http://www.lakpesdam.or.id/publikasi/213/mualim-syafii-dan-berislam-gaya-jakarta
Mualim Syafi'i dan Berislam Gaya Jakarta
Di salah satu milis yang digunakan kawan-kawan NU berkomunikasi, saya
menjumpai salah satu aktifis milis bernama Muhammad Muallim. Nama
belakang saudara Muhammad ini, yaitu Mualim, mengingatkan saya pada
sebuah tulisan pendek berjudul "Mualim Syafi'i". Penulisnya KH.
Abdurahman Wahid alias Gus Dur, dimuat di majalah mingguan Tempo awal
tahun 80-an. Tentu saya tidak membacanya pas majalah tersebut terbit,
saya membacanya di kliping milik seorang kawan ketika mondok di
pesantren Krapyak Yogyakarta, 10 tahun yang lalu. Sebab, tahun 80-an
saya masih "balita".
Yang dimaksud Mualim Syafi'i, baik dalam tulisan Gus Dur maupun tulisan
ini adalah almarhum KH. Abdullah Syafi'i, perintis majlis taklim,
perguruan dan pesantren Asyafi'iyah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.
Gus Dur menulis Mualim Syafi'i untuk mengenang sikap dan pandangannya.
Tulisan Gus Dur itu terbit tidak lama setelah Mualim Syafi'i pergi ke
alam Barzah.
Dalam tulisan itu, Gus Dur menyampaikan paling tidak 2 poin penting.
Pertama, komunitas muslim di Jakarta (Islam Jakarta) lebih dekat dengan
budaya Arab ketimbang komunitas Islam di daerah lain di pelosok
Nusantara ini. Kentalnya budaya Arab di Jakarta bukan semata-mata karena
ada banyak habib/sayid yang di kalangan Islam Indonesia harus dihormati
(khususnya komunitas muslim berkultur NU), atau ada kampung Pekojan yang
dipenuhi Golkar, Golongan Keturunan Arab. Lebih dari itu, demikian kata
Gus Dur.
Kearaban yang memasyarakat di Jakarta juga, kata Gus Dur, dikarenakan
banyaknya orang Betawi belajar di Timur Tengah (Mekah dan Kairo). Dengan
demikian, secara otomatis budaya Arab mengikutinya. Tentu saja di sana
ada proses akulturasi, tidak mentah-mentah budaya Arab --seperti juga
budaya lain- begitu saja memasyarakat.
Gus Dur mencontohkan betapa kata ganti "ane" untuk orang pertama dan
"ente" untuk orang kedua "menjadi betawi", berjalan beriringan dengan
"gue" dan "elu". Bahkan, orang asli di Tegalparang, Mampang Prapatan,
lebih mudah menyebut "nyahi" ketimbang "minum teh". "Nyahi" berasal dari
bahasa Arab "Syahi", yang berarti teh. Karena itu, tidak mengherankan
jika orang Jakarta menyebut "Mualim" untuk orang pandai ilmu agama serta
istiqomah mengajarkannya kepada masyarakat umum. Gus Dur berkelakar,
sebutan Mualim bukan lantaran mampu mengemudikan kapal. Gelar Mualim
lebih tinggi ketimbang Ustadz. Di Jawa Tengah dn Jawa Timur, "Mualim"
setingkat dengan "Kiai", sementara "Ustadz" setingkat dengan "Guru"
Mualim Syafi'i diberi gelar "Kiai" belumlah lama. "Kiai" dipakai di
populer setelah ada Jawanisasi. Jawanisasi yang paling terasa berbentuk
migrasi para ulama Jawa ke Jakarta . Mungkin yang dimaksud Gus Dur
adalah banyaknya kiai Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Kiai Wahid
Hasyim, Kiai Wahab Hasbullah, dll, banyak bolak-balik, Jakarta-Jombang,
dan lain-lain, bahkan kemudian menetap di Jakarta karena menduduki
jabatan yang mengharuskan tinggal di Jakarta. Kalau benar, berarti
migrasi besar-besaran terjadi sekitar awal abad 20, di saat orang di
luar datang ke Jakarta dalam rangka mengentalkan gerakan kemerdekaan
dari pemerintahan kolonial.
Poin kedua yang disampaikan Gus Dur adalah, kekuekuehan dan
kekonsistensi Mualim Syafi'i dalam menumpulkan dampak negatif dari
modenisasi/liberalisasi. Spiritualitas yang ditawarkan Mualim Syafi'i
mampu mengatasi kekeringan jiwa manusia yang terhimpit oleh kehidupan
yang berorientasi serba benda. Solidaritas yang dibangun Mualim Syafi'i
merupakan penangkal terhadap rasa keterasingan akibat terurainya
ikatan-ikatan sosial lama dalam kehidupan berrumah tangga dan
bertetangga atau bermasyarakat. Kekuekuehan Mualim Syafi'i misalnya
berwujud pada penentangan kebijakasanaan mencari dana melalui perjudian
di masa gubernur almarhum Ali Sadikin. Begitu juga kebijaksanaan
penggusuran pekuburan dari Karet ke Tanah Kusir. Semua sanggahan Mualim
Syafi'i berdasarkan ajaran agama, sehingga terasa mencekam.
Tapi Mualim Syafi'i tetap bergaul hangat dengan Ali Sadikin, meskipun
sang gubernur tetap saja mengizinkan dan melegalkan perjudian. Gus Dur
kemudian melontarkan pertanyaan, apakah Mualim Syafi'i tidak lagi
menjalankan perintah agama (amar ma'ruf dan nahi munkar)? Mualim Syafi'i
tidak konsisten? Apakah ia telah terbuai persahabatannya dengan Ali Sadikin?
Ternyata tidak demikian kata Gus Dur. Sebabnya sederhana saja. Mualim
Syafi'i tahu betul batas peranan yang harus dimainkannya sebagai
mubaligh/pendakwah, yaitu sebatas mengajarkan pendirian ajaran agama,
tidak lebih. Bukan menentang pemerintah. Juga bukan menyusun kekuatan
(machtsvorming) untuk memaksakan pendirian. Kalau pendirian agama sudah
dirasa cukup disampaikan, sudah gugur kewajiban agama. Kewajiban seorang
pendakwah (mubaligh), bahkan tingkatan seorang rasul sekelipun, hanya
sebatas "menyampaikan", bukan "menjadikan". Jangan sampai kewajiban
berdakwah merusak kewajiban lain yang juga harus dijaga
keberlangsungannya, yaitu menjaga ukhuwah islamiyah (ukhuwah islamiyah
bermakna membangung persaudaraan berdasarkan nilai-nilai Islam, bukan
bersaudaraan sesama komunitas muslim).
Dari sini, dapatlah dipahami bahwa berdakwah tak perlu merusak pergaulan
dan karakteristik bermasyarakat, yaitu keanekaragaman, baik menyangkut
keyakinan beragama dan keyakinan ataupun pendapat. Menyampaikan ajaran
agama tak perlu menegangkan urat leher, apalagi kekerasan. Dengan
demikian, jelaslah bahwa kehangatan antara Ali Sadikin dengan Mualim
Syafi'i bukanlah oportunisme, bukanlah loncatan untuk meraih ambisi
pribadi. Sebaliknya yang dilakukan oleh Mualim Syafi'i adalah
konsistensi dalam menerapkan ukhuwah islamiyah.
Nah, yang ingin saya lontarkan pada kesempatan ini adalah, "Bagaimana
jejak ajaran dan sikap Mualim Syafi'i dalam kehidupan di komunitas
muslim Jakarta saat ini?
Kenapa pertanyaan ini penting dilontarkan? Jawabnya, pertama, adalah
bahwa Mualim Syafi'i merupakan salah satu peletak dasar gaya atau model
Islam di Jakarta (Islam Jakarta). Banyak ulama yang masyhur di Jakarta
adalah muridnya. Mualim Syafi'i salah satu peletak dasar Islam Jakarta,
dengan karakter Islam dan budaya Arab disertai sikap toleransi terhadap
kemajemukan kota Jakarta . Ia tahu betul bahwa Jakarta dihuni oleh,
bukan hanya pelosok negeri, tapi juga dari penjuru dunia, karena
posisinya sebagai ibu kota negara. Semua orang yang tinggal di Jakarta ,
tanpa kekecualian, harus merasa betah, at home.
Kedua, saya melihat adanya indikasi bahwa ajaran yang diletakkan Mualim
Syafi'i sudah mengalami erosi. Kerap sekali saya mendengarkan
ceramah-ceramah keagamaan ataupun khutbah-khutbah sembahyang Jumat
berisi hujatan-hujatan terhadap kelompok yang tidak sejalan. Tidak
berhenti sampai di situ, penggledahan dan pengrusakan terhadap tempat
yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan agama kerap
dipertontonkan oleh beberapa komunitas muslim di Jakarta.
Saya bisa memahami kegusaran komuitas muslim di Jakarta terhadap ekses
negatif modenisasi. Tapi saya sungguh tidak paham, "Kenapa jalan
kekerasan itu ditempuh, padahal budaya kekerasan dan intolrensi bukan
karakter Islam Jakarta yang telah diletakkan berpuluh-puluh tahun oleh
Mualim Syafi'i?
Terakhir, terima kasih buat Muhammad Muallim, nama belakangmu telah
berhasil memunculkan ingatan saya. Dan, buat warga Jakarta , selamat
merayakan ulang tahun kota Jakarta yang ke-481!
Jakarta jaya!
/Hamzah Sahal/
/Redaktur Pelaksana Jurnal Tashwirul Afkar/
[Non-text portions of this message have been removed]