Limbah kayu sisa dari pabrik ternyata masih banyak gunanya. Yang utama tentu 
bisa menjadi kayu bakar. Namun kalau Anda kreatif, limbah kayu ini bisa menjadi 
kerajinan yang cantik dan, tentu saja, lebih bernilai sekaligus menguntungkan.

Salah satu perajin limbah kayu itu adalah Rakhmat Basuki. Pria asal Bandung 
yang tinggal di Bojongkoneng Atas ini sejak beberapa waktu lalu memang rajin 
mengumpulkan limbah kayu dari pabrik dekat rumahnya. Dari kayu-kayu yang tak 
utuh itulah, Rakhmat kemudian menjadikannya barang-barang yang menarik, seperti 
miniatur alat berat, bus, tempat kue kering, dan masih banyak lagi macam 
kreasinya.

Usaha Rakmat sesungguhnya adalah membuat kue kering. Sejak beberapa tahun silam 
dia menekuni bisnis itu bersama isterinya. Namun, bisnis ini memang pasang 
surut. Ada kalanya ramai, namun sering sepi.

Untuk mengisi waktu senggang di kala pesanan sepi itulah Rakhmat iseng-iseng 
membuat berbagai miniatur. "Saya buat model miniatur kendaraan alat berat dan 
kendaraan lainnya," katanya. Pada awalnya, Rakhmat tak langsung menjual 
miniaturnya itu. Ia hanya iseng-iseng menawarkan kepada pelanggan roti 
keringnya. Ternyata sambutannya menggembirakan, banyak orang membeli. Dari 
situlah Rakhmat mulai bersemangat untuk mengembangkan.

Pelan tapi pasti, permintaan pun mulai mengalir. Bahkan, kini setiap tahun dia 
sudah mampu menangguk omset hingga Rp 300 juta. Meski demikian, Rakhmat mengaku 
masih mempunyai cita-cita ingin mengekspor seluruh miniaturnya itu ke luar 
negeri.

Ia mengaku bingung dengan orang sebangsanya yang nafsu menjiplaknya sangat 
tinggi. "Saya masih ingin barang saya dijual ke luar negeri," katanya. Namun, 
sebelum ada pembeli luar negeri muncul, Rakhmat terpaksa menyeleksi para calon 
pembelinya.

Rakhmat bukannya sombong dengan strategi menyeleksi pembeli itu. Ia optimis, 
April nanti, setelah dia mengikuti pameran Inacraft di Jakarta Convention 
Center, pasti cita-cita mengekspor miniaturnya itu akan kesampaian. "Kalau, 
toh, tidak kesampaian, ya, tetap dijual di sini," ujarnya, lugu.

Seribu unit per bulan

Setelah sekian lama berkarya, Rakhmat sudah menghasilkan enam jenis miniatur 
berbagai alat berat, yaitu military series, locomotive series, truck series, 
binatang, jeep, dan kendaraan alat berat. Kalau diperinci lagi memang lebih 
banyak lagi karena dari setiap seri, variannya juga banyak.

Sebagai referensi model, Rakhmat banyak melihat situs-situs di internet. "Saya 
banyak mengambil model dari internet," jelasnya. Seperti truk tahun 1980-an pun 
ia buat. Atau kendaraan berat seperti buldoser dan berbagai kendaraan yang 
lain. Menurutnya masing-masing kendaraan yang ia bikin mempunyai tingkat 
kesulitan pembuatan yang cukup tinggi.

Karena itu, jangan heran, kalau Rakhmat membanderol produknya relatif mahal, 
mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 150.000 per unitnya.

Sekarang Rakhmat sudah memperkerjakan sepuluh karyawan. Dengan pekerja sebanyak 
itu, sebulan bengkelnya bisa menghasilkan 1.000 unit produk kerajinan. "Pekerja 
saya tak hanya mengerjakan produk miniatur," katanya. Mereka juga mengerjakan 
pesanan kemasan kue dari kayu.

Rakhmat mengaku, saat memulai bisnis, dia mengeluarkan modal sebanyak Rp 10 
juta. Modal tersebut ia pakai untuk membeli alat produksi. Seperti lem, 
gergaji, bor, amplas dan alat bubut. "Sudah balik modal dan untung," katanya. 
Tapi, cita-cita agar miniaturnya mejeng di pasar mancanegara masih menjadi 
harapannya. (Avanty Nurdiana/Kontan)

 

 
Kerajinan Kayu Bekas





wah bagus sekali idenya....

Informasi ini dari milis : http://finance.groups.yahoo.com/group/filass_tech/
SUBSCRIBE : [EMAIL PROTECTED]


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke