Sejarah biasanya hanya sebuah perulangan.
Keadaan bangsa dan Negara sepertinya akan terulang lagi ..

Terrirng semoga Allah selalu menguatkan junjungan ku KH Abdurrahman
Wahid
Mudah2an keselamatan beserta kita amin.

berikut tulisan Agus Sunyoto saya ambil dari jawa pos lamaa..sekali
====================================


Mengenang Partisipasi Politik Banser pada 1965 (1)
    Lahir dalam Tekanan PKI
    Oleh Agus Sunyoto *
http://www.jawapos.co.id/indones/jawapos/news/today/analysis/opini-2.htm

_________________________________________________________________

    Memasuki dekade awal 1960-an, PKI menjadi partai komunis terbesar
    ketiga di dunia yang memiliki kesempatan untuk berkuasa. PKI sadar,
    untuk mencapai tujuannya itu harus memanfaatkan figur Presiden
    Soekarno. Itu sebabnya, PKI berusaha mendukung semua kebijakan
    Presiden Soekarno. Dalam upaya mendukung keberhasilan rencananya itu,
    PKI mencoba untuk memotivasi suatu kekuatan yang berkaitan erat
dengan
    reformasi agraria yakni memperluas kekuatan massa petani yang
    dikuasainya tanpa membenturkan partai dari kebijakan Soekarno
    (Tornquist,1984:53).

    Di antara sejumlah dukungan PKI kepada kebijakan Soekarno adalah
    Nasakomisasi berbagai kekuatan sosial-politik. Dengan terpaksa atau
    tidak, berbagai golongan seperti kalangan nasionalis, agama, dan
    Angkatan Darat menerima konsep yang disebut Nasakom itu. PKI kemudian
    menganggap diri paling berjasa besar kepada Soekarno dalam mewujudkan
    cita-cita proklamator itu mempersatukan berbagai unsur ke dalam satu
    kesatuan nasional. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh PKI
setelah
    meyakinkan Soekarno akan kesetiaan dan dukungannya, adalah memperluas
    kekuatan massa petani dengan memanfaatkan terjadinya reformasi
agraria
    (landreform,pen). Dengan melakukan aksi-aksi massa yang bersifat
    sepihak, PKI mulai melakukan provokasi yang tujuan utamanya adalah
    menguntungkan kebijakan politiknya.

    Untuk berhasilnya perjuangan di kalangan kaum tani maka PKI telah
    mempergunakan berbagai cara dan taktik, seperti misalnya:
    1. Perjuangan untuk merealisasi terlaksananya UUPA dan UUPBH.
    2. Agitasi kepada kaum tani untuk melakukan pengganyangan terhadap "7
    setan desa" serta menyingkirkan Koramil dan Pembina di Jawa Barat dan
    Pepelrada dalam rangka Dwikora yang dianggap sebagai SOB tanpa SOB.
    3. Aktif di bidang Hansip serta dalam pengerahan dan latihan
    sukarelawan untuk Dwikora.
    4. Menuntut dipersenjatainya rakyat tani.

    Kesemuanya itu pada hakekatnya ialah untuk melaksanakan serangkaian
    usaha yang ditujukan ke arah:
    1. Menegakkan kekuasaan politik PKI di desa-desa yang kemudian akan
    diteruskan pada desa-desa lainnya dan yang kemudian akan merupakan
    suatu kekuatan untuk bisa memaksakan dan merebut secara "parlementer"
    kekuasaan di tingkat nasional.
    2. Menjadikan desa sebagai pangkalan untuk melakukan perang gerilya:
    - Sebagai sumber bahan makanan
    - Merupakan sumber prajurit
    - Merupakan tempat revolusi mundur jika terpukul di kota
    - Merupakan pangkalan untuk menyerang musuh dan merebut kembali
    kota-kota yang tadinya terpaksa ditinggalkan.
    (Puspen AD, 1965).

    Aksi massa yang cukup berbahaya dari manuver politik PKI adalah
    usaha-usaha memobilisasi massa untuk melakukan berbagai tindak
    kekerasan yang dikenal dengan nama 'aksi sepihak'. Dalam
tindak-tindak
    kekerasan yang dinamakan aksi sepihak itu, PKI tidak segan-segan
    mempermalukan pejabat pemerintah dan bahkan melakukan
    perampasan-perampasan hak milik orang lain yang mereka golongkan
    borjuis-feodal. PKI tidak malu mengkapling tanah negara maupun tanah
    milik warga masyarakat yang mereka anggap borjuis.

    Sejumlah aksi massa PKI yang dimulai pada pertengahan 1961 itu adalah
    peristiwa Kendeng Lembu, Genteng, Banyuwangi (13 Juli 1961),
peristiwa
    Dampar, Mojang, Jember (15 Juli 1961), peristiwa Rajap, Kalibaru, dan
    Dampit (15 Juli 1961), peristiwa Jengkol, Kediri (3 November 1961),
    peristiwa GAS di kampung Peneleh, Surabaya (8 November 1962), sampai
    peristiwa pembunuhan KH Djufri Marzuqi, dari Larangan, Pamekasan,
    Madura (28 Juli 1965)

    PERLAWANAN GP ANSOR
    Aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI mau tidak mau pada
    akhirnya menimbulkan keresahan di kalangan warga masyarakat yang
bukan
    PKI. Dikatakan meresahkan karena pada umumnya yang menjadi korban
dari
    aksi-aksi massa sepihak tersebut adalah anggota PNI, PSI, ex-Masyumi,
    NU, dan bahkan organisasi Muhammadiyah. Ironisnya, aksi-aksi massa
    sepihak yang dilakukan oleh PKI itu belum pernah mendapat perlawanan
    dari anggota partai dan organisasi bersangkutan kecuali dari GP
Ansor,
    yang mulai menunjukkan perlawanan memasuki tahun 1964.

    Perlawanan anggota GP Ansor sendiri tidak selalu dilatari oleh
    persoalan yang dihadapi warga Nahdliyyin berkenaan dengan aksi-aksi
    massa sepihak PKI, melainkan dilatari pula oleh permintaan
    perlindungan dari warga PNI, ex-Masyumi maupun Muhammadiyah. Di
antara
    perlawanan yang pernah dilakukan oleh GP Ansor terhadap aksi-aksi
    massa sepihak PKI adalah peristiwa Nongkorejo, Kencong, Kediri di
mana
    pihak PKI didukung oleh oknum aparat seperti Jaini (Juru Penerang)
dan
    Peltu Gatot, wakil komandan Koramil setempat. Dalam kasus itu, PKI
    telah mengkapling dan menanami lahan milik Haji Samur. Haji Samur
    kemudian minta bantuan GP Ansor. Terjadi bentrok fisik antara Sukemi
    (PKI) dengan Nuriman (Ansor). Sukemi lari dengan tubuh berlumur
darah.
    Pengikutnya lari ketakutan.

    Pecah pula peristiwa Kerep, Grogol, Kediri. Ceritanya, tanah milik
    Haji Amir warga Muhammadiyah oleh PKI dan BTI diklaim sebagai tanah
    klobot, padahal itu tanah hak milik. Setelah klaim itu, PKI dan BTI
    menanam kacang dan ketela di antara tanaman jagung di lahan Haji
Amir.
    Karena merasa tidak berdaya, maka Haji Amir meminta bantuan kepada
Gus
    Maksum di pesantren Lirboyo. Puluhan Ansor dari Lirboyo bersenjata
    clurit dan parang, menghalau PKI dan BTI dari lahan Haji Amir.

    Tawuran massal Ansor dengan Pemuda Rakyat pecah pula di Malang.
    Ceritanya, Karim DP (Sekjen PWI) datang ke kota Malang dan dalam
    pidatonya mengecam kaum beragama sebagai borjuis-feodal yang harus
    diganyang. Mendengar pidato Karim DP itu, para pemuda Ansor langsung
    naik ke podium dan langsung menyerang Karim. Para anggota Pemuda
    Rakyat membela. Terjadi bentrok fisik. Pemuda Rakyat banyak yang
luka.

    KELAHIRAN BANSER
    Aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI pada kenyataannya sangat
    meresahkan masyarakat terutama umat Islam. Sebab dalam aksi-aksi itu,
    PKI melancarkan slogan-slogan pengganyangan terhadap apa yang mereka
    sebut tujuh setan desa. Tujuh setan desa dimaksud adalah tuan tanah,
    lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit
desa,
    dan pengirim zakat (LSIK, 1988:72). Dengan masuknya 'pengirim zakat'
    ke dalam kategori tujuh setan desa, jelas umat Islam merasa sangat
    terancam. aksi massa sepihak yang dilakukan PKI rupanya makin
    meningkat jangkauannya. Artinya, PKI tidak saja mengkapling
    tanah-tanah milik negara dan milik tuan tanah melainkan merampas pula
    tanah bengkok, tanah milik desa, malah yang meresahkan,
    sekolah-sekolah negeri pun akhirnya diklaim sebagai sekolah milik
PKI.
    Hal ini terutama terjadi di Blitar. Dengan aksi itu, baik perangkat
    desa maupun guru-guru yang ingin terus bekerja harus menjadi anggota
    PKI.

    Atas dasar aksi sepihak PKI itulah kemudian pengurus Ansor kabupaten
    Blitar membentuk sebuah barisan khusus yang bertugas menghadapi aksi
    sepihak PKI. Melalui sebuah rapat yang dihadiri oleh pengurus GP
Ansor
    seperti Kayubi, Fadhil, Pangat, Romdhon, Danuri, Chudori, Ali Muksin,
    H. Badjuri, Atim, Abdurrohim Sidik , diputuskanlah nama Barisan Ansor
    Serbaguna disingkat Banser. Pencetus nama Banser adalah Fadhil, yang
    diterima aklamasi.

    Karena Banser adalah suatu kekuatan paramiliter serba guna yang dapat
    dimanfaatkan untuk kepentingan di masa genting maupun aman, maka
    lambang yang disepakati dewasa itu berkaitan dengan keberadaan
Banser.
    Lambang awal Banser mencakup tiga gambar yakni cangkul, senapan dan
    buku. Menurut Romdhon, tiga gambar itu memiliki makna bahwa seorang
    anggota Banser siap melakukan pekerjaan membantu masyarakat yang
    membutuhkan (simbol cangkul), siap pula membela agama, bangsa dan
    negara (senapan) dan siap pula belajar (buku).

    Dalam tempo singkat, setelah Banser Blitar terbentuk, secara berantai
    dibentuklah Banser di berbagai daerah. Dan pada 24 April 1964, Banser
    dinyatakan sebagai program Ansor secara nasional. Mula-mula, Banser
    dilatih oleh anggota Brimob. Kemudian dilatih pula oleh RPKAD,
Raiders
    dan batalyon-batalyon yang terdekat. Selain dibina oleh pihak
militer,
    Banser secara khusus dibina oleh para kiai dan ulama tarekat dengan
    berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Di antara kiai yang terkenal
    sebagai pembina spiritual Banser dewasa itu adalah Kiai Abdul Djalil
    Mustaqim (Tulungagung), KH Badrus Sholeh (Purwoasri, Kediri), KH
    Machrus Ali dan KH Syafii Marzuki (Lirboyo, kediri), KH Mas Muhadjir
    (Sidosermo, Surabaya), KH Djawahiri (Kencong, Kediri), KH Shodiq
    (Pagu, Kediri), KH Abdullah Sidiq (Jember).

    Hasil kongkret dari pembentukan Banser, perlawanan terhadap aksi
    sepihak PKI makin meningkat. Kordinasi-kordinasi yang dilakukan
    anggota Banser untuk memobilisasi kekuatan berlangsung sangat cepat
    dan rapi. Dalam keadaan seperti itu, mulai sering terjadi
    bentrokan-bentrokan fisik antara Banser dengan PKI. Bahkan pada
    gilirannya, terjadi serangan-serangan yang dilakukan anggota Banser
    terhadap aksi-aksi massa maupun anggota PKI. Demikianlah, pecah
    berbagai bentrokan fisik antara Banser dengan PKI di berbagai tempat
    seperti: Peristiwa Kanigoro.

    13 Januari 1965 tepat pukul 04.30 WIB, sekitar 10.000 orang Pemuda
    Rakyat dan BTI melakukan penyerbuan terhadap pondok pesantren
    Kanigoro, Kras, Kediri. Alasan mereka melakukan penyerbuan, karena di
    pesantren itu sedang diselenggarakan Mental Training Pemuda Pelajar
    Indonesia (PII). Pimpinan penyerbu itu adalah Suryadi dan Harmono.
    Massa Pemuda Rakyat dan BTI itu menyerbu dengan bersenjatakan golok,
    pedang, kelewang, arit, dan pentungan sambil berteriak histeris: -
    'Ganyang santri!', 'Ganyang Serban!', 'Ganyang Kapitalis!', 'Ganyang
    Masyumi!'.

    Para anggota PR dan BTI yang sudah beringas itu kemudian mengumpulkan
    kitab-kitab pelajaran agama dan Al-Qur'an. Kemudian semua dimasukkan
    ke dalam karung dan diinjak-injak sambil memaki- maki. Pimpinan
    pondok, Haji Said Koenan, dan pengasuh pesantren KH Djauhari,
    ditangkap dan dianiaya. Para pengurus PII digiring dalam arak-arakan
    menuju Polsek setempat. Para anggota PR dan BTI menyatakan, bahwa PII
    adalah anak organisasi Masyumi yang sudah dilarang. Jadi PII, menurut
    PKI, berusaha melakukan tindak makar dengan mengadakan
    training-training politik.

    Peristiwa penyerangan PR dan BTI terhadap pesantren Kanigoro, dalam
    tempo singkat menyulut kemarahan Banser Kediri. Gus Maksum -- putera
    KH Djauhari -- segera melakukan konsolidasi. Siang itu, 13 Januari
    1965, delapan truk berisi Banser dari Kediri datang ke Kanigoro.
    Markas dan rumah-rumah anggota PKI digrebek. Suryadi dan Harmono,
    pimpinan PR dan BTI, ditangkap dan diserahkan ke Polsek.

    BANSER VERSUS LEKRA
    Bentrok Banser dengan PKI pecah di Prambon. Awal dari bentrok itu
    dimulai ketika Ludruk Lekra mementaskan lakon yang menyakiti hati
umat
    Islam yakni : 'Gusti Allah dadi manten' (Allah menjadi pengantin).
    Pada saat ludruk sedang ramai, tiba- tiba Banser melakukan serangan
    mendadak. Ludruk dibubarkan. Para pemain dihajar. Bahkan salah
seorang
    pemain yang memerankan raja, saking ketakutan bersembunyi di kebun
    dengan pakaian raja.

    Bulan Juli 1965, terjadi insiden di Dampit kabupaten Malang.
    Ceritanya, di rumah seorang PKI diadakan perhelatan dengan menanggap
    ludruk Lekra dengan lakon 'Malaikat Kawin'. Banser datang dari
    berbagai desa sekitar. Pada saat ludruk dipentaskan para anggota
    Banser yang menonton di bawah panggung segera melompat ke atas
    panggung. Kemudian dengan pisau terhunus, satu demi satu para pemain
    itu dicengkeram tubuhnya dan kemudian disobek mulutnya dengan pisau.
    Melihat keberingasan Banser, penonton bubar ketakutan. Mereka takut
    diamuk Banser.

    Menjelang pecahnya peristiwa 1 Oktober 1965 yang diberi nama "Gerakan
    30 September", aksi-aksi PKI yang menista dan menodai agama memang
    makin meningkat. Namun tidak ada satu pun organisasi Islam baik
    Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, PII, HMI, apalagi perorangan yang
    berani melakukan perlawanan kecuali Banser. Dan sejarah memang
    mencatat, sebelum pecahnya G-30-S/PKI antara PKI dan Banser memang
    sering terlibat bentrokan fisik yang menumpahkan darah gara-gara
kasus
    penodaan agama. Bahkan pada sejumlah kasus, terdapat sejumlah jagoan
    PKI yang dibantai oleh Banser seperti peristiwa Kencong, Kediri, dan
    Pagedangan, Turen, Malang.(bersambung).



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke