Judul:Lesbumi
Penulis:Choirotun Chisaan
Jumlah Halaman:xvi + 247 hlm
ISBN:979-1283-43-5
Terbit:Maret 2008
Harga:34.500

Kategori: Sosial Budaya

LESBUMI, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia, adalah sebuah lembaga
kebudayaan yang berafiliasi dengan Partai NU (Nahdhatul Ulama) saat
organisasi ini menjadi partai politik tahun 1960-an.Kehadiran Lesbumi
dianggap sebagai penanda kemodernan di tubuh NU. Modern jika dilihat dari
pandangan NU melalui Lesbumi yang sama sekali baru terhadap seni budaya, dan
modern jika dilihat dari personifikasi ketiga tokoh pendirinya: Djamaluddin
Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani. Inilah respons NU terhadap modernitas,
terutama menyangkut relasi agama dan politik dalam konteks "kemusliman"
melalui pendefinisian ulang seni-budaya "Islam".
Pertanyaannya sekarang: Mengapa Lesbumi 'seolah' lenyap dari perbincangan
sejarah seni-budaya dan politik (di) Indonesia? Buku ini menyediakan
jawabannya


 dapat kan informasi buku-buku LKIS di Website  www.lkis.co.id





DAPATKAN BUKU-BUKU TERBITAN LKIS
TERBITAN KHUSUS  100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL

Seberapa Jauh Sudah Kita Melangkah..?!


1. Judul:Rekam JejakRekam Jejak
Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch
ISBN:979 1283 613
Ukuran:xlvi + 194 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 34.500,-

Satu Abad Bangsa Kebangkitan Nasional merupakan momentum yang setrategis
untuk merefleksi sejarah perjalan bangsa ini. Siapakah
sesungguhnya"orang-orang besar"yang telah rela
mengendalikan dirinya sebagai tegaknya sebuah negara bernama Indonesia itu.
Sejarah mencatat,Indonesia dilahirkan melalui proses perjuangan panjang
founding Fathers.Rekam jejak para pendahulu bangsa ini pantas "dibaca"
oleh anak bangsa ini.Oleh karena itu buku ini hadir sebagai persembahan
istimewa
menyongsong Satu Abad Kebangkitan Nasional Dengan pembahasan yang luas dan
tuntas.
Buku ini menjadi bahan refleksi dan refrensi historis-sosiologi kita.Mari
bangkit bersama menuju
Indonesia yang bermartabat!



2.Judul:Bangsa InlanderBangsa Inlander
Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch
ISBN:979 1283 605
Ukuran:xxxii + 198 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 34.500,-

Kemiskinan material, krisis spiritual, dan penyakit mental biasanya luput
dari perhatian pemerintah. Rakyat sulit berobat jika tak berduit dan tidak
bisa bersekolah kalau tidak berharta. Maka, bunuh diri dianggap sebagai
solusi akhir setiap penyakit akut itu.
Politik divide et impera yang dahulu dipakai kaum kolonial, rupanya masih
diterapkan oleh penguasa republik hingga kini. Dan, pada abad ke-21 ini,
bangsa ini kembali dijajah dalam format baru, yaitu kapitalisme global.
Momentum Satu Abad Kebangkitan Nasional ini selayaknya menjadi cerminan bagi
kita untuk menata kembali prinsip dan praktik berbangsa dan bernegara.



3.Judul:Neo Patriotisme Neo Patriotisme
Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch
ISBN:979 1283 656
Ukuran:xviii + 222 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 35.500,-

Jika Anda berpikir menetap di suatu tempat selama beberapa tahun, mulailah
bertanam padi.
Jika Anda berpikir menetap untuk waktu lebih lama lagi, mulailah bertanam
pohon.Tetapi, jika Anda mau menetap untuk selamanya, mulailah mendidik
manusianya.



4.Judul:Bangsa Gagal Bangsa Gagal
Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch
ISBN:979 1283 656
Ukuran:xvi + 196 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 34.500,-

Ilmu dan teknologi mempunyai peran yang sangat dominan dalam segala bidang
kehidupan. Pembagian kerja sangat terperinci sehingga terjadi
subspesialisasi. Sebagian pekerjaan dikerjakan oleh robot karena berbahaya
dan membosankan. Pekerjaan kasar dan kotor cenderung diserahkan pada negara
terbelakang; kasar karena manual, dan kotor karena adanya pencemaran. Padat
modal bergeser ke padat otak.
Abad mendatang dianggap sebagai abad biologi karena yang dominan adalah
bioteknologi. Industri yang mempersingkat ruang dan waktu akan bertambah
maju, seperti telematik, mikroteknologi, dan kolonisasi angkasa. Industri
budaya berkembang seperti industri sosial, industri ruang-waktu, dan
industri jaminan. Ekonomi menjadi dualistik karena adanya ekonomi informal.
Dunia semakin padat karena terdapat lebih dari enam biliun manusia: 50%
hidup di kota-kota besar yang ada di Selatan.
Terdapat perubahan gaya hidup yang mendasar, seperti misalnya, kehidupan
keluarga, hubungan antarindividu, dan pola perkawinan dan pertemanan.
Kemungkinan ilmu pengetahuan akan dijadikan semacam agama, dan para ilmuwan
menjadi rahibnya. Namun, hal ini tidak akan dapat memuaskan. Persoalan yang
transendental tidak dapat diatasi hanya melalui pemecahan hubungan
non-transendental.
Momentum Satu Abad Kebangkitan Nasional ini selayaknya menjadi cerminan bagi
kita untuk menata kembali prinsip dan praktik berbangsa dan bernegara.



5.Judul:Banyumas
Penulis:H.Budiono Herusatoto
ISBN:979 1283 591
Ukuran:xiv + 591 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 37.500,-

Adoh ratu cedhek watu-jauh dari raja dekat dengan batu.Istilah ini sangat
cocok untuk
menggambarkan eksistensi wong mBanyumasan Tetapi,ini tidak berarti wong
mBayumas
"terpinggirkan"dalam sejarah Tanah Jawa baik secara
budaya maupun politik.Secara budaya wong mBayumas,yang identik dengan
identik dengan dialek
Ngapaknya,tidak dapat katakan tidak bisa berbahasa Krama (bahasa Jawa Kawi)
Bahkan,jika menilik pada sejarah
bahasa Jawa,asal-usul bahasa Krama mula-mula berkembang justru di kalangan
(seniman)dalang Mbanyums.


6.Judul:Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Pendidikan Berwawasan Kebangsaan
Penulis:HM.Nasruddin Anshoriy,Ch & GKR.Pembayun
ISBN:979 1283 621
Ukuran:xiv + 210 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 35.500,-
Pendidikan adalah tiang pancang budaya dan fondasi utama untuk membangun
peradaban sebuah bangsa. Kesadaran akan arti penting pendidikan menentukan
kualitas kesejahteraan warganya. Oleh karena itu, substansi pendidikan,
materi pengajaran, dan manajemen pendidikan yang akuntabel sudah seharusnya
menjadi perhatian para penyelenggara negara. Terbukti, bangsa yang berhasil
mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tinggi mesti disangga
oleh kualitas pendidikan yang kokoh.
Dalam konteks saat ini, jati diri dan kepribadian bangsa perlu dibentuk
melalui pendidikan yang berbasis multikultural. Hal ini karena Indonesia
dihuni oleh beragam agama, tradisi, dan budaya.
Sekecil apa pun, buku ini mencoba memberi pencerahan dalam kerangka
kesadaran multikulturalisme, tepat pada momentum Satu Abad Kebangkitan
Nasional



7.Judul:Kelah Sang Demang Jahja Datoek
Penulis:Azizah Etek,Mursyid A.M.,dan Arfan B.R
ISBN:979 1283 583
Ukuran:xiv + 512 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 65.500,-

Mutiara di alam Minangkabau selayaknya dapat kita lihat dari sesuatu yang
mungkin secara umum dianggap sederhana. Pernih-pernik kecil dalam kehidupan
kita sebagai bangsa kerap dilupakan. Seolah-olah hal itu tidaklah penting
dibicarakan dan mungkin pula diingat. Namun, sekali lagi, sebetulnya gerak
dan cara berpikir kita juga kesadaran kita dalam berbangsa sering ditentukan
oleh peristiwa-peristiwa kecil yang terlewatkan.
Oleh karena itu, di antara tugas penting kita saat ini adalah melakukan
penggalian atas aspek-aspek lokalitas di dalam sejarah kita sendiri. Melalui
buku ini, penulis menghadirkan "mutiara" Minangkabau yang bagi kita mungkin
masih asing, tetapi sebenarnya ia justru menjadi tonggak awal pemersatu
bangsa. Mutiara itu adalah Jahja Datoek Kajo, anggota Volksraad, yang gigih
memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia, jauh sebelum Sumpah Pemuda
dideklarasikan.



8. Judul:Kesadaran Nasional Jilid I Kesadaran Nasional Jilid I
Penulis:Prof.Dr.Slamet Muljana
ISBN:979 1283 559
Ukuran:xii+358 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 46.500,-

Penerbitan buku ini adalah momentum yang tepat dalam rangka memperingati
Satu Abad Kebangkitan Nasional. Satu abad yang lalu, pemoeda-pemoeda
Indonesia mengikrarkan diri dalam satu tekad; Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu
Bahasa: Indonesia. Tekad ini kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemoeda.
Buku ini selayaknya ditempatkan pada konteks pemupukan kesadaran nasional
atau pengabdian kepada nusa dan bangsa; sikap yang mengutamakan kepentingan
bangsa di atas kepentingan sendiri dan golongan; dan penguatan mentalitas
anak bangsa di tengah persoalan yang menghimpit bangsa dewasa ini. Itulah
sebabnya, Slamet Muljana, penulis buku ini, mewajibkan nasionalisme atau
kesadaran nasional menjadi pendidikan pokok dalam sejarah Indonesia, yang
bukan untuk dihafalkan, melainkan untuk dihayati.



9.Judul:Kesadaran Nasional Jilid II
Penulis:Prof.Dr.Slamet Muljana
ISBN:979 1283 575
Ukuran:xii+286 Hal
Terbit:Mei 2008
Harga:Rp 43.500,-

Penerbitan buku ini adalah momentum yang tepat dalam rangka memperingati
Satu Abad Kebangkitan Nasional. Satu abad yang lalu, pemoeda-pemoeda
Indonesia mengikrarkan diri dalam satu tekad; Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu
Bahasa: Indonesia. Tekad ini kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemoeda.
Buku ini selayaknya ditempatkan pada konteks pemupukan kesadaran nasional
atau pengabdian kepada nusa dan bangsa; sikap yang mengutamakan kepentingan
bangsa di atas kepentingan sendiri dan golongan; dan penguatan mentalitas
anak bangsa di tengah persoalan yang menghimpit bangsa dewasa ini. Itulah
sebabnya, Slamet Muljana, penulis buku ini, mewajibkan nasionalisme atau
kesadaran nasional menjadi pendidikan pokok dalam sejarah Indonesia, yang
bukan untuk dihafalkan, melainkan untuk dihayati.



KUNJUNGI dan dapati buku-buku  mengenai TERBITAN KHUSUS  100 TAHUN
KEBANGKITAN NASIONAL
Seberapa Jauh Sudah Kita Melangkah..?!

 www.lkis.co.id


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke