Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=6161

[ Sabtu, 14 Juni 2008 ] 
Korban FPI Beri Testimoni 

DENPASAR - Kecaman terhadap aksi Front Pembela Islam (FPI) saat peringatan
kelahiran Pancasila di silang Monas Jakarta 1 Juni lalu kembali berlanjut.
Kali ini para korban peristiwa itu langsung memberikan testimoni di depan 
masyarakat Bali. 

Acara di Gedung Granada PWI Denpasar kemarin itu intinya membeber 
kesaksian korban atas aksi anarkis sekelompok orang yang menggunakan 
simbol agama tertentu untuk melakukan aksi kekerasan. Acara itu dihadiri 
para korban FPI, termasuk Anand Khrisna, Ketua Komisi II DPRD Bali Usdek 
Maharipa dan tokoh masyarakat. Menurut mereka, aksi yang dilakukan FPI 
tidak hanya menodai nilai Pancasila, tapi juga para faunding father, 
Presiden dan TNI yang susah payah menjaga negara ini tetap satu," ujar 
Nino Grassiano, salah satu korban dalam testimoni-nya kemarin. 

Nino berpendapat, aksi yang dilakukan AKKBP adalah aksi damai. Sama sekali
tidak membawa kepentingan kelompok tertentu, termasuk soal Ahmadiyah yang 
dituding kelompok FPI. 
Karena itu dia merasa heran, ketika tiba-tiba fakta yang terungkap ke 
media, justru masalah Ahmadiyah di perbesar. 

Sesuai rencana, kata dia, aksi damai itu akan diawali apel yang diikuti 
kurang lebih 15 ribu massa. Ikut pula digelar pawai budaya dan menyanyikan 
lagu kebangsaan. Namun ketika baru seribu massa yang datang, tiba-tiba 
dari arah kejauhan, muncul FPI. Tanpa ampun, mereka mengobrak-abrik aksi 
damai AKKBP. 

Tidak hanya laki-laki yang menjadi sasaran, tetapi juga lansia, perempuan 
dan anak-anak. "Saya sendiri mengalami luka di tangan dan kening," akunya. 
Namun bukan sakit fisik yang sebenarnya dia rasakan, melainkan sakit hati. 


Sebagai Muslim, dirinya merasa diinjak-injak harga diri dan kehormatannya 
sebagai anak bangsa. Pengakuan serupa dilontarkan Wayan Sukmawati dan 
Ni Nyoman Asiana. Keduanya jauh-jauh datang dari Bali ke Jakarta hanya 
untuk memperingati hari lahir Pancasila. Kata keduanya, sudah waktunya 
bangsa Indonesia yang terpuruk kembali pada nilai Pancasila yang terlalu 
lama ditinggalkan karena nafsu dunia dan kekuasaan. Tetapi belum sempat 
perayaan itu dimulai, tiba-tiba muncul FPI mengobrak-abrik mereka. 

Yang membuat saya tidak bisa berpikir, mereka tega menyiksa anak-anak dan 
perempuan. Buktinya adalah saya," sahut Sukmawati dan Asiana. Kesedihan 
serupa dilontarkan Bernadius Winarno. Menurut dia, insiden 1 Juni tidak 
hanya memalukan bangsa Indonesia, tetapi juga mengoyak arti Bhineka 
Tunggal Ika di mata dunia internasional. 

"Tolong diingat, Indonesia bukan milik satu agama. Indonesia adalah milik 
semua warga Indonesia yang cinta damai dan perdamaian," paparnya. 

Sementara itu Koordinator NIM Pusat Maya Saphira Mochtar menilai bahwa 
beberapa hari pasca insiden Monas, media cenderung membalikkan fakta. Dari 
seputar aksi damai untuk memperingati hari lahirnya Pancasila ke isu 
agama. Menurut dia, itu adalah hal yang salah dan fatal. 

"Kami sama sekali tidak menyinggung agama dan kelompok tertentu. Murni 
kami hanya memperingati hari lahir Pancasila," paparnya.

Sesuai hasil konvensi Unesco beberapa waktu lalu di Bali, dia berharap 
agar media lebih berimbang dalam memuat pemberitaan. Mengedepankan The 
Power of Peace (kekuatan perdamaian) dan tidak memberitakan sesuatu yang 
berpotensi merusak persatuan dan kesatuan.(mus) 




      

Kirim email ke