--- On Mon, 7/7/08, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kmnu2000] Mualim Syafi'i dan Berislam Gaya Jakarta
To: [email protected]
Date: Monday, July 7, 2008, 1:03 AM






http://www.lakpesda m.or.id/publikas i/213/mualim- syafii-dan- berislam- 
gaya-jakarta

Mualim Syafi'i dan Berislam Gaya Jakarta

Di salah satu milis yang digunakan kawan-kawan NU berkomunikasi, saya 
menjumpai salah satu aktifis milis bernama Muhammad Muallim. Nama 
belakang saudara Muhammad ini, yaitu Mualim, mengingatkan saya pada 
sebuah tulisan pendek berjudul "Mualim Syafi'i". Penulisnya KH. 
Abdurahman Wahid alias Gus Dur, dimuat di majalah mingguan Tempo awal 
tahun 80-an. Tentu saya tidak membacanya pas majalah tersebut terbit, 
saya membacanya di kliping milik seorang kawan ketika mondok di 
pesantren Krapyak Yogyakarta, 10 tahun yang lalu. Sebab, tahun 80-an 
saya masih "balita".

Yang dimaksud Mualim Syafi'i, baik dalam tulisan Gus Dur maupun tulisan 
ini adalah almarhum KH. Abdullah Syafi'i, perintis majlis taklim, 
perguruan dan pesantren Asyafi'iyah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. 
Gus Dur menulis Mualim Syafi'i untuk mengenang sikap dan pandangannya. 
Tulisan Gus Dur itu terbit tidak lama setelah Mualim Syafi'i pergi ke 
alam Barzah.

Dalam tulisan itu, Gus Dur menyampaikan paling tidak 2 poin penting. 
Pertama, komunitas muslim di Jakarta (Islam Jakarta) lebih dekat dengan 
budaya Arab ketimbang komunitas Islam di daerah lain di pelosok 
Nusantara ini. Kentalnya budaya Arab di Jakarta bukan semata-mata karena 
ada banyak habib/sayid yang di kalangan Islam Indonesia harus dihormati 
(khususnya komunitas muslim berkultur NU), atau ada kampung Pekojan yang 
dipenuhi Golkar, Golongan Keturunan Arab. Lebih dari itu, demikian kata 
Gus Dur.

Kearaban yang memasyarakat di Jakarta juga, kata Gus Dur, dikarenakan 
banyaknya orang Betawi belajar di Timur Tengah (Mekah dan Kairo). Dengan 
demikian, secara otomatis budaya Arab mengikutinya. Tentu saja di sana 
ada proses akulturasi, tidak mentah-mentah budaya Arab --seperti juga 
budaya lain- begitu saja memasyarakat.

Gus Dur mencontohkan betapa kata ganti "ane" untuk orang pertama dan 
"ente" untuk orang kedua "menjadi betawi", berjalan beriringan dengan 
"gue" dan "elu". Bahkan, orang asli di Tegalparang, Mampang Prapatan, 
lebih mudah menyebut "nyahi" ketimbang "minum teh". "Nyahi" berasal dari 
bahasa Arab "Syahi", yang berarti teh. Karena itu, tidak mengherankan 
jika orang Jakarta menyebut "Mualim" untuk orang pandai ilmu agama serta 
istiqomah mengajarkannya kepada masyarakat umum. Gus Dur berkelakar, 
sebutan Mualim bukan lantaran mampu mengemudikan kapal. Gelar Mualim 
lebih tinggi ketimbang Ustadz. Di Jawa Tengah dn Jawa Timur, "Mualim" 
setingkat dengan "Kiai", sementara "Ustadz" setingkat dengan "Guru"

Mualim Syafi'i diberi gelar "Kiai" belumlah lama. "Kiai" dipakai di 
populer setelah ada Jawanisasi. Jawanisasi yang paling terasa berbentuk 
migrasi para ulama Jawa ke Jakarta . Mungkin yang dimaksud Gus Dur 
adalah banyaknya kiai Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Kiai Wahid 
Hasyim, Kiai Wahab Hasbullah, dll, banyak bolak-balik, Jakarta-Jombang, 
dan lain-lain, bahkan kemudian menetap di Jakarta karena menduduki 
jabatan yang mengharuskan tinggal di Jakarta. Kalau benar, berarti 
migrasi besar-besaran terjadi sekitar awal abad 20, di saat orang di 
luar datang ke Jakarta dalam rangka mengentalkan gerakan kemerdekaan 
dari pemerintahan kolonial.

Poin kedua yang disampaikan Gus Dur adalah, kekuekuehan dan 
kekonsistensi Mualim Syafi'i dalam menumpulkan dampak negatif dari 
modenisasi/liberali sasi. Spiritualitas yang ditawarkan Mualim Syafi'i 
mampu mengatasi kekeringan jiwa manusia yang terhimpit oleh kehidupan 
yang berorientasi serba benda. Solidaritas yang dibangun Mualim Syafi'i 
merupakan penangkal terhadap rasa keterasingan akibat terurainya 
ikatan-ikatan sosial lama dalam kehidupan berrumah tangga dan 
bertetangga atau bermasyarakat. Kekuekuehan Mualim Syafi'i misalnya 
berwujud pada penentangan kebijakasanaan mencari dana melalui perjudian 
di masa gubernur almarhum Ali Sadikin. Begitu juga kebijaksanaan 
penggusuran pekuburan dari Karet ke Tanah Kusir. Semua sanggahan Mualim 
Syafi'i berdasarkan ajaran agama, sehingga terasa mencekam.

Tapi Mualim Syafi'i tetap bergaul hangat dengan Ali Sadikin, meskipun 
sang gubernur tetap saja mengizinkan dan melegalkan perjudian. Gus Dur 
kemudian melontarkan pertanyaan, apakah Mualim Syafi'i tidak lagi 
menjalankan perintah agama (amar ma'ruf dan nahi munkar)? Mualim Syafi'i 
tidak konsisten? Apakah ia telah terbuai persahabatannya dengan Ali Sadikin?

Ternyata tidak demikian kata Gus Dur. Sebabnya sederhana saja. Mualim 
Syafi'i tahu betul batas peranan yang harus dimainkannya sebagai 
mubaligh/pendakwah, yaitu sebatas mengajarkan pendirian ajaran agama, 
tidak lebih. Bukan menentang pemerintah. Juga bukan menyusun kekuatan 
(machtsvorming) untuk memaksakan pendirian. Kalau pendirian agama sudah 
dirasa cukup disampaikan, sudah gugur kewajiban agama. Kewajiban seorang 
pendakwah (mubaligh), bahkan tingkatan seorang rasul sekelipun, hanya 
sebatas "menyampaikan" , bukan "menjadikan" . Jangan sampai kewajiban 
berdakwah merusak kewajiban lain yang juga harus dijaga 
keberlangsungannya, yaitu menjaga ukhuwah islamiyah (ukhuwah islamiyah 
bermakna membangung persaudaraan berdasarkan nilai-nilai Islam, bukan 
bersaudaraan sesama komunitas muslim).

Dari sini, dapatlah dipahami bahwa berdakwah tak perlu merusak pergaulan 
dan karakteristik bermasyarakat, yaitu keanekaragaman, baik menyangkut 
keyakinan beragama dan keyakinan ataupun pendapat. Menyampaikan ajaran 
agama tak perlu menegangkan urat leher, apalagi kekerasan. Dengan 
demikian, jelaslah bahwa kehangatan antara Ali Sadikin dengan Mualim 
Syafi'i bukanlah oportunisme, bukanlah loncatan untuk meraih ambisi 
pribadi. Sebaliknya yang dilakukan oleh Mualim Syafi'i adalah 
konsistensi dalam menerapkan ukhuwah islamiyah.

Nah, yang ingin saya lontarkan pada kesempatan ini adalah, "Bagaimana 
jejak ajaran dan sikap Mualim Syafi'i dalam kehidupan di komunitas 
muslim Jakarta saat ini?

Kenapa pertanyaan ini penting dilontarkan? Jawabnya, pertama, adalah 
bahwa Mualim Syafi'i merupakan salah satu peletak dasar gaya atau model 
Islam di Jakarta (Islam Jakarta). Banyak ulama yang masyhur di Jakarta 
adalah muridnya. Mualim Syafi'i salah satu peletak dasar Islam Jakarta, 
dengan karakter Islam dan budaya Arab disertai sikap toleransi terhadap 
kemajemukan kota Jakarta . Ia tahu betul bahwa Jakarta dihuni oleh, 
bukan hanya pelosok negeri, tapi juga dari penjuru dunia, karena 
posisinya sebagai ibu kota negara. Semua orang yang tinggal di Jakarta , 
tanpa kekecualian, harus merasa betah, at home.

Kedua, saya melihat adanya indikasi bahwa ajaran yang diletakkan Mualim 
Syafi'i sudah mengalami erosi. Kerap sekali saya mendengarkan 
ceramah-ceramah keagamaan ataupun khutbah-khutbah sembahyang Jumat 
berisi hujatan-hujatan terhadap kelompok yang tidak sejalan. Tidak 
berhenti sampai di situ, penggledahan dan pengrusakan terhadap tempat 
yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan agama kerap 
dipertontonkan oleh beberapa komunitas muslim di Jakarta.

Saya bisa memahami kegusaran komuitas muslim di Jakarta terhadap ekses 
negatif modenisasi. Tapi saya sungguh tidak paham, "Kenapa jalan 
kekerasan itu ditempuh, padahal budaya kekerasan dan intolrensi bukan 
karakter Islam Jakarta yang telah diletakkan berpuluh-puluh tahun oleh 
Mualim Syafi'i?

Terakhir, terima kasih buat Muhammad Muallim, nama belakangmu telah 
berhasil memunculkan ingatan saya. Dan, buat warga Jakarta , selamat 
merayakan ulang tahun kota Jakarta yang ke-481!

Jakarta jaya!

/Hamzah Sahal/
/Redaktur Pelaksana Jurnal Tashwirul Afkar/

[Non-text portions of this message have been removed]

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke