Jurnal Sairara:
   
   
  Kepada Saudara Taufiq Ismail 
   
   
  8. 
   
   
  FASILITAS  
   
   
    

  Alinea keempat "respons"  bagian pertama Saudara Taufiq  padaku memang kaya 
persoalan menarik. Agar jelas permasalahannya, maka izinkan aku mengutip ulang 
alinea tersebut:
   
   
  "Saya makin mual pada partai yang berhasil memperalatnya, yang dirangkul, 
difasilitasi ini-itu, diangkut ke seberang garis menyertai apel barisan PKI, 
terpaksa ikut menderita dalam pembuangan, dan ternyata tetap saja tidak in 
dalam ideologi ini sama sekali. Ternyata Lekra tak berhasil menjadikannya 
komunis. Dia Pramis, seperti pengakuannya sendiri, dan dia betul. Pram 
terlampau individualistik, egosentrik dan keras hati untuk jadi pion partai 
mana pun. Palu Arit cuma memerlukan nama besar Pram untuk baliho Lekra/PKI, 
mengeksploitirnya sebagai tokoh pengisi billboard iklan produk ideologi kiri di 
tepi jalan raya tol kesusasteraan Indonesia. Untuk itu PKI berhasil, juga KGB 
(Komunis Gaya Baru) Indonesia abad 21 ini."
   
   
  Masalah lain yang ingin kuangkat dari  alinea keempat ini, adalah masalah 
fasilitas, yang dimunculkan oleh Saudara Taufiq Ismail dalam kata-kata berikut: 
   
   
  "Saya makin mual pada partai yang berhasil memperalatnya, yang dirangkul, 
difasilitasi ini-itu..."
   
   
  Aku tidak tahu dari mana Saudara Taufiq Ismail mendapatkan data dan 
memastikan bahwa Pram difasilitas, diperalat oleh PKI"? Pertanyaan ini muncul 
di benakku apabila aku bandingkan dengan kegiatan-kegiatan angota Lekra yang 
kuketahui di berbagai tempat dan pulau. Ambil saja contoh yang paling dekat 
dengan diriku. Untuk pulang  dengan kereta-api ke Yogyakarta dari Jakarta saja, 
aku harus minta bantuan Pramoedya yang waktu itu Redaksi Lentera Harian Bintang 
Timur Jakarta.   
   
   
  Contoh lain: Waktu Teater Muslim pimpinan Diponegoro dan Arifin C Noer 
menyelenggarakan festival teater selama seminggu. Di dekat bundaran kantor pos 
besar Yogya, mereka tancapkan poster besar tentang adanya festival teater ini. 
   
   
  Tak lama kemudian, Rendra dengan Teater Rendra-nya, persis di samping poster 
raksasa Teater Muslim memajangkan poster sama besarnya tentang akan 
berlangsungnya juga festival drama yang lain. 
   
   
  Melihat keadaan demikian, Lembaga Seni Drama [Lesdra] Lekra terilham untuk 
menyelenggarakan festival drama dan juga selama seminggu. Pimpinan Ledra segera 
berdiskusi: Bagaiamana  secara kongkret menyelenggarakan festival drama, 
sementara uang sepeser pun Lesdra tidak punya. Untuk mencetak undangan pun 
tidak ada uang. Undangan adalah soal kunci, segi pokok dari segi-segi yang 
berkontradiksi. Dengan adanya undangan, maka festival harus terujud. Dengan 
undangan pula , beaya festival bisa diperoleh. Bagaimana mendapatkan uang untuk 
bisa mencetak undangan? 
   
   
  Untuk memecahkan soal ini maka , aku menggadaikan sepeda bututku yang 
kugunakan untuk kuliah dan kemana-mana  saban hari.  Putu Oka Sukanta 
menggantikan cincin emasnya. Kami tebus kembali setelah dapat uang dari 
penjualan undangan. Undangan dijual dengan cara mendatangi rumah demi rumah di 
berbagai kemantren Yogyakarta.  
   
   
  Festival seminggu Lesdra akhirnya berhasil berlangsung. Dari pengalaman ini 
aku dapatkan pelajaran bahwa yang menjadi kunci adalah semangat dan adanya 
manusia yang bertekad sesuai komitmen manusiawinya. Dan bisa mengelola dana 
itu. Dana sebesar apa pun jika ada di tangan manusia yang tak bisa mengelolanya 
dan tak punya kesetiaan pada komitmen manusiawinya, dana itu akan menguap tak 
menentu langit dan lautnya. 
   
   
   
  Hal kedua, dari kenyataan diatas  dan banyak lagi contoh kongkret yang bisa 
kututurkan bahwa Lekra dan kegiatannya tidak difasilitas oleh Partai politik 
mana pun, tidak juga didanai oleh PKI tapi mendanai diri sendiri dengan 
bersandar pada masyarakat. Untuk mengelilingi Jawa Tengah, guna mendatangi 
cabang-cabang Lembaga Sastra [Lestra ] Lekra se Jateng, aku menggunakan 
truk-truk sayur dan ayam karena aku tidak punya uang untuk membeayai transpor 
perjalananku. Jika kami memang mendapat dana dari partai ini dan itu, dari 
pihak sana dan sini,   mengapa aku harus menggadaikan sepeda,  alat transport 
penting mahasiswa di Yogya pada masa itu, rela jalan kaki? Mengapa Putu Oka 
Sukanta harus rela menggadaikan cincin emasnya? Barangkali Saudara Taufiq 
Ismail mempunyai bukti yang membantah keterangan dan pendapatku.   
   
   
  Sejauh pengetahuanku, Pram pun tidak mendapatkan fasilitas dari Partai mana 
pun. Tidak juga dari PKI. Untuk hidupnya dan pekerjaannya sebagai penulis, Pram 
 bekerja sebagai dosen Unreca  [Universitas Res Publica], dari bekerja sebagai 
redaktur dan menulis. Aku akan sangat senang jika Saudara Taufiq bisa 
memaparkan data-data yang membuktikan Pram dan seniman-seniman Lekra mendapat 
fasilitas dari PKI dan partai lainnya. Aku ingin Saudara Taufiq membantuku 
memberi data-data kongkret tentang fasilitas ini. 
   
   
  Melalui bagian ini aku ingin mengatakan  bahwa lahir dan berkembangnya suatu 
gerakan kebudayaan rakyat, termasuk Lekra,  walau pun memerlukan dan 
faisilitas, tapi pertama-tama tidak tergantung pada fasilitas. Gerakan 
kebudayaan rakyat, berkembang dengan mendanai dirinya sendiri, seperti yang 
hari ini ditunjukkan kembali  oleh Festival Lima Gunung atas prakarsa Mas Tanto 
dan kawan-kawan di Jawa Tengah. Bersandar dan percaya penuh pada kemampuan 
masyarakat. Idenya dikhayati dan dan dijadikan milik oleh masyarakat. Sehingga 
dengan demikian ide menjelma menjadi kekuatan material. Idenya bergerak di 
wilayah yang melampaui dan menembus sekat-sekat dalam masyarakat. Sehingga 
kecurigaan atau tuduhan Saudara Taufiq Ismail seperti di atas berada pada 
tempat kelima atau ke enam dilihat dari segi usaha menggalang rekonsiliasi, 
kemampuan hidup secara majemuk.****
   
   
   
  Paris, Mei 2008
  ----------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
   
   
  [Bersambung .....]

       
---------------------------------
  Get the latest celebrity gossip  - Yahoo! Singapore Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke