DENPASAR, NusaBali
Sabtu, 14 Juni 2008 

Dua korban rusuh Siang Monas asal Bali, Ni Wayan Sukmawati dan Ni Komang 
Ainisyah Wiputi, mengaku trauma berat atas insiden dalam peringatan Hari 
Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2008 itu. Selain alergi mendengar berita soal rusuh 
Monas, mereka juga merasa terhina jika mengingat peristiwa penyerangan itu. 

Ni Komang Ainisyah mengisahkan, bagaimana massa FPI menyerang dengan
beringas kala itu. Padahal, waktu itu sebagian besar massa peserta aksi 
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) 
adalah perempuan dan anak-anak. 

Waktu didorong-dorong dari belakang, saya kira hanya kena desakan saja. 
Namun, lama kelamaan, mereka (masa penyerang dari Front Pembela Islam/FPI)
mengarahkan pukulan ke kepala secara terus menerus, tutur Komang Ainisyah
dalam acara  testimoni korban kekerasa rusuh Monas di Denpasar, Jumat (13/6). 

Sadar telah menjadi sasaran amuk massa, Komang Ainisyah lantas berteriak. 
Saya ini wanita, teriaknya kala itu.  Namun, dia dan rekan-rekannya terus 
saja diamuk, sehingga banyak korban terluka. Akibat kekerasan tersebut, 
Komang Ainisyah mengalami gagar otak ringan namun bisa dikatakan permanen. 
Kadang-kadang, kepala saya masih pusing, tuturnya. Akibat peristiwa 
penyerangan tersebut, Komang Ainisyah mengaku trauma. Jika melihat 
tayangan televisi yang menggambarkan kekerasan di Monas, dia sering 
merinding. Kadang rasanya juga nyeri melihatnya,imbuh anak dari seorang 
pengurus PHDI Jogjakarta ini. 


Hal senada juga diungkapkan Ni Wayan Sukmawati. Kalau mengingat peristiwa 
di Monas, Sukmawati bahkan merasa terhina. Merasa terhina, karena saat 
peristiwa itu adalah Hari Kelahiran Pancasila yang seharusnya menjunjung 
nilai-nilai nasionalisme bangsa, bukan malah sebaliknya,tutur Sukmawati. 
Terkadang, Sukmawati mengaku kecewa dengan opini publik yang berkembang 
saat ini, karena mengalihkan isu rusuh Monas ke isu agama. Padahal, itu 
adalah sebuah upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, 
bukan karena suatu agama, keluhnya. Seperti halnya Komang Ainisyah, 
Sukmawati juga mengalami luka memar di sekujur tubuhnya akibat penyerangan 
di Monas. Dia berharap segenap masyarakat untuk mengutuk keras setiap aksi 
yang menggunakan kekerasan di Indonesia. 

Kenapa Komang Anisyah dan Sukmawati ada di Monas saat kerusuhan terjadi? 
Kedua perempuan Bali ini berada di Monas saat itu, karena mereka aktivis 
perempuan yang tergabung dalam National Integration Movement (NIM). 
Komang Anisyah bahkan masih menjabat sebagai Bendahara NIM Pusat. Bersama
Sukmawati, Komang Anisyah pegang peran penting dalam aksi damai peringatan Hari 
Kelahiran Pancasila di Monas, bersama AKKBB. Aksi yang dihadiri 
Gerakan Integrasi Nasional dan sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya 
itu, menurut Komang Anisyah, murni untuk membangkitkan rasa persatuan dan 
kerukunan bangsa. 


"Kami sepenuhnya mengedepankan semangat persatuan dan kerukunan bangsa 
yang dipelopori anak bangsa tempo dulu. Tidak ada yang membiayai dengan 
kepentingan tertentu," katanya dalam keterangan pers dipimpin Dr Sayoga 
kemarin. Sementara, Dr Sayoga selaku Direktur Eksekutif NIM (mengecam 
terjadinya peristiwa kekerasan di Monas. Dia meminta aparat keamanan 
mengambil tindakan tegas terhadap pelaku. Hingga kini, sejumlah orang 
telah diciduk polisi sebagai tersangka insiden kekerasan di Monas. 
Termasuk di antaranya Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab dan Panglima 
Komando Laskar Islam (LKI) Munarman. Habib ditahan jajaran Polda Metro 
Jaya sejak 4 Juni, sementara Munarman ditahan di tempat yang sama sejak 
dia menyerahkan diri, 9 Juni. 

Sementara itu, Panglima Laskar FPI, Ustadz Matsuni, ditangkap jajaran 
Polda Metro Jaya, Jumat subuh kemarin. Menurut pengacara FPI, Ari Yusuf 
Amir, Ustadz Matsuni ditangkap di kawasan Cirebon, Jabar. Beliau (Ustadz 
Matsuni) sedang mengunjungi keluarga saat ditangkap," kata Ari dilansir 
detikcom kemarin. Menurut Ari, penangkapan Matsuni menimbulkan tanda tanya 
besar. Matsuni memang mengikuti demo BBM waktu itu. Namun, Matsuni tidak 
ikut saat ke Monas. "Kalau dibutuhkan kesaksian kan cukup dipanggil. 
Soalnya, orang yang terlibat demo di Istana itu tidak mesti pelaku dari 
kekerasan. Dia tidak ke Monas," ujar Ari. Menurut Ari, demo BBM yang 
berbuntut insiden Monas itu bukan atas pimpinan Matsuni, namun dipimpin 
Munarman, yang membawahi beberapa ormas Islam. Ari sepakat beberapa orang 
yang terbukti melakukan tindak kekerasan harus dihukum. 


Namun, kata dia, bila tidak melakukan kekerasan, jangan diperlakukan sama. 
"Kenapa ditangkap? Kenapa tidak dipanggil? Semakin hari proses penyidikan 
semakin berlebihan saja. Tidak semua orang FPI harus ditangkap," katanya. 
Namun, keterangan berbeda diutarakan Kepala Satuan Keamanan Negara 
(Kamneg) Polda Metro Jaya, AKBP Tornagogo Sihombing. Saat insiden di 
Monas, Panglima Laskar FPI itu berada di samping Munarman. Matsuni lalu 
ditangkap di Cirebon, Jawa Barat, Jumat subuh. Tornagogo menjelaskan, 
Matsuni ditangkap di rumah familinya di Cirebon sekitar pukul 05.30 WIB. 
Matsuni akan dikenai dua pasal yakni pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan 
dan pasal 160 KUHP tentang penghasutan. "Saat kejadian, Ali ada di samping 
Munarman di Monas. Dan langsung kita tahan," ujarnya di Mapolda Metro 
Jaya, Jumat kemarin. Sebelumnya, Habib Rizieq telah dijerat lima pasal 
berlapis, sementara Munarman dijerat tiga pasal berlapis. 


cr24 




      

Kirim email ke