FYI,

ada buku baru nih...

salam,
kc


---------- Forwarded message ----------
From: mangoenpoerojo roch basoeki <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Jul 12, 2008 11:41 AM
Subject: [media-jabar] Fw: Buku Lumpur Lapindo
To: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>, media-jabar <
[EMAIL PROTECTED]>
Cc: media-jabar Moderator <[EMAIL PROTECTED]>

terbit buku baru di Bandung, tentang "Lumpur Lapindo" :

*Judul: KERUGIAN BANGSA Akibat Lumpur di Sidoarjo.
Penulis : Roch Basoeki Mangoenpoerojo*
*Editor : Jainul A. Dalimunthe*
*Penerbit: Visibuku Info Indonesia*
*Terbitan: 29 Mei, 2008 (dua tahun semburan lumpur)
Ukuran buku: 15 x 23 cm
Tebal : 450 halaman
ISBN 978-602-9103-16 9*
*Harga: 74.500,00*
*Tersedia di : Toko Buku Gramedia terdekat*
**
*Abstrak:*
Sementara ini masyarakat menganggap bahwa permasalahan Semburan lumpur
sebagai masalah bisnis murni yang berkaitan dengan geologi, khususnya
perminyakan. Penilai tersebut benar adanya. Namun ternyata, lewat pengamatan
terhadap AKIBAT-nya selama setahun penuh, masalah teknik (geologi maupun
bisnis murni) hanyalah 20% dari permasalahan. Begitu kalau dilihat dengan
kacamata Pembukaan UUD.
Yang 80% selebihnya ditimbulkan oleh manusia. Untuk menyelesaikan soal ini
persepsi manusia Indonesia terhadap segala hal harus dibenahi. Baik persepsi
terhadap negara, terhadap ilmu pengetahuan, terhadap manusia lainnya,
terhadap alam semesta dan Tuhan. Amat khusus, persepsi terhadap arti
"kerugian". Aneh, mungkinkah karena saking kayanya, bangsa ini tak pernah
merasa rugi, "untung terus"? Rekayasa Belandakah "agar bisa mengeruk
kekayaan Indonesia sampai puas, yang inlander dibuat tidak merasa rugi
sedangkan para ambtenaar dibuat selalu merasa untung". Bangsa ini kini
menuai badai, negri hancur pun tidak ada yang rugi. Itulah intisari dari
buku, yang ingin mencerahkan warga bangsa mulai dari "merasa rugi". Rugi
dalam value maupun price. Dalam konteks itu, perdebatan para ilmuwan selama
ini tidak bermanfaat. Posisi ilmuwan dalam konteks keseluruhan permasalahan,
inilah yang didiskusikan dalam buku ini.
Yang dimaksud manusia di sini adalah korban, non-korban, serta interaksinya
sebagai satu bangsa dalam konteks universal. Perpres 14/2007 yang
dikeluarkan untuk menangani bencana ini memvisualisasikan betapa bangsa ini
kering akan persepsi, hidup hanya untuk hari ini, paling panjang untuk satu
periode pemilu. Kemudian benang merah mengalirnya pemikiran adalah sebagai
berikut :
1. Keadaan Awal tentang keadaan umum Sidoarjo sebagai kota industri padat
penduduk, juga merupakan akses tunggal Surabaya ke/dari Jawa Timur bagian
Timur – Selatan. Di wilayah yang kaya raya inilah bencana itu terjadi,
termasuk "kaya masalah sosial" sebagai penyangga kota metropolitan Surabaya.
Bab I.
2. Korban berjatuhan. Dari aspek kewilayahan, terlihatlah terdapat tujuh
keluarga besar korban yang dibuat "menderita" oleh bencana. Yaitu, Korban
Kemanusiaan, Korban Kelembagaan Masyarakat, Korban Kondisi Ekonomi, Korban
Tata Kepemerintahan, Korban Perencanaan Pembangunan, Korban Tata-hukum
Nasional, serta last but not least Korban Ketata-negaraan dan Kepemimpinan
Nasional. Bab III.
3. Proses Kebijakan I menyampaikan apa yang terjadi sebelum proses
eksplorasi terjadi. Dalam proses ini terlihat bahwa UU 22/2001 tentang
Minyak dan Gas Bumi hanyalah "peluang bisnis". Pemerintah kurang
memperhatikan aspek resiko, terlalu fokus akan untung. Sedangkan Badan Usaha
(Lapindo), terlalu gegabah dan tidak peduli pasal 6 yang mengatakan "seluruh
resiko ditanggung oleh Badan Usaha". Orang lupa bahwa ini "bisnis negara"
(pasal 33 UUD), bukan bisnis murni, di bab VI.
4. Proses terjadinya kecelakaan di bab VI, menguraikan apa yang terjadi di
dalam bumi dan di atas permukaan tanah. Dilaporkan apa yang sedang dilakukan
oleh BPLS serta menggambarkan dampak-dampak dari penanganan tersebut.
Ilmuwan terbelah ketika meributkan soal "penyebab semburan" yang tidak akan
menyelesaikan. Karena SBY-JK belum tahu hakikat permasalahannya. Bahkan
pemilik masalahnya pun tak jelas, semua pihak ingin saling
salah-menyalahkan. Ilmuwan pun ikut-ikutan.. Menunjukkan bahwa tak ada yang
merasa rugi, memang bangsa tak punya "kepentingan nasional". Sementara
kepentingan-kepentingan liar dibiarkan berkembang, bahkan mendapatkan
peluang-peluang berpredikat "manusiawi".
5. Korban Kemanusiaan. Buku ini memperkenalkan istilah HAM-Indonesia yang
lebih mendasar substansinya daripada sekedar HAM-PBB. Yaitu hak merdeka, hak
bersatu, hak berdaulat dan hak berpancasila. Hal tersebut berada di alinea 2
Pembukaan UUD, dengan maksud sebagai upaya "membebaskan bangsa dari sikap
mental keterjajahan yang akut". Keempat hak tersebut diabaikan dalam
penanganan lumpur, terlihat dari nasib pengungsi di Pasar Baru Porong" yang
berusaha mempertahankan keempat hak tersebut justru teraniaya lantaran cuma
7% dari keseluruhan korban. Mereka adalah korban yang menolak uang kontrak
rumah (@Rp 5,5 juta), karena takut tidak guyub lagi apabila tinggal di
rumah-rumah kontrakan yang tersebar. Sudah 18 bulan mereka, senasib
sepenanggungan menghadapi penderitaan plus intimidasi.
6. Proses Kebijakan II, sebegitu ledakan terjadi dan menyemburkan lumpur
panas, Tim Investigasi segera dibentuk Pemerintah, yang dilanjutkan dengan
Keppres 13/2006. Ini menunjukkan betapa Pemerintah menjadi pemilik masalah,
dan sigap bertindak. Namun kemudian merubahnya dengan Perpres 14/2007,
seolah membuang masalah. BPLS hanya ditugasi penanganan lumpur, masalah
sosial-korban dan pemindahan infrastruktur. Masalah di dalam bumi
diambangkan, soal sosial dibatasi hanya untuk mengurus jual-beli lahan.
Peluang berkembangnya kepentingan liar menjadi marak. Tiada cendikiawan di
sini, apalagi negarawan.
7. Akumulasi akibat adalah kerugian-kerugian dilihat dari Pembukaan UUD.
Kerugian "price-system" hanya di bawah 50 trilyun rupiah (Bappenas dan BPK),
tetapi dari sisi "value-system" sangat luar biasa. Kerugian value kalau
dirupiahkan, besarnya akan tergantung pada bangsa ini menghargai "nilai
luhur bangsa" yang wajib dihormati dan menjadi pedoman manajemen nasional.
8. Diagram. Pendekatan buku ini berangkat dari teori "Dasar Etika" dan teori
politik Valuational dari Thomas P.Jenkin tentang tujuan negara, bahwa
pembentukan suatu negara mempunyai nilai tertentu sebagai tujuan. Dan
kompleksnya permasalahan dituntut untuk mengedepankan comprehensiveness.
Untuk memudahkan pembaca, di sini disajikan lima diagram menyederhanakan
comprehensiveness tersebut :
a. Visualisasi Semburan Lumpur dalam konteks Negara Hukum NKRI (terlampir) ;
b. Alur Berpikir Cendikiawan, sebuah saran ;
c. Interaksi Antar Komponen Masyarakat, yang Tidak Terstruktur ;
d. Matriks Kerugian (price-system, value-system ; price and value system)
terhadap tujuh keluarga besar korban.
e. "Roch-(nya) Bangsa Indonesia" (dari alinea 1, 2 dan 3 Pembukaan UUD) ;

Robama, 11 Mei 2008


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke