--- In 
[EMAIL PROTECTED], 
"joeki_chan" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

IBNU TAIMIYAH MEMBUNGKAM 
WAHHABI


Belakanganini kata 'salaf' semakin 
populer. Bermunculan pula 
kelompok
yangmengusung nama salaf, 
salafi, salafuna, salaf shaleh dan
derivatnya.Beberapa kelompok 
yang sebenarnya berbeda prinsip 
saling
mengklaimbahwa dialah yang 
paling sempurna mengikuti jalan 
salaf.
Runyamnyajika ternyata 
kelompok tersebut berbeda 
dengan generasi
pendahulunyadalam banyak hal. 
Kenyataan ini tak jarang membuat 
umat
islambingung, terutama mereka 
yang hanya mengandalkan buku-
buku
terjemahanuntuk memperluas 
wawasan keislamannya. Lalu siapa 
pengikut
salafsebenarnya? Apakah 
kelompok yang konsisten 
menapak jejak
salafataukah kelompok yang 
hanya menggunakan nama salafi?.

Tulisan ini mencoba menjawab 
kebingungan di atas dan menguak 
siapa
pengikutsalaf sebenarnya.

Istilahsalafi berasal dari kata salaf 
yang berarti terdahulu.
Menurutahlussunnah yang 
dimaksud salaf adalah para 
ulama' empat
madzhab danulama sebelumnya 
yang kapasitas ilmu dan amalnya 
tidak
diragukan lagidan mempunyai 
sanad (mata rantai keilmuan) 
sampai pada
Nabi SAW.

Namunbelakangan muncul 
sekelompok orang yang melabeli 
diri dengan
namasalafi dan aktif memakai 
nama tersebut pada buku-
bukunya.
Kelompokyang berslogan 
"kembali" pada Al Qur'an dan 
sunnah
tersebutmengaku merujuk 
langsung kepada para sahabat 
yang hidup pada
masaNabi SAW, tanpa harus 
melewati para ulama empat 
madzhab.

Bahkanmenurut sebagian mereka, 
diharamkan mengikuti madzhab 
tertentu.
Sebagaimana diungkapkan oleh 
Syekh Abdul Aziz bin Baz dalam 
salahsatu
majalah di Arab Saudi, dia juga 
menyatakan tidak 
mengikutimadzhab Imam
Ahmad bin Hanbal.

Pernyataandi atas menimbulkan 
pertanyaan besar di kalangan 
umat islam
yangberpikir obyektif. Sebab 
dalam catatan sejarah, ulama-
ulama
besarpendahulu mereka adalah 
penganut madzhab Imam Ahmad 
bin Hanbal.
Sebutsaja Syekh Ibnu Taimiyah, 
Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, Ibnu 
Abdil
Hadi,Ibnu Qatadah, kemudian juga 
menyusul setelahnya Al Zarkasyi,
Mura'i,Ibnu Yusuf, Ibnu Habirah, 
Al Hajjawiy, Al Mardaway, Al Ba'ly,
AlBuhti dan Ibnu Muflih. Serta 
yang terakhir Syekh Muhammad 
bin
AbdulWahhab beserta anak-
anaknya, juga mufti Muhammad 
bin Ibrahim,
danIbnu Hamid. Semoga rahmat 
Allah atas mereka semua.

Ironissekali memang, apakah 
berarti Imam Ahmad bin Hanbal 
dan para
imamlainnya tidak berpegang 
teguh pada Al-Qur'an dan sunnah?
sehinggakelompok ini tidak perlu 
mengikuti para pendahulunya
dalambermadzhab? . Apabila 
mereka sudah mengesampingkan
kewajibanbermadzhab dan tidak 
mengikuti para salafnya, layakkah
merekamenyatakan dirinya salafy?

Belumlagi aksi manipulasi mereka 
terhadap ilmu pengetahuan.
Merekamemalsukan sebagian dari 
kitab kitab karya ulama' salaf.
Sebagaicontoh, kitab Al Adzkar 
karya Imam Nawawi cetakan Darul
Huda,Riyadh, 1409 H, yang 
ditahqiq oleh Abdul Qadir Asy 
Syami.
Padahalaman 295, pasal tentang 
ziarah kemakam NabiSAW, dirubah
judulnya menjadi pasaltentang 
ziarah ke masjidNabi SAW. 
Beberapa baris
di awal dan akhir pasalitu juga 
dihapus. Tak cukup itu, mereka 
juga
dengan sengajamenghilangka n 
kisah tentang Al Utbiy yang 
diceritakan
Imam Nawawidalam kitab 
tersebut.

Untukdiketahui, Al Utbiy (guru 
Imam Syafi'i) pernah menyaksikan
seorangarab pedalaman berziarah 
dan bertawassul kepada Nabi 
SAW.
Kemudian AlUtbiy bermimpi 
bertemu Nabi SAW, dalam 
mimpinya Nabi
menyuruhmemberitahu kan pada 
orang dusun tersebut bahwa ia 
diampuni
Allahberkat ziarah dan tawassul-
Nya. Imam Nawawi juga 
menceritakan
kisahini dalam kitab Majmu' dan 
Mughni.

Pemalsuanjuga mereka lakukan 
terhadap kitab Hasyiah Shawi 
atasTafsir
Jalalain dengan membuang 
bagian-bagian yang tidak 
cocokdengan
pandangannya. Hal itu mereka 
lakukan pula terhadap 
kitabHasyiah Ibn
Abidin dalam madzhab Hanafi 
dengan menghilangkanpasal 
khusus yang
menceritakan para wali, abdal 
dan orang-orangsholeh.

Parahnya,kitab karya Ibnu 
Taimiyah yang dianggap sakral 
juga tak luput
dariaksi mereka. Pada penerbitan 
terakhir kumpulan fatwa Syekh
IbnuTaimiyah, mereka membuang 
juz 10 yang berisi tentang ilmu 
sulukdan
tasawwuf. (Alhamdulilah, penulis 
memiliki cetakan lama)

Bukankahini semua perbuatan 
dzalim? Mereka jelas-jelas 
melanggar hak
ciptakarya intelektual para 
pengarang dan melecehkan
karya-karyamonument al yang 
sangat bernilai dalam dunia islam. 
Lebih
dari itu,tindakan ini juga 
merupakan pengaburan fakta dan
ketidakjujuranterha dap dunia 
ilmu pengetahuan yang 
menjunjung tinggi
sikaptransparansi dan obyektivitas.


MENGIKUTI SALAF?

Berikutini beberapa hal yang 
berkaitan dengan masalah 
tasawwuf,
maulid,talqin mayyit, ziarah dan 
lain-lain yang terdapat dalam
kitab-kitabpara ulama pendahulu 
wahhabi. Ironisnya, sikap mereka
sekarang justrubertolak belakang 
dengan pendapat ulama mereka 
sendiri.

Pertama,tentang tasawuf. Dalam 
kumpulan fatwa jilid 10 hal 507
SyekhIbnu Taimiyah berkata, 
"Para imam sufi dan para syekh 
yangdulu
dikenal luas, seperti Imam Juneid 
bin Muhammad 
besertapengikutnya,
Syekh Abdul Qadir al-Jailani serta 
lainnya, adalahorang- orang yang
paling teguh dalam melaksaankan 
perintah danmenjauhi larangan 
Allah.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, 
kalam-kalamnyasecar a 
keseluruhan berisi
anjuran untuk mengikuti ajaran 
syariat danmenjauhi larangan serta
bersabar menerima takdir Allah.

Dalam"Madarijus salikin" hal. 307 
jilid 2 IbnulQayyim Al-Jauziyah
berkata, "Agama secara 
menyeluruh adalahakhlak, barang 
siapa melebihi
dirimu dalam akhlak, berarti 
iamelebihi dirimu dalam agama. 
Demikian
pula tasawuf, Imam al 
Kattaniberkata, "Tasawwuf adalah 
akhlak,
barangsiapa melebihi dirimu 
dalamakhlak berarti ia melebihi 
dirimu
dalam tasawwuf."

Muhammadbin Abdul Wahhab 
berkata dalam kitab Fatawa wa 
Rosailhal. 31
masalah kelima. "Ketahuilah -
mudah-mudahan Allah 
memberimupetunjuk -
Sesungguhnya Allah SWT 
mengutus Nabi Muhammad 
denganpetunjuk berupa
ilmu yang bermanfaat dan agama 
yang benar berupa amalshaleh. 
Orang
yang dinisbatkan kepada agama 
Islam, sebagian darimereka ada 
yang
memfokuskan diri pada ilmu dan 
fiqih dan sebagianlainnya 
memfokuskan
diri pada ibadah dan mengharap 
akhirat sepertiorang- orang sufi. 
Maka
sebenarnya Allah telah mengutus 
Nabi-Nyadengan agama yang 
meliputi dua
kategori ini (Fiqh dan 
tasawwuf)".Demikianlah 
penegasan Syekh Muhammad
bin Abdul Wahhab bahwa 
ajarantasawuf bersumber dari 
Nabi SAW.


Kedua,mengenai pembacaan 
maulid. Dalam kitab Iqtidha' 
Sirathil
MustaqimIbnu Taimiyah berkata, 
"Adapunmengagungkan maulid 
dan
menjadikannya acara rutinan, 
segolongan orangterkadang 
melakukannya.
Mereka mendapat pahala yang 
besar karenatujuan baik dan 
pengagungannya
terhadap Rasulullah SAW."


Ketiga,tentang hadiah pahala, 
Ibnu Taimiyah menegaskanbahwa 
barang
siapa mengingkari sampainya 
amalan orang hidup padaorang 
yang
meninggal maka ia termasuk 
ahlibid'ah.

DalamMajmu' fatawa juz 24 
hal306 ia menyatakan, "Para imam
telahsepakat bahwa mayit bisa 
mendapat manfaat dari hadiah 
pahala
oranglain. Ini termasuk hal yang 
pasti diketahui dalam agama islam
dantelah ditunjukkan dengan dalil 
kitab, sunnah dan ijma'
(konsensusulama' ). Barang siapa 
menentang hal tersebut maka ia
termasuk ahlibid'ah".

Lebihlanjut pada juz 24 hal 366 
Ibnu Taimiyah menafsirkan firman 
Allah

"danbahwasanya seorang manusia 
tidak memperoleh selain apa yang
telahdiusahakannya." (QS an-
Najm [53]: 39)

iamenjelaskan, Allah tidak 
menyatakan bahwa seseorang 
tidak
bisamendapat manfaat dari orang 
lain, Namun Allah berfirman,
seseoranghanya berhak atas hasil 
usahanya sendiri. Sedangkan hasil
usaha oranglain adaklah hak 
orang lain. Namum demikian ia 
bisa
memiliki hartaorang lain apabila 
dihadiahkan kepadanya.

Begitupula pahala, apabila 
dihadiahkan kepada si mayyit 
maka ia
berhakmenerimanya seperti 
dalam solat jenazah dan doa di 
kubur.
Dengandemikian si mayit berhak 
atas pahala yang dihadiahkan oleh
kaummuslimin, baik kerabat 
maupun orang lain"

Dalamkitab Ar-Ruh hal 153-186 
Ibnul Qayyimmembenarkan 
sampainya pahala
kepada orang yang 
telahmeninggal. Bahkan tak 
tangung-tanggung Ibnul
Qayyim menerangkansecara 
panjang lebar sebanyak 33 
halaman tentang hal
tersebut.


Keempat,masalah talqin. Dalam 
kumpulan fatwa juz 24 halaman 
299
IbnuTaimiyah menyatakan bahwa 
sebagian sahabat Nabi 
SAWmelaksanakan
talqin mayit, seperti Abu Umamah 
Albahili, Watsilah binal-Asqa' dan
lainnya. Sebagian pengikut imam 
Ahmad menghukuminyasunnah . 
Yang
benar, talqin hukumnya bolehdan 
bukan merupakan sunnah. (Ibnu 
Taimiyah
tidak menyebutnyabid' ah)

Dalamkitab AhkamTamannil Maut 
Muhammad binAbdul Wahhab 
juga
meriwayatkan hadis tentang 
talqin dari ImamThabrani dalam 
kitab Al
Kabir dari Abu Umamah.


Kelima,tentang ziarah ke makam 
Nabi SAW. Dalam qasidah 
Nuniyyah (bait
ke4058) Ibnul Qayyim 
menyatakan bahwaziarah ke 
makam Nabi SAW adalah
salah satu ibadah yang paling 
utama

"Diantaraamalan yang paling 
utama dalah ziarah ini.

Kelakmenghasilkan pahala 
melimpah di timbangan amal 
pada hari kiamat".

Sebelumnyaia mengajarkan tata 
cara ziarah (bait ke 4046-4057).
Diantaranya, peziarah hendaklah 
memulai dengan sholat dua 
rakaat di
masjid Nabawi.Lalu memasuki 
makam dengan sikap penuh 
hormat dan
takdzim, tertundukdiliputi 
kewibawaan sang Nabi. Bahkan ia
menggambarkan 
pengagungantersebut dengan 
kalimat "Kita menuju makam
Nabi SAW yang muliasekalipun 
harus berjalan dengan kelopak 
mata (bait
4048).

Halini sangat kontradiksi dengan 
pemandangan sekarang. Suasana
khusyu'dan khidmat di makam 
Nabi SAW kini berubah menjadi 
seram.
Orang-orangbayaran wahhabi 
dengan congkaknya 
membelakangi makam Nabi
yang mulia.Mata mereka 
memelototi peziarah dan 
membentak-bentak mereka
yangsedang bertawassul kepada 
beliau SAW dengan tuduhan syirik
danbid'ah. Tidakkah mereka 
menghormati jasad makhluk 
termulia di
semestaini.. ? Tidakkah mereka 
ingat firman Allah "Haiorang-
orang yang
beriman, janganlah kamu 
meninggikan suaramu 
melebihisuara Nabi, dan
janganlah kamu berkata 
kepadanya dengan suara 
keras,sebagaimana
kerasnya suara sebagian kamu 
terhadap yang lain, supayatidak 
hapus
(pahala) amalanmu, sedangkan 
kamu tidak 
menyadari."Sesungguhnyaorang-
orang yang merendahkan 
suaranya di sisi Rasulullah, 
merekaitulah
orang-orang yang telah diuji hati 
mereka oleh Allah untukbertakwa.
Bagi mereka ampunan dan pahala 
yang besar" (QSAl Hujarat, 49: 2-3).

Data-datadi atas adalah sekelumit 
dari hasil penelitian obyektif
padakitab-kitab mereka sendiri, 
sekedar wacana bagi siapa saja 
yang
inginmencari kebenaran. Mudah 
mudahan dengan mengetahui
tulisan-tulisanpend ahulunya, 
mereka lebih bersikap arif dan 
tidak
arogan dalammenilai kelompok 
lain.

 (Ibnu KhariQ)

Referensi
- Majmu' fatawa Ibn Taimiyah
- Qasidah Nuniyyah karya Ibnul 
Qayyim Al-Jauziyah
- Iqtidha' Shirathil Mustaqim karya 
Ibn Taimiyah cet. Darul Fikr
- Ar-Ruh karya Ibnul Qayyim Al-
Jauziyah, cet I Darul Fikr 2003
- Ahkam Tamannil Maut karya 
Muhammad bin Abdul Wahhab, 
cet. Maktabah
Saudiyah Riyadh
Nasihat li ikhwanina ulama Najd 
karya Yusuf Hasyim Ar-Rifa'i

Diambil dari rubrik Ibrah, Majalah 
Dakwah Cahaya Nabawiy 
Edisi 60 Th. IV Rabi'ul Awwal 1429 
H / April 2008 M

--- End forwarded message ---


Kirim email ke