Tulisan ini telah saya posting ke
milis:[EMAIL PROTECTED] karena keterkaitannya.
Posting ini sekaligus sebagai undangan bagi kawan-kawan alumni
Futuhiyyah Mranggen untuk ikut meramaikan www.futuhiyyah.net dan
bergabung di milis internalnya, [EMAIL PROTECTED] 

================================================



*Salaf, Salafi(yyah) danSalafi(yyun)*

Upaya Mengenal dan Memposisikan Diri dari Maraknya Klaim Salafi – 
(kasus Futuhiyyah EssalafyOfficial Site)


Salafiyyun*

Secara bahasa salafiyyun berarti orang-orang yang mengikuti
langkahsalaf. Sementara salaf itu sendiri berarti orang-orang terdahulu
yang telah berlalu.

Dalam terma pemikiran Islam salafiyyun berarti mencakup mayoritas
aliran-aliran pemikiran yang ada, dengan berbagai sekte dan aliran
sekolah yangdianutnya meskipun dengan kadar yang berlainan dan makna
yang berpautan. Karena, mayoritas aliran-aliran tersebut memiliki masa
lalu (baca: latar belakang atausejarah, al-maadlii, salaf) yang menjadi
rujukan dan model teladan yang dianut. Mereka menisbatkan dirinya kepada
salaf, mengikuti kurikulum (metode) mereka dan senantiasa menjunjung
prinsip-prinsipnya. 

Dengan sendirinya, terma salafiyyuntidak mencakup mereka yang tidak
memiliki keterkaitan epestemik(kesadaran) dengan khazanah yang
diwarisinya, masa lalu (baca:salaf).

Jika salaf berarti yang telah lalu, maka kita semua adalah salafiyyun.
Akan tetapi salafiyyun(baca: salafi/salafy—orang yang mengikuti jejak
salaf) bermacam-macam rupa: 

[untuk memudahkan, dari sini kami membuat penegasan bahwa Salafi berarti
orang yang mengikuti salaf, ia adalah pengikut; sementara Salaf adalah
generasi awal yang dijadikan acuan, ia adalah teladan yang diikuti] 

Ada Salafi yang langkahnya hanya meniru para Salaf, mereka inilah
biasanya orang-orang yang kaku, jumud dan hanya bisa menjadikan dirinya
sebagai imitasi, mengkilap namun sebatas kulit luar.

Dalam realita praktis kita bisa melihat sekeliling kita, kepada
kawan-kawan dan saudara-saudara kita sendiri yang mungkin telah memilih
menjadi bagian dari salafi ini. Mereka berteriak lantang, bahkan
menawarkan diri sebagai tumbal hanya untuk menegakkan nilai-nilai yang,
entah, mereka sadar atau tidak, hanya nilai imitatif. Nilai yang kurang
atau bahkan samasekali tidak menyentuh kemaslahatan umat. Seperti
teriakan harus memanjangkan jenggot, berjubah atau bercelana cekak dan
sejenisya itu.

Ada Salafi yang langkahnya merujuk kepada para Salaf, namun mereka
bekerja keras mempelajari dan mengolah warisan, peninggalan para Salaf
itu untuk dipilah antara nilai prinsip dengan nilai temporal, antara
nilai yang baku dengan nilai yang bisa atau bahkan harus berubah.
Memilah sesuatu yang layak dipertahankan dan mencari inspirasi baru
melaui warisan lama yang sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman,
kebiasan dan adat-istiadat yang beragam. Memilah dan memilih demi
kemaslahatan yang lebih sesuai dengan realita baru.

Mungkin salafi kedua ini yang sesuai dengan semboyan kita, semboyan
Futuhiyyah dan, sepertinya, semboyan NU juga: al-muhaafadhah`ala
al-qadiim al-shaalih wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah. Dengan
memproklamirkan semboyan ini, berarti Futuhiyyah menegaskan diri berada
pada barisan umat yang lentur dan kreatif demi menuju pembaruan terus
menerus untuk kebaikan umat sampai akhir hayat. Dengan semboyan itu,
berarti Futuhiyyah tidak akan merasa alergi dengan berbagai ujicoba dan
pengalaman-pengalaman baru untuk diambil berkah kemaslahatannya yang
lebih besar. Nilai lama akan tetap dipertahankan selama nilai itu
harmoni dengan realita yang dihadapi dan membawa kemaslahatan untuk
umat. Namun pada saat yang sama tak segan-segan mengambil nilai baru
jika dirasa nilai baru itu akan membawa kemaslahatan yang lebih besar.

Di antara para Salafi ada yang menjadikan pemahaman Salaf sebagai
inspirasi menuju pemahaman baru yang sesuai dengan realita baru. Namun,
di antara para Salafi, juga ada yang berusaha lari dari realita hidup
yang kini dihadapi dengan dalih mengajak (mundur) kembali ke realita
Salaf yang telah lampau. Lari menuju pengalaman dan percobaan lama milik
Salaf yang telah dilipat zaman.

Di antara para Salafi ada yang masa lalunya berupa masa kemajuan dan
kreatifitas dalam sejarahperadaban kita. Namun, ada juga di antara para
Salafi yang masa lalunya berupa masa kemelaratan, ketakberdayaan dan
kemunduran dalam sejarah peradaban kita.

Di antara para Salafi adayang warisan peninggalannya berupa budaya dan
peradaban miliksendiri; kekayaan sendiri serta wawasan keislaman
original (untukmembedakan dengan Islam yang telah diterapkan oleh
suatumasyarakat/bangsa tertentu di wilayah atau masa tertentu). Namun,
adapula di antara para Salafi yang warisan peninggalannya berupa
budayadan peradaban milik orang lain, kekayaan orang lain.

Di antara para Salafi ada yang masa lalunya berupa mazhab dan aliran
tektualis dalam sejarah turats kita. Namun, di antara para Salafi ada
juga yang masa lalunya berupa mazhab dan aliran rasionalis dalam sejarah
turats kita, bahkan ada di antara para Salafi yang masa lalunya berupa
kecenderungan sufistik dalam warisan peradaban kita.

Di antara para Salafi ada yang masa lalunya berupa mazhab dan aliran
turast itu sendiri (hanya menerima pengetahuan lama, bahkan ada yang
menentukan siapa penulisnya) disertai kefanatikan terhadap mazhab ini.
Namun, ada jugadi antara para Salafi yang rujukannya berupa seluruh
khazanah warisan umat dari berbagai aliran dan mazhab, merangkul
semuanya dengan bangga lalu memilah yang terbaik di antara
mutiara-mutiara yang ada.

Dengan penuh kejujuran, semua aliran yang tersebut di atas memang
tercakup dalam terma salafi. Akan tetapi, masyhur diketahui, ada
kelompok yang ingin mengklaim terma ini, sehingga hanya berlaku untuk
kelompok mereka. Bahkan,hampir-hampir, mereka memonopoli istilah ini.
Mereka adalah kelompokyang meletakkan dirinya dalam barisan tektualis
literalis, yang memahami teks-teks berdasarkan pemahaman permukaan serta
menolak Kias dan pendapat ahli. Kelompok ini lebih sering memperhatikan
riwayat-riwayat dibanding mengolah dan menganalisa teks. Teks-teks yang
ada dimandulkan dari upaya melahirkan inspirasi penerapan yang sesuai
realita. Kelompok inilah yang dari dulunya mengharamkan seorang muslim
mempelajari Ilmu Kalam (sering dibaca dengan IlmuTauhid) dan, tentu
saja, Ilmu Filsafat yang notabenenya merupakan pendatang dalam ranah
keilmuan Islam. Mereka menolak ilmu-ilmu penalaran, teoritis dan
analitis. Merekalah kelompok yang sering disebut dengan Ahl al-Hadits
karena kesibukannya menekuni ilmu-ilmu riwayat serta proses
transmisinya.

Guru besar sekolah ini adalah Abu Abdullah, Ahmad Ibn Hanbal (164 – 241
H./780 – 855M.), di samping deretan nama lainnya yang tak asing bagi
kita, yaitupara imam agung yang memilih lebih mendalami ilmu-ilmu
riwayat, semisal Ibn Rahawaih, para pakar Jarh waTa´dil dan para Imam
Hadits sepertiImam Bukhari, Abu Daud, al-Darimi, al-Thabrani, al-Baihaqi
dan lain-lainnya. Akan tetapi, pada masa Ibn Taimiyyah (661 – 728H./1263
– 1328 M.) dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah (691 – 751 H./1292– 1350 M.)
sekolah ini mengalami sedikit perubahan. Pada masa mereka berdua ilmu
nalar sedikit diberi tempat, meskipun mayoritas dan prioritas rujukannya
tetap pada bunyi literal teks dan transmisi riwayat.

Belakangan Ibnu Qayyim mengatakan: "teks-teks al-Qur'an dan al-Sunnah
sudah mencakup seluruh hukum dari semua permasalahan yang ada. Allah dan
Rasul-Nya juga tidak membenarkan kita melakukan pengkiasan maupun
perujukan pada pendapat akal. Syariat sama sekali tidak membutuhkan
Kias. Syariat sudah kenyang dari sekedar pendapat akal, Kias dan
kebijakan serta kebajikan pengalaman manusia, akan tetapi hal itu semua
baru bisa dicapai jika didasari dengan pemahaman yang dianugerahkan oleh
Allah kepada hamba-Nya."

Bagi Salafi jenis ini, teks tetap merupakan satu-satunya rujukan.
Meskipun padaperkembangan selanjutnya, mereka merasa tidak cukup dengan
hanya melihat teks-teks tersebut secara literal. 

Keberpihakan Salafi Tekstualis terhadap superioritas dan hegemoni teks
yang berlebih-lebihan ini diakibatkan oleh banyak faktor, diantaranya:
ketakutan yang berlebihan terhadap fanatisme kelompok lawannya, yaitu
para filosof rasionalitas Yunani yang terlepas dari kontrol teks-teks
keagamaan. Faktor lainnya adalah kecenderungan sufistik kelompok
Iluminasi Batiniah yang memilih inklinasi dan intuisi (al-dzauq wa
al-hads) sebagai sumber inspirasi hukum syariat, tanpa ada kawalan dari
teks dan pertimbangan akal.

Namun karena semua kecenderungan kelompok yang ada, baik yang
tekstualis, rasionalis maupun intuitif batiniyyah—sedikit banyak—telah
terjebak pada fanatisme berlebih-lebihan, maka kelompok-kelompok
tersebut tetap tak kuasa mengkutubkan mainstream umat ke dalam kubu
mereka. Mainstream umat akhirnya mengkutub pada kecenderungan salafiyyah
moderat, yaitu salafiyyah yang menggabungkan antara teks dan akal, lalu
mengharmonikan antara keduanya. Salafiyyah inilah yang dikenal dengan
nama asy`ariyyah.  Salafiyyah moderat yang dibangun oleh Imam Abu
al-Hasan al-Asy`ary, Ali bin Ismail (260 – 324 H./874 – 936 M.) 

Dalam sekolah asy`ariyyah ini, teks-teks keagamaan dan tansmisi riwayat
menyatu dengan pemahaman akal. Salafi kelompok ini terbuka menerima
pelajaran IlmuKalam (sering dibaca dengan Ilmu Tauhid) yang diharamkan
oleh SalafiTekstualis. Salafi Asy`ariyyah juga mempelajari Ilmu Ushul
Fiqh yang merupakan filsafat rasionalitas Islami dalam
perundang-undangan.

Sekolah Asy`ariyyah ini selanjutnya berkembang di tangan imam-imam
besarnya, terutama ditangan Imam al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad bin Abi
al-Thayyib (453H./1013 M.), Imam al-Haramain, al-Juwainy (Abu al-Maali
Abd al-Malikbin Abdullah Ibn Yusuf [419 – 478 H./1028 – 1085 M.]) dan
Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali (450 – 505 H./1058 – 1111 M).

Dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, tampak bentuk dan perimbangan
sekolah-sekolah salafi sebagaimana urutan (baca: kuantitas) di atas
terekam sepanjang sejarah. Pada masa modern sekarang, kecenderungan
salafi tekstualis tampak diwakili oleh seruan Syaikh Muhammad bin Abd
al-Wahhab (1115 – 1206 H./1702 – 1792 M.) yang biasa kita kenal dengan
nama Wahabiyah. Sementara sekolah Asy`ariyyah tetap merupakan salafi
tekstualis rasionalis yang menjadi kubu mainstream umat Islam, kubu
jumhuural-ummah.


*)diambil dan dikondisikan dari tulisan Dr. Muhammad Imarah dalam
al-Mausu`ah al-Islamiyyah al-`Ammah, terbitan Kementrian Wakaf, Majlis 
 A`la li al-Syuunal-Islamiyyah, Republik Arab Mesir.

Alhamdulillah, bini`matihi tatimmu al-shaalihah.

Salam, 


Shocheh Ha.


-- 
        Shocheh Ha.
        http://fakraa.wordpress.com
        http://fakraa.blogspot.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke