http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=336453&kat_id=3
Assalamu`alaykum, Pemerintah Dimita Atur Agama 56,1 persen pemuda ingin Perda berdasarkan nilai agama. JAKARTA -- Mayoritas pemuda menghendaki pemerintah mengatur urusan agama dan keyakinan. Bersamaan dengan itu, hampir setengah dari koresponden menyatakan kurang bangga menjadi warga Indonesia. Hal itu terungkap dalam survei yang dilakukan Setara Institute di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang pada 6 - 30 Mei lalu. Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, mengatakan, berdasarkan survei yang respondennya 800 pemuda terdiri dari pelajar dan mahasiswa berusia 17 - 22 tahun itu, sebanyak 59,4 persen responden berpendapat urusan agama maupun keyakinan diatur pemerintah. Sedangkan 37 persen berpendapat sebaiknya pemerintah tidak ikut campur masalah agama dan keyakinan. ''Sisanya sebanyak empat persen tidak menjawab atau tidak tahu,'' kata Bonar Tigor ketika memberikan pemaparan atas hasil surveinya, di Jakarta, Rabu (4/6). Bonar mengatakan, kaum muda itu menginginkan pemerintah mengatur urusan agama, dengan alasan untuk menghindari terjadinya kekacauan dalam kehidupan agama. Selain itu, lanjutnya, ada pula yang beralasan urusan agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Lalu, Bonar menuturkan, hasil survei dengan tingkat kepercayaan 95 persen ini pun menyatakan, koresponden yang 90,1 persen muslim itu, mayoritas atau sebanyak 56,1 persen, menghendaki Peraturan Daerah (Perda) di Indonesia berdasarkan nilai-nilai agama. Alasannya, kata Bonar, saat ini merupakan era otonomi daerah. ''Sebanyak 49 persen beralasan karena terdapat kelompok mayoritas agama tertentu di daerah tersebut,'' ujarnya. Meski demikian, Bonar mengatakan hasil survei pun menunjukkan mayoritas pemuda tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara. ''78,1 persen koresponden menyatakan Pancasila sebagai dasar negara adalah pilihan terbaik,'' katanya. Sedangkan sisanya, 12,3 persen koresponden menyatakan berdasarkan agama, 5,3 persen berdasarkan ideologi tertentu, dan 4,4 persen tidak menjawab. Namun, tutur Bonar, yang paling memprihatinkan adalah banyaknya pemuda yang kurang memiliki rasa bangga sebagai warga Indonesia. Survei menyatakan, 47,6 persen pemuda masih merasa malu menjadi warga Indonesia. Persentase itu, kata Bonar, adalah angka yang tidak menggembirakan untuk mengukur capaian Indonesia setelah berumur 100 tahun sejak deklarasi kebangkitan nasional. Menanggapi hasil survei Setara, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Pramono Anung, mengatakan, hasil survei itu menunjukkan pemahaman ideologi para pemuda masih buruk. Pemerintah, sambungnya, harus segera membangun kembali rasa kebanggaan sebagai warga Indonesia. ''Tapi pembangunan rasa kebangsaan itu bukan dilakukan dengan dogma,'' ungkapnya. Wassalam, HarryMau Bandung [Non-text portions of this message have been removed]
