KOMUNITAS NU AMERIKA SERIKAT: ISLAM-BARAT HARUS SALING
MEMPERKAYA

 

 

Boston (29 Juni
2008)—Dunia Islam dan Barat tidak harus dipandang secara antagonis dan
bertentangan. Keduanya harus saling melengkapi dan memperkaya. Itulah pikiran
utama yang mengemuka dalam acara deklarasi berdirinya Komunitas Nahdlatul Ulama
Amerika Serikat (KNU-AS) hari ini di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

 

Sejumlah aktivis
NU di AS yang terlibat dalam persiapan pendirian KNU-AS hadir dalam deklarasi
ini. Mereka adalah Sumanto Al-Qurtubi dan Achmad Tohe, keduanya adalah mahasiswa
PhD Boston University, Achmad Munjid, mahasiswa PhD di Temple University, dan
Ulil Abshar Abdalla, mahasiswa PhD Harvard University.

 

“Bagi kami,
hubungan dunia Islam dan Barat tidak harus antagonis. Islam justru bisa
memberikan kontribusi positif bagi dunia Barat. Begitu pula perjumpaan dunia
Islam-Barat bisa memberikan kontribusi positif bagi dunia Islam,” demikian
bunyi deklarasi yang dibacakan oleh Ulil Abshar-Abdalla.

 

“Bagi kami, keindonesiaan
dan keislaman bersifat saling melengkapi dan memperkaya,” tegas deklarasi itu
lebih lanjut.

 

Prof. Salahuddin
Kafrawi, aktivis NU yang sekarang menjadi profesor filsafat Islam di William
and Hobart College, Geneva, New York, mendukung pemikiran tersebut. Dalam
pandangan Prof. Kafrawi yang juga salah satu deklarator KNU-AS itu, identitas
keislaman dan keamerikaan juga tak harus dipertentangkan. Keduanya bisa saling 
berdialog
secara produktif. 

 

Ada tiga masalah
utama yang menjadi keprihatinan para deklator KNU-AS. Pertama, hubungan dunia
Islam-Barat yang masih diwarnai oleh prasangka. Kedua, kehidupan berbangsa dan
bernegara yang memprihatinkan. Ketiga, melemahnya vitalitas Nahdlatul Ulama
sebagai ormas keagamaan. 

 

Dalam pandangan
Achmad Munjid, aktivis NU yang menjadi salah satu motor utama KNU-AS ini, visi
keislaman NU kurang berhasil diterjemahkan dalam konteks masyarakat modern.
Visi keislaman yang ditawarkan oleh “gerakan-gerakan Islam baru” tampaknya jauh
lebih memikat generasi Islam sekarang. 

 

“Tantangan NU
adalah bagaimana melakukan kontekstualisasi visi keislaman ala NU dalam konteks 
yang sudah berubah saat ini,” tegas Munjid. 

 

“Dengan
berdirinya KNU-AS ini, kami juga hendak menyumbangkan gagasan-gagasan segar
dalam wacana keislaman di tanah air,” tambah Munjid lagi.

 

Meskipun
merupakan wadah umat Islam Amerika Serikat yang memiliki hubungan kultural dan
keagamaan dengan tradisi NU, namun KNU-AS berusaha merumuskan identitas
ke-NU-an yang terbuka.

 

“Kami
mendefinisikan diri sebagai umat Islam dalam tradisi Sunni, Asy’ari, dan mazhab
empat, namun terbuka pada keragaman sekte, aliran dan mazhab-mazhab yang ada
dalam masyarakat Islam, baik di Amerika, Indonesia, atau dunia Islam secara
umum” tegas Achmad Tohe, aktivis NU yang sekarang sedang menempuh program PhD
di Boston, University.

 

“Kami ingin
mempertahankan tradisi Asy’ariyah dan mazhab empat, tetapi kami juga ingin agar
tradisi itu terbuka pada kemungkinan tafsir baru,” kata Syamsul Ma’arif,
mahasiswa PhD di Arizona State University.

 

Deklarasi ini
juga dihadiri oleh Sukidi Mulyadi, pemikir muda Muhammadiyah yang sekarang
menempuh program PhD di Harvard University, dan Jajang Jahroni, mahasiswa PhD
di Boston University.

 

Deklarasi ditutup
dengan do’a yang dibacakan oleh Sukidi Mulyadi yang mewakili Muhammadiyah dan
Akhmad Munjid yang mewakili NU.

 

“Agar NU dan
Muhammadiyah bisa bekerjasama untuk mengembangkan pemahaman Islam yang
kontektual dan progresif di Amerika,” tegas Ulil mengomentari doa yang
dibacakan dua wakil dari ormas besar Islam di Indonesia itu.

 

Sejumlah aktivis
NU di AS terlibat dalam persiapan pendirian organisasi ini. Mereka adalah
Sumanto Al Qurtuby, mahasiswa PhD Boston University, Achmad Munjid, mahasiswa
PhD Temple University, Achmad Tohe, mahasiswa PhD Boston University, Muhammad
Abdun Nasir, mahasiswa PhD Emory University, Kustim Wibowo, ketua Departemen
Manajemen Sistem Informasi di Eberly College-Indiana University of
Pennsylvania, Akhmad Sahal, mahasiswa PhD University of Pennsylvania, Ahmad
Rafiq, mahasiswa PhD Temple University, Syamsul Ma’arif, mahasiswa PhD Arizona
State University, Munajat, mahasiswa PhD Texas A & M University, Salahuddin
Kafrawi, professor filsafat Islam di William and Hobart College (Geneva, New
York), Dadi Darmadi, mahasiswa PhD Harvard University, Ulil Abshar-Abdalla,
mahasiswa PhD Harvard University, Saiful Umam, mahasiswa PhD University of
Hawaii at Menoa, Hasan Basri, visiting
fellow di Temple University, dan Mustaghfiroh Rahayu, mahasiswa MA di
Florida International University, Miami.****



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke