Tulisan ini telah saya posting ke
milis:[EMAIL PROTECTED] karena keterkaitannya.
Posting ini sekaligus sebagai undangan bagi kawan-kawan alumni
Futuhiyyah Mranggen untuk ikut meramaikan www.futuhiyyah.net dan
bergabung di milis internalnya, [EMAIL PROTECTED]
================================================
Salaf, Salafi(yyah) dan Salafi(yyun)
Upaya Mengenal dan Memposisikan Diri dalamMaraknya Klaim Salafi –
(kasus Futuhiyyah Essalafy Official Site)
Salafiyyah
Secara bahasa kata salafiyyah merupakan bentuk kata penisbatan kepada
semua yang bernuansa lampau atau kepada pokok yang menjadi awal dan
permulaan sesuatu—yang paling dulu atau paling lampau (salaf).
Sebagaimana diuraikan pada tulisan sebelumnya, kata salaf berarti yang
telah lalu atau telah lewat (al-maadlii), dan kata al-saalif berarti
yang terdahulu atau yang dulu.
Sementara salafiyyah dalam terma pemikiran intelektual muslim berarti
merujukkan hukum-hukum syariat (keagamaan, Islam) kepada sumber-sumber
pertama, yaitu al-Qurán dan al-Sunnah serta mengabaikan selain dua
sumber tersebut.
Definisi di atas sejalan dengan bunyi Hadits, ¨taraktu fiikum amrain, in
tamassaktum bihimaa lan tadlilluu abada, kitaaballahi wa sunnata
rasuulih.¨
Meskipun definisi salafiyyah di atas sangat gamblang, akan tetapi dalam
warisan pemikiran intelektual Islam yang kita terima, salafiyyah
memiliki aneka macam kelompok dan aliran.
[untuk memudahkan, mulai dari sini kami membuat penegasan bahwa
Salafiberarti orang yang mengikuti metode salaf, ia adalah orangnyaatau
pengikutnya; sementara Salafiyyahadalah metode yang ditempuh, ia adalah
cara dan metode yang digunakan]
SemuaSalafimerujukkan pemahaman keagamaan mereka kepada al-Qurán dan
al-Sunnah, akan tetapi di antara para Salafitersebut ada kelompok yang
cenderung memahami teks-teks al-Kitab dan al-Sunnah berdasarkan bunyi
dan bentuk literal semata. Dan, ada juga kelompok Salafi yang memahami
teks-teks al-Kitab dan al-Sunnah menggunakan analisa akal. Dari kelompok
yang menggunakan akal untuk memahami teks ini, ada di antara mereka yang
cenderung berlebih-lebihan dalammengedepankan akalnya, ada yang moderat,
dan ada yang seperlunya saja.
Di antara para Salafi, ada kelompok yang cenderung rigid, kaku dan hanya
mau meniru (taklid) atau mengulang dari contoh yang telah ada. Namun,
ada juga di antara para Salafi itukelompok yang terbuka, lentur dan siap
melakukan pembaruan, bukan hanya meniru dan mengekor. Kelompok kedua ini
merujuk sumber-sumber awal untuk dijadikan ilham dalam ijtihad-ijtihad
baru yang lebih sesuai dengan realita masanya.
Di antara para Salafi, ada yang masa lalunya memiliki latar belakang
gagasan dan pemikiran peradaban berkembang (baca: maju), padat karya dan
penuh terobosan. Sementara ada juga di antara para Salafi itu yang masa
lalunya diwarnai dengan berbagai gagasan dan pemikiran peradaban yang
sedang surut (baca: mundur), penuh kekakuan, kejumudan dan hanya bisa
meniru serta kurang inovatif.
Di antara para Salafi ada yang aktifitasnya hanya memfotokopi semua
warisan yang dimiliki tanpa membedakan antara gagasan ideal dan
pengalaman. Ide-ide pemikirannya mencampur-adukkan antara
prinsip-prinsip pokok dengan nilai-nilai temporal. Namun, ada juga di
antara para Salafi itu yang menjadikan prinsip-prinsip pokok yang mereka
terima dari warisan (baca: turats) sebagai ilham yang memandu untuk
dimulainya percobaan-percobaan dan pengalaman-pengalaman baru yang
diselaraskan dengan pasang surutnya sejarah.
Di antara para Salafi ada yang hidup di masa lalu atau melestarikan
kehidupan masa lalu. Namun, di antara para Salafi jugaada yang
mengharmonikan kehidupan masa lalu dengan kehidupan masa kini serta
kehidupan modern.
Keragaman kelompok Salafi yang terkadang nyaris menyerupai kubu yang
saling berlawanan itu,merekalah yang tercakup di dalam istilah
salafiini. Terutama dalam arena pemikiran kita saat ini. Sebuah istilah
yang penuh dengan ambiguitas, mudah disalahpahami dan bahkan menjadi
ajang untuk berburuk sangka!!
Di antara madrasah pemikiran yang paling getolberusaha memonopoli
istilah salafiyyahini--dalam khazanah intelektual kita (baca: turast)—
adalahSekolah Hadits (madrasah ahl hadits)yang ketakutan terhadap
kedatangan sekolah Yunani--Filsafat dan Logika—serta kaget terhadap
rasionalitas Yunani yang jauh dari teks-teks agama. Mereka (madrasah ahl
hadits) lantas berlindung di balik kesucian teks-teks agama dengan cara
mengedepankan pemahaman literal.Bahkan mereka rela berlindung di balik
teks agama yang lemah dan rapuh sekalipun, demi menentang argumentasi
akal, kias, takwildan tafsir serta jenis-jenis penalaran lainnya.
Madrasah inilah yang tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Imam Ahmad bin
Hanbal (164 – 241 H./780 – 855 M.). Sehingga, ada sebagian dari umat ini
yang mengira bahwamerekalah salafiyyah sejati! Padahal, sebenarnya,
mereka hanyalah satu bagian dari berbagai kelompok aliran salafiyah yang
ada.
Kurikulum sekolah ini sangatmengutamakan naskah dan bunyi-bunyi
tekssebagai sumber rujukan ketimbang sumber-sumber pengetahuan lainnya.
Bahkan, hampir-hampir, teks sajalah yang merupakan sumber satu-satunya.
Bagi aliran ini hanya teks yang bisa diterima sebagai dasar argumentasi.
Tak ada celah bagi sumber lainnya. Urutan naskahteks yang mereka gunakan
adalah: teks-teks dari al-Kitab dan al-Sunnah, Fatwa Sahabat, Fatwa
Pilihan jika ada perbedaan dalam fatwa-fatwa sahabat, Hadits Mursal dan
Hadits Dlaif (lemah), lalubaru Kias jika terpaksa. Itulah lima fondasi
yang ditentukan oleh Imam Ahmad sebagai pilar kurikulum Sekolah Hadits
seraya menolak argumentasi pemikiran akalseseorang (baca: pendapat
ulama, ilmuwan, pakar, ahli dan sejenisnya). Mereka juga menolak Kias,
Takwil, Tafsir, Intuisi, Logika dan hukum kausalitas dalam pemikiran
keagamaan.
Salah seorang tokoh sekolah ini, Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah(691 –
751 H./1292 – 1350 M.) mempertegas kurikulum sekolah salafiyyah
tektualisini, sebagaimana telah di-blue print-kan oleh Imam Ahmad bin
Hanbal, dalam pernyataannya:
Dasar Pertama: Teks-Teks al-Kitab dan al-Sunnah.
¨Jika sebuah perkara tertera di dalam nash/teks, maka itulah yang
dijadikan fatwa. Tidak ada lagi sumber lain yang akan dilirik, apa pun
yang terjadi."
Dasar Kedua: Fatwa Sahabat
"Jika sebuah permasalahan dijumpai di dalam Fatwa para Sahabat dan tak
ada seorang sahabat pun yang menentang fatwa itu, maka itulah yang
dijadikan fatwa. Tidak ada rujukan lain yang akan dilirik."
Dasar Ketiga: Jika FatwaSahabat Berbeda
"Jika sebuah permasalahan diperselisihkan dalam pendapat para sahabat,
maka dipilih pendapat yang paling mendekatial-Kitab dan al-Sunnah. Jika
masing-masing pendapat tidak ada yang lebih dekat kepada al-Kitab dan
al-Sunnah, maka masing-masing pendapat disebutkan tanpa merekomendasikan
salah satunya."
Dasar Keempat: Menggunakan Hadits Mursal dan Hadits Dlaif
"Jika sebuah kasus tidak ditemukan dasar rujukannya selain di dalam
Hadits Mursal atau Hadits Dlaif, maka yang tertera di dalam teks kedua
sumber itu yang akan digunakan."
Dasar Kelima: Kias jika Terpaksa
"Jika suatu perkara tidak ditemukan sumber rujukannya di dalamteks-teks
al-Kitab, al-Sunnah, Fatwa Sahabat, atau salah satu pendapat Sahabat,
juga hal itu tidak ditemui di dalam Hadits Mursal atau Dlaif, maka
terpaksa menggunakan Kias."
***
Sementara kurikulum pembaruan, sekolah salafiyyah rasionalis terangkum
dalam ucapan Imam Muhammad Abduh (1265 – 1323 H./1849 – 1905 M.) ketika
mengatakan:
¨Dengan lantang saya telah mengajak umat ini untuk membebaskan akal kita
dari belenggu taklid. Saya mengajak agar umat ini memahami agama
sebagaimana cara yang telah ditempuh oleh para Salaf (ingat! Salaf tidak
sama dengan Salafi) sebelum munculnya perbedaan dan pertentangan. Saya
mengajak umat ini agar menggali pengetahuan dari sumber-sumber awalnya
serta menghormatinya (baca: menghormati teks) sebagai bagian dari
penyelaras akal kemanusiaan yang telah dianugerahkan Allah untuk
meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan akal, juga sebagai
alat kendali yang akan menghambat terjadinya benturan dan kerancuan
pemikiran agar hikmah dan kebijakan Allah dalam memelihara harmoni
kehidupan manusiaterlaksana dengan sempurna. Denganbegitu, agama akan
menjadi kawan bagi ilmu pengetahuan, ia akan menjadi energi pembangkit
bagi munculnya eksplorasi-eksplorasi rahasia semesta. Agama juga akan
menjadi penyeru bagi penghormatan terhadap realita-realita baku serta
menerimanya dengan penuh ketenteraman jiwa dan semangat berkarya."
Dalam kurikulum salafiyyahrasionalis ini ditemukan persaudaraan antara
teks-teks agama dengan akal kemanusiaan, persahabatan antara
ilmupengetahuan dengan doktrin keagamaan, sertadi sini pula ditemukan
salafiyyah berkelindan dalam satu baju dengan pembaruan.
*) diambil dan dikondisikan dari tulisan Dr. Muhammad Imarah dalam
al-Mausu`ah al-Islamiyyah al-`Ammah, terbitan Kementrian Wakaf, Majlis
A`la li al-Syuun al-Islamiyyah, Republik Arab Mesir.
tulisan mendatang, insyaallah, tentang:
*Salafiyyun*
Salam,
Shocheh Ha.
--
Shocheh Ha.
http://fakraa.wordpress.com
http://fakraa.blogspot.com
[Non-text portions of this message have been removed]