http://www.dutamasyarakat.com/rubrik.php?id=30628&kat=Kolom
20 Juni 2008
Prahara di Republik NU

“Kultur Santri Melemah”, begitu judul berita di sebuah koran beberapa 
waktu lalu. Dalam berita itu dituturkan bahwa pengamat politik Fachry 
Ali mendasarkan analisisnya tersebut pada konflik di tubuh PKB, partai 
yang dilahirkan NU. “Konflik yang terjadi saat ini terjadi akibat 
hilangnya semangat komunitas dan berkurangnya ruh santri dalam kader 
PKB,” ujarnya dalam sebuah diskusi.
Menurut dia, banyaknya kader NU yang mengalami mobilitas vertikal 
setelah bergabung dalam partai politik, ditambah dengan “rezeki” yang 
besar, membuat sikap kesantrian mereka berubah. Keikhlasan dan sikap 
syukur atas segala yang diterima berganti menjadi kehausan dan ambisi 
atas kekuasaan yang berlebihan untuk memenuhi kepentingan 
sendiri-sendiri. Artinya, ada yang hilang pada kaum nahdhiyin yang nota 
bene adalah kelompok santri dan pesantren itu, ketika mereka terjun ke 
dalam partai politik dan politik praktis.
Sebenarnya politik telah menjadi sebuah “senyawa” di tubuh NU, sejak 
dulu (khususnya sejak 1950-an). Pemerhati NU, Robin L. Bush, 
menyebutnya: “dansa gengsi”. Menurut dia, sepanjang sejarah NU selalu 
memainkan dansa gengsi dalam menghadapi negara. “Kadang mendekati 
(negara) dengan hangat, kadang menjauhkan diri.”
Sebagai contoh dikemukakannya, pada 1950-an NU pernah mengambil posisi 
oposisional bersama Masyumi dan kaum islamis lainnya, terhadap 
pemerintah yang cenderung kekiri-kirian. Namun kemudian, sikap NU 
berubah 90 derajat. Dari semula emoh pada pemerintah menjadi bagian dari 
Kabinet Karya Soekarno pada 1957, setelah menyatakan keluar dari Masyumi.
Dalam catatan kita semua, ada saatnya NU menjelma menjadi partai politik 
atau bagian dari suatu partai politik serta berbasah-basah di kubangan 
politik praktis. Tetapi ada saatnya pula NU menjatuhkan talak (yang 
ternyata bukan talak tiga) atau pisah ranjang terhadap politik praktis, 
dan menyatakan kembali ke Khittah 1926.
Baik sikap pertama maupun sikap terakhir, dua-duanya sama politis. 
Dua-duanya adalah gerak dalam dansa gengsi tadi. Sebab, keputusan 
kembali ke Khittah dilandasi pertimbangan politis, yaitu dalam rangka 
penggembosan terhadap partai politik hasil fusi yang telah mengecewakan. 
Itu saja. Setidaknya, itulah yang ada di benak perancangnya. Sebagai 
bukti, ketika kesempatan dibuka bagi berdirinya partai baru, serta merta 
NU mendirikan partai.
Berarti, NU tidak lagi kembali ke khittah – sebuah kenyataan pahit yang 
mungkin tidak disadari. Kalau kehilangan semangat komunitas dan 
keguyuban dipandang sebagai kehilangan, maka tarian NU di panggung 
politik (baca: metamorphose NU) yang nota bene dimulai pada 1950-an 
merupakan kehilangan pula.
Baiklah. Mungkin pada mulanya hanyalah soal perbedaan gaya, antara “kaum 
salaf” (generasi pendahulu) NU dan “kaum khalaf” (generasi belakangan) 
NU, khususnya sejak 1950-an atau bahkan sebelum itu karena tokoh-tokoh 
NU toh dilibatkan pula dalam persiapan kemerdekaan. Kalau menggunakan 
istilah Robin L. Bush, itu hanya perbedaan gerak tari, namun ruh 
tariannya tetap sama: yaitu tarian dakwah kepada masyarakat. Dengan 
demikian, ketika mereka memutuskan untuk mulai terjun ke dunia politik 
praktis, khittahnya masih khittah yang dulu.
Tetapi dalam masa-masa selanjutnya, ruh tarian itu ikut pula mengalami 
perubahan. Bahkan ketika mereka memutuskan untuk kembali pada gerak tari 
yang dulu pun, ruhnya sudah bukan lagi ruh yang dulu.
Ini menjadi pertanyaan yang besar bagi kita semua: bagaimana mungkin NU, 
yang merupakan kumpulan orang-orang dengan keterikatan yang lebih ketat 
terhadap doktrin keislaman seperti tercantum dalam Al-Quran, hadis dan 
kitab-kitab, bisa begitu konsisten untuk memainkan bola panas politik, 
dengan segala implikasi negatifnya? Bukankah dengan jelas Al-Quran, 
hadis dan kitab-kitab mengajarkan supaya kita menghindari hal-hal: 
ambisi kekuasaan, mabuk dunia, sikap rakus, pertengkaran (konflik) dan 
semacamnya, tapi mengapa doktrin itu seolah hilang dari NU dan 
komunitasnya? Bahkan ada kesan, mereka kini termasuk di antara 
kelompok-kelompok yang berada di garda terdepan dalam merengkuh 
sikap-sikap negatif tadi. (Lihat, misalnya, di antara lima calon 
gubernur kita, empat orang adalah dari NU. Bahkan di satu kabupaten, ada 
ketua tanfidziyah dan rais syuriyah yang saling diadu: mereka saling 
berebut kursi bupati.)
Ada yang lebih gawat lagi. Kalau dulu melemahnya kultur santri hanya 
terjadi di luar organisasi NU, yakni hanya dipraktekkan oleh para 
kadernya saat mereka bermain politik praktis di luar panggung NU, 
sekarang cara-cara tercela yang biasanya dilakukan di panggung lain 
dibawa pula ke atas panggung organisasi NU. Maka, perebutan kepemimpinan 
NU (pusat dan daerah) dengan cara yang halus hingga yang kasar pun bukan 
sesuatu yang asing di ormas tersebut. Begitupun dengan cara-cara 
politicking yang lain. Sebab, NU telah berubah menjadi kendaraan 
politik. Pasar NU menjadi ramai dengan transaksi dagang sapi. Ini semua 
merupakan kehilangan besar. Suatu prahara di “Republik NU”.(*)

------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke