http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=336592&kat_id=3

Assalamu`alaykum,

Pemerintah seharusnya mencermati akar masalah. 
JAKARTA--Forum Umat Islam (FUI) menuntut pemerintah tak berlebihan merespons 
insiden Monas, Ahad (1/6) lalu. Sikap berlebihan justru menciptakan ketegangan 
dan menambah provokasi terjadinya adu domba.

''Saya tidak tahu siapa yang mengadu domba, tapi adu dombanya sudah terjadi di 
mana-mana,'' kata penasihat FUI, Ahmad Sumargono, dalam jumpa pers di Jakarta, 
Kamis (5/6).

Pemerintah juga diminta adil dan tidak diskriminatif menangani kasus tersebut. 
Pengerahan ratusan personel polisi bersenjata lengkap yang memburu anggota 
Front Pembela Islam (FPI) dipertanyakan urgensinya. ''Padahal, mereka bukan 
teroris,'' kecamnya.

Kelambanan pemerintah membubarkan Ahmadiyah justru menjadi pangkal masalah. 
''Pemerintah berkali-kali janji (soal Ahmadiyah). Pemimpin yang memberi 
pernyataan dan tak mewujudkan, bagaimana bisa dipercaya?'' Bentuk sikap adil 
pemerintah, kata KH Didin Hafidhuddin, semua pihak yang terlibat harus diproses.

Di tempat terpisah, Forum Pemuda Mahasiswa Islam (FPMI) yang terdiri atas 
berbagai elemen kepemudaan menyerukan umat tak terjebak adu domba. ''Insiden 
Monas kental rekayasa intelijen asing yang sengaja menghendaki bentrokan sosial 
antarumat Islam,'' kata Ketua PB HMI MPO, Syahrul Effendi Dasopang.

FPMI juga menolak pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan 
melambungnya harga-harga menjadi isu konflik agama dan kekerasan. ''Kami 
melihat adanya indikasi pengalihan isu,'' kata Ketua Gema Pembebasan, Elwin 
El-Jundi.

''Kalau pemerintah sigap dan cepat mengambil keputusan soal Ahmadiyah, insiden 
Monas tak akan terjadi,'' tambah Ketua Umum KAMMI, Taufiq Amrullah.

Usai menjenguk Ketua FPI Habib Rizieq Shihab, Ketua Umum DPP PPP Suryadharma 
Ali mengatakan insiden Monas berpotensi menimbulkan konflik antarumat Islam. 
Karenanya, pemerintah diminta mencermati akar masalahnya.

''Ahmadiyah adalah anak-anak bangsa dan saudara sebangsa juga, tapi mereka tak 
bisa seenaknya,'' katanya. Kebebasan beragama dan penistaan agama adalah dua 
hal berbeda.

Di Yogyakarta, mantan ketua MPR, Amien Rais, meminta masyarakat menahan diri. 
Akar kerusuhan Monas, yaitu pro-kontra Ahmadiyah, adalah rekayasa politik. 
''Rezim yang gagal menyejahterakan rakyat, menambah pengangguran dan 
kemiskinan, pasti akan mencari isu untuk mengalihkan perhatian rakyat.''

Mengenai SKB Ahmadiyah, Mensesneg, Hatta Rajasa, mengatakan prosesnya memang 
butuh waktu lama, asalkan hasilnya menyejukkan. ''Kami ingin begitu keluar SKB, 
kondisinya kondusif, suasana damai, tenang, dan tak ada permusuhan.''

Kemarin, sweeping anggota FPI oleh polisi masih berlanjut. Dengan berkekuatan 
480 personel gabungan Polda Metro Jaya, kata Waka Satreskrim Polres Jakarta 
Barat, AKP Luthfie S, diamankan 20 anggota FPI yang masuk daftar pencarian 
orang (DPO).

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Abubakar Nataprawira, mengungkapkan, dari 20 
tersangka yang masuk DPO, tujuh anggota FPI telah ditahan, termasuk Habib 
Rizieq. Lima pasal KUHP dijeratkan kepada Habib, yakni penghasutan, 
pengeroyokan, penganiayaan, menyebar kebencian, dan menyembunyikan pelaku 
tindak pidana.

Kuasa hukum dari Advokasi Anti-Ahmadiyah, Ari Yusuf Amir, mengatakan, Habib 
Rizieq menolak menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) karena pasal yang 
dijeratkan dianggap tak memenuhi unsur tuduhan. Polisi juga dinilai tak adil 
karena tak memproses laporan FPI tentang 289 orang anggota AKKBB. 



Wassalam,
HarryMau
Bandung

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke