnya ia justru menjadi tonggak awal pemersatu > bangsa. Mutiara itu adalah Jahja Datoek Kajo, anggota Volksraad, yang gigih > memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia, jauh sebelum Sumpah Pemuda > dideklarasikan. > > > > > Judul:Kesadaran Nasional Jilid I Kesadaran Nasional Jilid I > Penulis:Prof.Dr.Slamet Muljana > ISBN:979 1283 559 > Ukuran:xii+358 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 46.500,- > > Penerbitan buku ini adalah momentum yang tepat dalam rangka memperingati > Satu Abad Kebangkitan Nasional. Satu abad yang lalu, pemoeda-pemoeda > Indonesia mengikrarkan diri dalam satu tekad; Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu > Bahasa: Indonesia. Tekad ini kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemoeda. > Buku ini selayaknya ditempatkan pada konteks pemupukan kesadaran nasional > atau pengabdian kepada nusa dan bangsa; sikap yang mengutamakan kepentingan > bangsa di atas kepentingan sendiri dan golongan; dan penguatan mentalitas > anak bangsa di tengah persoalan yang menghimpit bangsa dewasa ini. Itulah > sebabnya, Slamet Muljana, penulis buku ini, mewajibkan nasionalisme atau > kesadaran nasional menjadi pendidikan pokok dalam sejarah Indonesia, yang > bukan untuk dihafalkan, melainkan untuk dihayati. > > > > Judul:Kesadaran Nasional Jilid II > Penulis:Prof.Dr.Slamet Muljana > ISBN:979 1283 575 > Ukuran:xii+286 Hal > Terbit:Mei 2008 > Harga:Rp 43.500,- > > Penerbitan buku ini adalah momentum yang tepat dalam rangka memperingati > Satu Abad Kebangkitan Nasional. Satu abad yang lalu, pemoeda-pemoeda > Indonesia mengikrarkan diri dalam satu tekad; Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu > Bahasa: Indonesia. Tekad ini kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemoeda. > Buku ini selayaknya ditempatkan pada konteks pemupukan kesadaran nasional > atau pengabdian kepada nusa dan bangsa; sikap yang mengutamakan kepentingan > bangsa di atas kepentingan sendiri dan golongan; dan penguatan mentalitas > anak bangsa di tengah persoalan yang menghimpit bangsa dewasa ini. Itulah > sebabnya, Slamet Muljana, penulis buku ini, mewajibkan nasionalisme atau > kesadaran nasional menjadi pendidikan pokok dalam sejarah Indonesia, yang > bukan untuk dihafalkan, melainkan untuk dihayati. > > > > > Judul:Lesbumi kapitalis > Penulis:Choirotun Chisaan > Jumlah Halaman:xvi + 247 hlm > ISBN:979-1283-43-5 > Terbit:Maret 2008 > Harga:34.500 > > LESBUMI, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia, adalah sebuah > lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan Partai NU (Nahdhatul Ulama) saat > organisasi ini menjadi partai politik tahun 1960-an.Kehadiran Lesbumi > dianggap sebagai penanda kemodernan di tubuh NU. Modern jika dilihat dari > pandangan NU melalui Lesbumi yang sama sekali baru terhadap seni budaya, dan > modern jika dilihat dari personifikasi ketiga tokoh pendirinya: Djamaluddin > Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani. Inilah respons NU terhadap modernitas, > terutama menyangkut relasi agama dan politik dalam konteks "kemusliman" > melalui pendefinisian ulang seni-budaya "Islam". > Pertanyaannya sekarang: Mengapa Lesbumi 'seolah' lenyap dari perbincangan > sejarah seni-budaya dan politik (di) Indonesia? Buku ini menyediakan > jawabannya > > > > KUNJUNGI dan dapati buku-buku mengenai TERBITAN KHUSUS 100 TAHUN > KEBANGKITAN NASIONAL > Seberapa Jauh Sudah Kita Melangkah..?! > > www.lkis.co.id > >
[Non-text portions of this message have been removed]
