Tragedi Monas 1 Juni 2008
Karena FPI Dibiarkan Semaunya 

 

Jakarta, gusdur.net
Presiden Republik Indonesia (RI) ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 
menengarai akar terjadinya Tragedi Monas Ahad, 1 Juni 2008, yang 
mengakibatkan 74 aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama 
dan Berkeyakinan (AKKBB) luka-luka, karena Front Pembela Islam (FPI) 
dibiarkan semaunya sendiri. 

"Lama-lama tambah berani. Padahal sudah 5 tahun saya usulkan supaya 
FPI dibubarkan. Kalau nggak akan mukul kita semua. Betul to 
sekarang?" 

Demikian dinyatakan Ketua Dewan Syura DPP PKB itu saat menjadi nara 
sumber pada Kongkow Bareng Gus Dur di Green Radio Jl. Utan Kayu 
Jakarta Timur, Sabtu (7/06/2008). Hadir juga salah satu korban luka 
yang sekaligus host Kongkow Bareng Gus Dur M. Guntur Romli dan 
aktivis AKKBB Nong Darol Mahmada. 

Dikatakan Gus Dur, dirinya mendengar pendapat, Tragedi Monas itu 
dibuat pemerintah untuk mengalihkan isu kenaikan harga BBM. "Saya 
nggak tahu ini bener apa nggak, karena bukan kerjaan saya mencari-
cari tahu," tegas Gus Dur. Sebagai awam, aku Gus Dur, dirinya hanya 
melihat secara awam bahwa telah terjadi kekerasan. 

Tentang tuduhan FPI perihal adanya aktivis AKKBB yang membawa pistol, 
Gus Dur meyakinkan itu bukan aktivis AKKBB melainkan polisi. "Akuilah 
dengan jujur! Yang bawa itu polri sendiri. Lebih jauh lagi, Kapolri 
juga ikut terlibat. Mau apa Kapolri, wong nyatanya begitu?" kata Gus 
Dur tegas. 

Terkait tuduhan aksi AKKBB untuk mengalihkan isu BBM, Nong Darol 
Mahmada menyatakan itu salah sasaran. Menurutnya, yang paling mungkin 
dicurigai mengalihkan isu justru FPI. "Kalau tidak ada penyerangan 
pada kami, itu nggak akan menjadi pemberitaan di mana-mana," 
jelasnya. 

Dikatakan Nong, pihaknya telah melakukan berbagai aksi di mana-mana 
dan selama itu pula tidak ada masalah apapun. Tuduhan pengalihan isu 
juga tidak pernah muncul. "Siapa yang mengalihkan isu?" tanyanya. 

Karenanya, Nong berharap, tuduhan itu jangan ditujukan ke pihaknya. 
Pihaknya hanyalah korban yang diserang hingga babak belur. "Polisi 
harus menindak pelakunya tanpa dipengaruhi isu konspiratif seperti 
ini," harapnya. 

Nong juga membantah aksi untuk memperingati hari kelahiran Pancasila 
1 Juni itu didanai pihak asing. Menurutnya, tuduhan itu sama sekali 
tidak berdasar. Apalagi hanya karena alasan adanya korban yang 
ditengok duta besar asing. 

"Saya menyatakan itu fitnah besar dan kebohongan. AKKBB transparan. 
Siapapun bisa datang ke kami. Kami mengumpulkan dana secara saweran 
dari pribadi dan lembaga," akunya. 

Jika didanai asing, kata Nong, sekarang pihaknya tidak akan kesulitan 
membiayai pengobatan para korban. Bahkan pihaknya hingga kini masih 
terus mengumpulkan dana untuk itu. Karenanya, Nong menyesalkan 
munculnya tuduhan naif itu. "Ini pemutarbalikan fakta yang merugikan 
AKKBB," terangnya. 

Guntur Romli lebih banyak menjelaskan penyerangan yang menimpa 
dirinya. Awalnya, ia sudah menduga adanya penyerangan FPI, karena ia 
melihat begitu banyak truk mengangkut FPI di sana. Benar saja, 
dugaannya terbukti. 

Diceritakannya, Guntur melihat ibu-ibu dan anak-anak yang dipukuli 
anggota FPI. "Kalau saya diam atau lari, saya akan selamat. Tapi saya 
tidak tahan melihat ibu-ibu dan anak-anak dipukuli, bapaknya 
digetokin pakai bambu," katanya. 

Bagi Guntur, menghadapi situasi kekerasan itu tidak ada pilihan 
kecuali dirinya harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membenarkan 
dengan diam atau lari. Iapun harus maju apapun resikonya. "Dianggap 
kekonyolan pun, saya nggak peduli. Saya melihat kekerasan di depan 
saya dan saya harus bertindak, meskipun itu membahayakan saya," 
urainya. 

Guntur pun lantas melindungi seorang ibu dan anaknya yang tengah 
dipukuli FPI. Melihat itu, anggota FPI yang kesetanan justru memukuli 
Guntur yang saat itu mengenakan kaos Kogkow Bareng Gus Dur, dengan 
tangan maupun bambu. Akibatnya, hidung Guntur patah, luka di dahi, di 
atas alis, dan di belakang telinga. Sekurangnya Guntur mendapat 15 
jahitan. "Saya nggak melawan. Kalau melawan pasti akan lebih parah," 
terangnya. 

Guntur sendiri mengatakan, kekerasan yang menimpanya tidak akan 
pernah membuatnya patah semangat atau jera. Iapun tidak bisa berlama-
lama istirahat, sesuai anjuran dokter. "Kalau istirahat malah sakit. 
Harus bergerak untuk membantu kawan-kawan, termasuk datang ke acara 
ini. Itu yang membuat saya tambah sembuh," katanya. 

Teokratisasi
Usai acara Kongkow Bareng Gus Dur, masih di tempat yang sama digelar 
jumpa pers menyikapi kekerasan FPI pada aktivis AKKBB di Monas, Ahad, 
1 Juni 2008. Hadir Gus Dur, Nono Anwar Makarim, Ahmad Suaedy, Djohan 
Effendi, Rumadi, dan aktivis HAM dari berbagai organisasi. 


Menurut Nono, baginya tidak penting apakah akar masalahnya Ahmadiyah, 
Riziq Syihab, Munarman, atau FPI. Baginya, sesungguhnya ini hanyalah 
upaya pengalihan perhatian dari isu sebenarnya, yaitu pengubahan Sila 
Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila dan UUD menjadi teokratisasi 
Republik Indonesia. "Ada upaya menciptakan pemerintahan yang 
dikontrol oleh pemimpin agama," tegasnya. "Ini yang penting 
diwaspadai," imbuhnya. 

Djohan Effendi menyatakan, yang diperjuangkan kelompok pendukung 
kekebasan bukan Ahmadiyah, melainkan kebebasan Jemaat Ahmadiyah 
sebagai warga negara untuk menganut keyakinannya. "Selagi mereka 
tidak mengganggu orang lain, mereka punya hak hidup," jelas Djohan. 

Siapapun, kata Djohan, boleh saja menentang paham Ahmadiyah sekeras-
kerasnya. Namun juga penting diingat, hak hidup mereka juga harus 
dibela. 

Sedang Ketua Banser NU, H. Tatang menyatakan, apa yang dilakukan 
Banser di daerah-daerah, hanyalah respon atas aksi FPI yang jumlahnya 
kecil itu. Dia sendiri menilai, Gus Dur dan Habib Riziq sesungguhnya 
tengah "bercanda." "Cuma candanya kok kelewatan. Akhirnya muncul 
ejekan. Lha kalau kiai NU, Gus Dur, diejek, pasti muncul reaksi dari 
bawah," tegasnya. 

Direktur the WAHID Institute Ahmad Suaedy yang membacakan pernyataan 
pers menyatakan, kini pemerintah berada di bawah tekanan Panglima 
Komando Laskar Islam (KLI) Munarman. Buktinya, pemerintah akan segera 
menerbitkan SKB Ahmadiyah sebagaimana tuntutan Munarman yang terekam 
melalui video yang beredar luas. 

"Ini jawaban pemerintah atas tantangan Munarman. Ini sungguh 
memprihatinkan dan kami mengecam pemerintah," tegasnya. 

Peneliti the WAHID Institute Rumadi menyampaikan tiga hal. Pertama, 
fenomena Masjid Istiqlal lama-kelamaan bisa menjadi Masjid Merah di 
Pakistan. Menurut informasi yang diterimanya, penyerangan FPI 
digalang di Masjid Istiqlal. Sehingga dikuatirkan Masjid Istiqlal 
akan menjadi sarang kaum fundamentalis. "Kalau ini dibiarkan, Masjid 
Istiqlal akan menjadi Masjid Merah," tegasnya. 

Kedua , selama ini MUI selalu mengelak fatwanya sebagai pemicu 
kekerasan. Namun kali ini MUI tidak bisa mengelaknya. Apalagi MUI 
jelas-jelas menyatakan, Tragedi Monas terjadi karena kelambanan 
pemerintah menerbitkan SKB Ahmadiyah. 

Ketiga , pemerintah harus fokus menangani kasus ini. Tidak boleh ada 
tawar-menawar pembubaran Ahmadiyah dengan penangkapan Munarman. "Ini 
konyol jika dituruti pemernitah," tegasnya. 

Gus Dur yang berbicara terakhir menyatakan, MUI hanyalah salah satu 
dari sekian banyak ormas yang ada di negeri ini. "Tidak ada 
kelebihannya," katanya.[nhm].

Kirim email ke