Mengenang Partisipasi Politik Banser 1965
    Menumpas Makar PKI 1 Oktober 1965
    Oleh Agus Sunyoto *
      _________________________________________________________________

    Aksi sepihak yang dilakukan PKI berpuncak pada pembunuhan atas Pelda
    Sudjono di Bandar Betsy. Dengan menggunakan cangkul, linggis,
    pentungan, dan kapak sekitar 200 orang BTI membantai perwira itu.
    Pembantaian terhadap anggota militer itu mendapat reaksi keras dari
    Letjen A Yani. Tokoh-tokoh PKI yang mendalangi kemudian diproses
    secara hukum. Namun hal itu makin menambah keberanian PKI dalam
    melakukan aksi sepihak.

    PKI yang sudah merasa kuat, kemudian melakukan intervensi ke bidang
    politik dengan merekayasa suatu "kebulatan tekad" dari organisasi
    se-aspirasi mereka. Tanggal 6 Januari 1965, organisasi se-aspirasi
PKI
    seperti SB/SS Pegawai Negeri, Lekra, Gerwani, Wanita Indonesia,
Pemuda
    Indonesia, Germindo, Pemuda Demokrat, Pemuda Rakyat, BTI dan
    sebagainya mengadakan pertemuan umum di Semarang guna menggalang
    "kebulatan tekad" untuk menuntut pembubaran Badan Pendukung Soekarno
    (BPS) dan mendukung sikap Indonesia keluar dari PBB (Pusjarah ABRI,
    1995,IV-A:107-108).

    Keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak, ditunjukkan dalam aksi
    yang lebih berani yakni menduduki kantor kecamatan Kepung, Kediri.
    Camat Samadikun dan Mantri Polisi Musin, melarikan diri dan meminta
    perlindungan Ketua Ansor Kepung yaitu Abdul Wahid. Untuk sementara,
    kantor kecamatan dipindah ke rumah Abdul Wahid. Dan sehari kemudian,
    sekitar 1000 orang Banser melakukan serangan ke kantor kecamatan
untuk
    merebutnya dari kekuasaan PKI. Hanya dengan bantuan Gerwani, ratusan
    PKI yang menguasai kantor itu bisa lolos dari sergapan Banser.

    PKI juga telah mulai berani membunuh tokoh PNI. Ceritanya, di desa
    Senowo, Kenocng, Kediri, tokoh PNI bernama Paisun diculik PKI desa
    Botorejo dan Biro. Keluarganya lapor kepada Ansor. Waktu dicari,
mayat
    Paisun ditemukan di WC dengan dubur ditusuk bambu tembus ke dada.
    Banser dibantu warga PNI menyerang para penculik. Tokoh-tokoh PKI
dari
    Botorejo dan Biro dibantai. Malah dalang PKI bernama Djamadi,
dibantai
    sekalian karena menjadi penunjuk jalan PKI. Juni 1965, Naim seorang
    pendekar PKI desa Pagedangan, Turen, Malang, menantang Banser sambil
    membanting Al-Qur'an. Naim dibunuh Samad. Mayatnya dibenamkan di
    sungai.

    KUDETA 1 OKTOBER 1965
    Tanggal 1 Oktober 1965 mulai pukul 03.30 sampai 05.00, gerakan makar
    PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung menculik para Jenderal AD yang
    difitnah sebagai anggota Dewan Jenderal. Letjen Ahmad Yani, Brigjen
DI
    Panjaitan, Mayjen Soetoyo, Mayjen Soeprapto, Brigjen S. Parman, dan
    Mayjen Haryono MT mereka culik dan bunuh (Puspen AD, 1965: 9-10).
    Sekalipun aksi itu terjadi 1 Oktober 1965, PKI menamakan aksinya itu
    dengan nama "Gerakan 30 September". Tanggal 1 Oktober itu juga,
Letkol
    Untung menyatakan bahwa kekuasaan berada di tangan Dewan Revolusi.
    Untung juga menyatakan kabinet demisioner. Pangkat para jenderal
    diturunkan sampai setingkat letnan kolonel, dan prajurit yang
    mendukung Dewan Revolusi dinaikkan pangkat satu sampai dua tingkat.

    Aksi sepihak Letkol Untung yang menculik para jenderal dan membentuk
    Dewan Revolusi serta mendemisioner kabinet, jelas merupakan upaya
    kudeta. Sebab dalam Dewan Revolusi itu tidak terdapat nama Presiden
    Soekarno. Kabinet yang didemisioner pun adalah kabinet Soekarno. Dan
    jenderal-jenderal yang diculik pun adalah jenderal-jenderal yang
setia
    pada Soekarno. Bahkan Jenderal A.H. Nasution, adalah jenderal yang
    pernah ditugasi Soekarno untuk menumpas PKI dalam pemberontakan di
    Madiun 1948.

    Menghadapi aksi sepihak Letkol Untung, tanggal 1 Oktober 1965 itu
juga
    PBNU mengeluarkan pernyataan sikap untuk mengutuk gerakan tersebut.
    Pada 2 Oktober 1965, pimpjna muda NU, Subchan Z.E., membentuk Komando
    Aksi Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan 30 September disingkat KAP
    GESTAPU yang mengutuk dan mengganyang aksi kudeta 1 oktober 1965 itu.

    Tanggal 2 Oktober itu pula Mayjen Sutjipto, Ketua Gabungan V KOTI,
    mengundang wakil-wakil ormas dan orpol yang setia pada Pancasila ke
    Mabes KOTI di Jl Merdeka Barat. Rapat kemudian memutuskan untuk
secara
    bulat berdiri di belakang Jenderal Soeharto dan Angkatan Darat (O.G.
    Roeder, 1987: 48-49). Sementara di Kediri, tanggal 2 Oktober 1965
    sudah tersebar pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa dalang di balik
    peristiwa 1 Oktober 1965 adalah PKI.

    BENTROK BANSER VS PKI
    10 Oktober 1965, sekalipun PKI menyatakan bahwa peristiwa 1 Oktober
    yang dinamai 'Gerakan 30 September' itu adalah persoalan intern AD
dan
    PKI tidak tahu-menahu, anggota Banser di kabupaten Malang mulai
    menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya. Hari itu juga,
    tokoh-tokoh PKI di daerah Turen mulai diserang Banser dan dibunuh. Di
    antara tokoh PKI yang terbunuh saat itu adalah Suwoto, Bowo, dan
    Kasiadi. Palis, kawan akrab Bowo, karena takut dibunuh Banser malah
    bunuh diri di kuburan desa Pagedangan.

    11 Oktober 1965, Banser beserta santri dari berbagai pesantren di
    Tulungagung menyerang PKI di kawasan Pabrik Gula Mojopanggung.
Sekitar
    3 ribu orang PKI yang sudah bersiaga dengan senjata panah, kelewang,
    tombak, pedang, clurit, air keras, dan lubang-lubang di dalam rumah,
    berhasil dilumpuhkan. Tanpa melakukan perlawanan berarti, pasukan PKI
    itu ditangkapi Banser dan disembelih. Para anggota Banser dan santri
    yang usianya sekitar 13 - 16 tahun itu, berhasil melumpuhkan para
    jagoan PKI.

    Pada 12 Oktober 1965, sekitar 3 ribu orang anggota Banser mengadakan
    apel di alun-alun Kediri. Setelah apel usai, mereka bergerak
    menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya di sepanjang jalan
    yang mereka lewati. Di markas PKI di desa Burengan, telah siaga
    sekitar 5 ribu orang PKI dengan bermacam- macam senjata.
Iring-iringan
    Banser yang dipimpin Bintoro, Ubaid dan Nur Rohim itu kemudian
    dihadang oleh PKI. Terjadi bentrokan berdarah dalam bentuk tawuran
    massal. Sekitar 100 orang PKI di sekitar markas itu tewas. Sementara,
    di pihak Banser tidak satupun jatuh korban. Dalam peristiwa itu,
    Banser mendapat pujian dari Letkol Soemarsono, komandan Brigif 6
    Kediri karena kemenangan mutlak Banser dalam tawuran massal itu.

    Pada 13 Oktober 1965, sekitar 10 ribu orang PKI di kecamatan Kepung,
    Kediri, melakukan unjuk kekuatan dalam upacara pemakaman mayat Sikat
    tokoh PKI setempat yang tewas dalam peristiwa di Burengan. Mereka
    menyatakan akan membalas kematian para pimpinan mereka. Dan sore
hari,
    dua orang santri dari pondok Kencong yang pulang ke desanya di Dermo,
    Plosoklaten, dicegat di tengah jalan. Seorang dibunuh. Tubuh
    dicincang. Seorang dikubur hidup-hidup.

    Kematian dua orang santri yang masih remaja itu, membuat Banser
marah.
    Tapi mereka belum berani menyerbu ke desa Dermo, karena kedudukan PKI
    di situ sangat kuat. Akhirnya, Banser setempat meminta bantuan Banser
    dari pondok Tebuireng, Jombang. Dengan kekuatan lima truk, Banser
    Tebuireng masuk ke desa Dermo. Truk mereka diberi tulisan BTI
    singkatan dari Banser Tebu Ireng. Rupanya, PKI menduga bahwa BTI itu
    adalah Barisan Tani Indonesia yang merupakan ormas mereka. Walhasil,
    bagaikan siasat "kuda Troya", pertahanan PKI di desa Dermo
dihancurkan
    dari dalam.

    Pertarungan antara Banser dengan PKI yang berakibat fatal bagi Banser
    adalah di Banyuwangi. Ceritanya, Banser dari Muncar yang umumnya dari
    suku Madura dikenal amat bersemangat mengganyang PKI. Itu sebabnya,
    pada 17 Oktober 1965, di bawah pimpinan Mursyid, dengan kekuatan tiga
    truk mereka menyerang kubu PKI di Karangasem. Di Karangasem, terjadi
    bentrok berdarah setelah Banser tertipu dengan makana beracun. Dalam
    bentrokan itu 93 orang Banser gugur. Sisanya melarikan diri ke arah
    Jajag dan ke arah Cluring. Ternyata, Banser yang lari ke Cluring
    dihadang PKI di desa itu. Sekitar 62 orang Banser dibantai dan
    dimakamkan di tiga lubang dekat kuburan desa.

    Pada 27 Oktober 1965, pemerintah mengeluarkan seruan agar
    masing-masing ormas tidak saling membunuh dan melakukan aksi
    kekerasan. Siapa saja yang melakukan penyerangan sepihak, akan
diadili
    sebagai penjahat. Seruan itu dimanfaatkan oleh PKI. Mereka melaporkan
    anggota Banser yang telah membunuh keluarga mereka. Dan jadilah
    hari-hari sesudah 27 Oktober itu penangkapan dan pemburuan aparat
    keamanan terhadap Banser.

    PENUMPASAN PKI
    Dalam bulan November-Desember, setelah sejumlah pimpinan PKI seperti
    Brigjen Supardjo, Letkol Untung, Nyono, Nyoto, dan Aidit diberitakan
    tertangkap, makin terkuaklah bahwa perancang kudeta 1 Oktober 1965
    adalah PKI. Saat-saat itulah pihak ABRI khususnya AD mulai melakukan
    pembersihan dan penumpasan terhadap PKI beserta ormas-ormasnya. Dan
    tangan kanan yang digunakan oleh pihak militer itu adalah "anak
didik"
    mereka sendiri dalam hal ini adalah Banser yang memiliki jumlah
    anggota puluhan ribu orang.

    Dalam suatu aksi penangkapan dan penumpasan PKI di Kediri, misalnya,
    pihak AD hanya menurunkan 21 personil. Sedang Banser yang dilibatkan
    mencapai jumlah 20 ribu orang lebih. Dengan jumlah yang besar itu,
    diadakan operasi yang disebut "Pagar Betis" yakni wilayah kecamatan
    Kepung dikepung oleh Banser dalam jarak satu meter tiap orang. Dengan
    cara pagar betis itulah, PKI tidak dapat lolos. Sekitar 6000 orang
PKI
    tertangkap (kisah lengkap terdapat dalam buku saya berjudul "Banser
    Berjihad Menumpas PKI" 1996).

    Penangkapan besar-besaran juga terjadi di Banyuwangi, Blitar, Malang,
    Tulungagung, Lumajang dan kesemuanya melibatkan Banser. Mengenai
    keterlibatan Banser dalam menumpas PKI, itu Komandan Kodim Kediri
    Mayor Chambali (alm) menyatakan bahwa hal itu merupakan strategi ABRI
    yang ampuh. Sebab di tubuh Banser tidak tersusupi unsur PKI.
Sementara
    jika dalam penumpasan itu hanya ABRI yang dilibatkan, maka pihak ABRI
    sendiri belum bisa menentukan siapa lawan dan siapa kawan karena
    banyaknya anggota ABRI yang dibina PKI.

    OPERASI TRISULA
    Tahun 1968, ketika PKI sudah dibubarkan dan pengikutnya ditumpas,
    terjadi aksi-aksi kerusuhan di Blitar Selatan. Aksi- aksi kerusuhan
    yang berupa perampokan, penganiayaan, penculikan, dan pembunuhan itu
    selalu mengambil korban warga NU dan PNI. Sejumlah korban yang
    terbunuh, misalnya, Kiai Maksum dari Plosorejo, Kademangan. Sesudah
    itu Imam Masjid Dawuhan. Tokoh PNI yang terbunuh adalah Manun dari
    desa Dawuhan, kemudian Susanto Kepala Sekolah Panggungasri, dan
Sastro
    kepala Jawatan Penerangan Binangun. Puncaknya, 2 orang anggota Banser
    yang sedang jaga keamanan di gardu di bunuh.

    Para pimpinan Ansor Blitar melaporkan kecurigaan mereka kepada
    Komandan Kodim akan bangkitnya kembali kekuatan PKI di Blitar. Namun
    laporan itu tak digubris. Akhirnya, mereka menghubungi seorang
aktivis
    Ansor yang menjadi Danrem Madiun yakni Kolonel Kholil Thohir. Oleh
    Kholil Thohir disiapkan 3 batalyon yaitu 521, 511, dan 527 untuk
    operasi yang diberi nama sandi "Operasi Blitar Selatan" . Namun
    operasi berkekuatan 3 batalyon itu tidak mampu mengatasi gerakan
    gerilya PKI.

    Operasi kemudian diambil-alih oleh Kodam VIII/ Brawijaya yang
    menurunkan 5 batalyon yaitu 521, 511, 527, 513, dan 531 dengan
    Perintah Operasi No.01/2/1968. Namun operasi dari Kodam inipun kurang
    efektif. Akhirnya, setelah dievaluasi diadakan operasi besar-besaran
    dengan melibatkan semua unsur yakni kelima batalyon ditambah
    unsur-unsur lain termasuk 10 ribu orang hansip dan warga masyarakat
    Blitar Selatan. Surat perintah operasi itu bernomor 02/5/1968. Dan
    penting dicatat bahwa 10 ribu orang Hansip itu adalah anggota Banser
    yang diberi pakaian Hansip.

    Dalam operasi terpadu yang diberi nama sandi "Operasi Trisula" itu,
    sejumlah tokoh PKI berhasil ditewaskan. Di antara mereka itu adalah
Ir
    Surachman dan Oloan Hutapea. Sedang mereka yang tertangkap di
    antaranya adalah Ruslan Wijayasastra, Tjugito, Rewang, Kapten
    Kasmidjan, Kapten Sutjiptohadi, Mayor Pratomo, dan beratus-ratus
    anggota PKI yang lain. Dan salah satu strategi operasi yang paling
    efektif dalam Operasi Trisula itu adalah "Pagar Betis" yang
melibatkan
    10.000 orang Banser ditambah warga masyarakat yang kebanyakan juga
    anggota Banser yang tidak kebagian seragam. Satu ironi mungkin
terjadi
    dalam Operasi Trisula itu, yakni selama operasi itu berlangsung telah
    ditangkap sejumlah 182 orang anggota Kodam VIII/Brawijaya di
antaranya
    berpangkat perwira yang ikut dalam operasi tersebut (Pusjarah ABRI,
    1995, IV-B:101-108).

    Berdasar uraian singkat ini, dapat disimpulkan bahwa kelahiran Banser
    tidak terlepas dari peranan ABRI terutama AD dan Brimob yang ikut
    membidaninya. Itu sebabnya, keberadaan Banser sebagai paramiliter
yang
    digunakan untuk membantu proses penumpasan PKI oleh ABRI memiliki
    nilai historis yang kuat, di mana semangat antikomunisme yang
    terkristalisasi dalam doktrin Banser itu dapat dimanfaatkan
    sewaktu-waktu oleh pihak ABRI jika negara dalam keadaan terancam
    (habis)





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke