Nb: Ada fenomena yang luar biasa di PWNU Jatim Seperti dilaporkan Gatra, Rais Syuriah dan jajarannya berani bertindak tegas pada Ali Maschan ketika dia ngotot jd Cawagub. Semoga tindakan di atas dikuti seluruh PWNU dan PCNU-nya.
Syg sekali, setahu saya, fenomena menarik ini, tidak diekspose besar-besaran... atau diperdebatkan dimilist2 komunitas NU -semoga dugaan yang salah. Padahal kejadian yang nampaknya sederhana ini, mungkin bisa jadi momentum awal terwujudnya garis tegas antara relasi NU dan politik pada tingkat action, setelah mabda Khittah sering dipolitisir. Salam, Aang , Cairo Mendukung keputusan pemecatan Ali Maschan....!!! Ali Maschan Tak Direstui Pimpin NU Jatim Surabaya, 13 Juli 2008 05:44 Calon wakil gubernur Jawa Timur (cawagub Jatim) yang juga mantan Ketua PWNU Jatim, Ali Maschan Moesa, akhirnya tak direstui untuk menjadi Ketua PWNU Jatim lagi. "Saya keberatan, biar saja pak Ali Maschan meneruskan aktivitas politik praktis sebagai cawagub," kata Rais Syuriah PWNU Jatim terpilih, Miftachul Akhyar, di Surabaya, Sabtu (12/7). Miftachul mengemukakan hal itu di hadapan peserta Konferensi Wilayah (Konferwil) dipercepat NU Jatim di kantor PWNU Jatim terkait persetujuan Rais Syuriah terpilih kepada calon Ketua Tanfidziyah. Dalam sidang khusus pemilihan Ketua PWNU yang dipimpin Wakil Rois Syuriah PBNU, Masyhuri Naim, dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Taufik Abdullah, Ali Maschan meraih 17 suara, sedang Hasan Mutawakkil Alallah memperoleh 20 suara. Selain itu, Masyhudi Muchtar mendapatkan tiga suara, Nuruddin A Rahman meraup satu suara, dan satu suara abstain, sehingga suara total mencapai 41 suara, karena dua PCNU berhalangan. "Karena pasal 12-c tata tertib pemilihan Ketua PWNU Jatim menentukan suara minimal untuk menjadi calon ketua PWNU adalah 15 suara, maka pak Ali Maschan dan kiai Mutawakkil berpeluang," kata Taufik Abdullah. Namun, kata pimpinan sidang pemilihan itu, keduanya harus memenuhi beberapa persyaratan yakni menyatakan kesediaan di depan peserta konferensi, dan menandatangani "kontrak jam`iyah" (siap mundur bila terlibat politik praktis). Menanggapi persyaratan itu, kiai Mutawakkil dan Ali Maschan sama-sama menyatakan kesediaan, kemudian kiai Mutawakkil langsung menandatangani kontrak jam`iyah, sedangkan Ali Maschan minta waktu. "Saya tidak mungkin menandatangani kontrak jam`iyah sekarang, karena siapa pun tahu kalau saya sedang mencalonkan diri dalam Pilgub Jatim pada 23 Juli mendatang," katanya. Pernyataan Ali Maschan itu dikoreksi pimpinan sidang, Taufik Abdullah, kemudian Ali Maschan maju untuk menandatangani "kontrak jam`iyah" atas izin peserta konferensi, namun seorang peserta memprotes. Dalam situasi persidangan yang "memanas" itu, pimpinan sidang akhirnya meminta Ali Maschan dan peserta yang maju ke depan kursi pimpinan sidang untuk kembali ke kursi masing-masing guna melihat persyaratan lain. "Masih ada persyaratan lain yang diatur dalam pasal 11 bahwa calon harus mendapat persetujuan dari Rais Syuriah terpilih, karena itu kiai Miftachul Akhyar dimohon menyampaikan langsung di depan peserta," katanya. Di hadapan peserta Konferwil dipercepat NU Jatim itu, kiai Miftachul Akhyar mengaku keberatan. "Saya mengingatkan bahwa NU dibangun untuk memperbaiki moralitas, karena itu masalah kontrak jam`iyah itu tidak dapat ditunda-tunda," katanya. Usai sidang pemilihan itu, kiai Miftachul Akhyar menyatakan dirinya menolak Ali Maschan bukan karena tidak memperhatikan 17 pendukung Ali Maschan, namun dirinya tak mungkin menerima Ali Maschan dengan "dua kaki" yakni NU dan cawagub. "Moralitas itu bukan hanya retorika, tapi harus dijaga. Para kiai mendirikan NU untuk menjaga moralitas bangsa, karena itu saya menolak Ali Maschan untuk keberlanjutan masa depan NU agar bebas dari ambisi dan kepentingan," katanya. Sebelumnya, kiai Miftachul Akhyar sendiri terpilih secara aklamasi setelah meraih 37 dari 41 suara, sedangkan calon Rais Syuriah lainnya adalah Agoes Ali Masyhuri (satu suara), KHM Nadjib (2), dan satu suara tidak sah. KHM Nadjib adalah Rais Syuriah NU Kediri. Dalam sidang itu, Wakil Rois Syuriah PBNU Masyhuri Naim menegaskan, PBNU merekomendasikan Konferwil dipercepat agar tak terjadi kekosongan kepemimpinan yang menyebabkan NU akan mudah "dipermainkan" pihak luar. [EL, Ant] [Non-text portions of this message have been removed]
