http://www.icmi.or.id/ind/content/view/211/62/

Assalamu`alaykum,

Setelah pengusiran anggota Ahmadiyah dari markasnya di kawasan Parung, Bogor, 
pekan lalu, polemik sekitar kelompok keagamaan asal Pakistan itu terus 
bergulir. Mulai dari silang pendapat apakah Ahmadiyah bagian dari ummat Islam 
ataukah tidak, sampai ajakan untuk menempatkan Ahmadiyah sebagai sebuah agama 
baru yang keberadaannya diakui undang-undang.
Dari catatan sejarah, persoalan Ahmadiyah sebenarnya bukan persoalan baru di 
Indonesia. Geliat Ahmadiyah bahkan memaksa MUI mengeluarkan fatwa tahun 1980. 
Lembaga tertinggi ulama Indonesia itu menetapkan bahwa Ahmadiyah bukan Islam 
dan menyesatkan. Untuk mendapatkan gambaran lebih jauh tentang Ahmadiyah, 
berikut kutipan bincang-bincang eramuslim dengan KH Kholil Ridwan, Anggota MUI, 
Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI) dan Wakil Ketua 
Komite Indonesia untuk Dunia Islam (KISDI):

Sampai saat ini belum ada sikap resmi dari pemerintah atas kekecewaan terhadap 
keberadaan Ahmadiyah. Bagaimana Komite Indonesia untuk Dunia Islam (KISDI) 
melihat masalah ini?

Ahmadiyah itu bukan Islam. Karena bukan Islam. Maka ia tidak berhak hidup di 
bumi Indonesia. Yang berhak hidup menurut undang-undang di Indonesia itu 
adalah, Islam, Kristen, Katholik, Hindhu dan Budha. Di luar itu tidak 
dibenarkan. Jadi, agama seperti Ahmadiyah, di Indonesia tidak boleh 
mendakwahkan agamanya di Indonesia. Kalau mendakwahkan berarti melanggar 
undang-undang. Kita berharap Pemerintah RI menindak. 

Kalau saja, misalnya, Arswendo membuat kasus penelitian orang terpopuler, Nabi 
Muhammad nomor 10, diganjar delapan tahun. Lalu yang di Malang, yang 
menerjemahkan shalat dengan bahasa Indoensia, ditahan dan ditangkap. Maka 
Ahmadiyah, yang pelanggarannya lebih besar dari itu , mestinya juga ditangkap. 
Karena dia (Ahmadiyah) memprovokasi umat Islam untuk berbuat anarkhi. Mestinya 
Pemerintah berbuat, dan KISDI berharap itu.

Bukankah Ahmadiyah sudah lama ada di Indonesia. Kenapa reaksi itu baru muncul 
sekarang?

Betul, Ahmadiyah sudah lama di Indonesia. Kita sebenarnya percaya pada 
Pemerintah, kita percaya pada Kejaksaan Agung, pada polisi. Tapi kenyataannya, 
setelah di makan waktu, mereka besar dan mereka mengadakan acara, lalu kita 
bereaksi. Lho, Ahmadiyah besar begini, dan mengundang tokoh internasionalnya. 
Kalau mereka tidak mengundang, mungkin kita tidak (bereaksi, red). Pernyataan 
kita merupakan reaksi pernyataan Dawam Rahardjo dan Aliansi Masyarakat 
Toleransi Beragama. Sebagai reaksi, yang resah sebenarnya masyarakat Parung, 
Bogor yang ada di sekitar markas Ahmadiyah. Mereka terprovokasi dengan kegiatan 
itu. Jadi reaksi KISDI itu atas pernyataan Dawan dan kawannya itu. 

Ahmadiyah, menurut Anda, bagian dari Islam atau memang di luar Islam?

Kita melihat Rabithah (Rabithah 'Alam Islamy, red), di situ ada kubaro 
(petinggi-petinggi, red), ulama, ada majelis ulama internasional, telah 
menghukumkan bahwa Ahmadiyah di luar Islam. Jadi kita ikuti pendapat itu saja. 
Di Pakistan Ahmadiyah disamakan dengan minoritas, seperti Kristen, Katholik, 
Hindhu dan Buddha. Orang-orang Pakistan yang mau naik haji minta visa ke 
Kedubes harus membawa surat keterangan bahwa dia bukan Ahmadiyah. Karena orang 
Ahmadiyah tidak dianggap Islam. 

Berarti Ahmadiyah memakai-makai istilah Islam hanya sebagai kedok, dalih atau 
cara untuk dianggap sebagai bagian dari umat Islam atau ormas Islam?

Justru itu yang merusak Islam. Kalau mereka menganggap Ahmadiyah sebagai agama 
sendiri, tidak membawa-bawa Islam dan Al-Qur'an, maka silahkan saja. Itu lakum 
diinukum waliya dien . Justru kebebasan agama di situ. Jadi kalau kita dibilang 
tidak memberikan kebebasan beragama itu tidak benar. Justru mereka (Ahmadiyah) 
itu merusak agama kita. Kalau mereka ingin mendirikan agama silahkan mendirikan 
agama sendiri, tapi tidak mengklaim bagian dari Islam. Tapi di Indonesia tidak 
berhak hidup. Karena yang sesuai dengan UU itu cuma ada lima. 

Kalau ada yang mengatakan bahwa Ahmadiyah tidak membuat keresahan, menurut Anda?

Buktinya jama'ahnya semakin banyak. Berarti mereka dakwah mengajak orang Islam 
untuk masuk Ahmadiyah. Dan setelah masuk dia tidak mau jama'ah dengan umat 
Islam. Masjidnya sendiri, ibadahnya sendiri, wanita Ahmadiyah tidak boleh 
dinikahi laki-laki yang bukan jama'ah Ahmadiyah. Tapi laki-laki dia boleh 
menikahi umat Islam. Yang benar saja. jadi kita dianggap kafir, dan dia 
menganggap dirinya Islam.

Dalam ajaran Ahmadiyah, selain tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi 
terakhir, apa ada hal-hal lain yang secara aqidah melanggar ketentuan Islam?

Ada ajaran-ajaran lain yang menyimpang dari aqidah Islam. Ada 11 point 
penyimpangan Ahmadiyah seperti dalam buku "Aliran dan Paham Sesat" karya 
Hartono Jaiz.

Akhir-akhir ini Islam selalu dipojokkan dengan berbagai hal. Setelah tuduhan 
terorisme oleh AS dan sekutunya, ajaran sesat, kini Ahmadiyah yang mengklaim 
diri sebaagai bagian dari umat Islam. Ini gejala apa?

Ini karena era reformasi yang liberal, ditandai dengan kebebasan pers, 
kebebasan berpendapat, kebebasan berkumpul, demokrasi atas nama hakasasi 
manusia, dan yang ngawu-ngawur itu kemudian muncul. PKI sekarang saja berani 
muncul. Ada yang jadi anggota DPR, lalu menulis buku "Aku Bangga Menjadi Anak 
PKI." Apalagi yang Ahmadiyah, dengan embel-embel Islam.

Apa Anda melihat kejadian ini ada desain dari pihak tertentu untuk mengkacaukan 
(umat) Islam?

Secara global, pergumulan ideologi itu pasti ada. Memang, di luar Islam ada 
keresahan dengan kembalinya bangkitnya memimpin dunia ini. Maka, dibuatlah 
skenario untuk meredam kebangkitan Islam dan umat Islam ini. Maka setiap ada 
benih yang dijadikan perpecahan umat dan menjadi bom waktu, itu dipelihara dan 
dibiarkan. Cuma kita tidak bisa membicarkannya secara spesefik. Dari zaman 
Perang Salib kan memang begitu.

Lalu tanggapan dunia Islam terhadap keberadaan Ahmadiyah seperti apa?

Kalau Malaysia melarang secara tegas. Brunei juga melarang secara tegas. 
Pakistan menganggap Ahmadiyah sebagai non-Muslim. Lalu Liga Dunia Islam 
menganggap mereka sebagai bukan Islam. Statement bahwa Ahmadiyah bukan Islam 
itu sudah maksimal. Silahkan buat agama sendiri. Dia mau naik haji ke Rabwah 
silahkan, tapi jangan mengaku sebagai Muslim. Itu namanya benalu. Dan benalu 
harus dipangkas.


Wassalam,
HarryMau
"al Jaahilu laa Ya`lamu Rutbata Nafsih, Fakayfa Ya`rifu Rutbata Ghayrih?"

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke