SALAH KAMAR

Oleh : Rullan (Forum Muda Paramadina)



Tiba-tiba saya teringat ucapan controversial Abah Rama Royani si pejuang
metode TALENT MAPPING dan konsultan SDM.

"Seharusnya industry di Indonesia mempekerjakan buruh seperti jam kerja
petani. Kita tidak cocok jadi bangsa industry. Kebanyakan dari kita ini
tidak berbakat untuk bekerja sekeras para buruh pabrik seperti
sekarang,budaya kita kan budaya agraris, terbiasa bekerja hingga siang
dan setelah itu bercengkerama."

Abah yang satu ini begitu percaya akan konsep NATURE bahwa setiap
manusia punya kekuatan sendiri-sendiri,

"Kita tinggal focus pada kekuatan untuk sukses,kelemahan kita biar
ditutup oleh partner kerja yang memiliki bakat yang sesuai" ujarnya
lagi.

***

Saya pun jadi teringat masa-masa SMA saya,begitu banyak teman-teman yang
pintar memilih bidang teknik dan kedokteran untuk jurusan IPA, ekonomi
dan hukum untuk teman-teman yang IPS. Coba cek di daftar passing grade
ujian masuk perguruan tinggi, apakah ilmu semacam sejarah,sastra ataupun
budaya ada di daftar 10 besar? Tentu tidak ada bukan.

  "Wah aku sih milih teknik elektro karena melihat kakak alumniku,dia
kerja di bidang oil & gas dan gajinya bisa puluhan juta" ujar kawanku
yang satu lagi.

"Wah jadi dokter itu dihormati orang lo,Lan" pinta temanku yang sekarang
bertugas di Pandaan.

"Eh buat apa masuk sastra mau jadi penyair? Trus mati tua tanpa rumah
dan harta !" pinta teman saya.

***

Ingatan saya tiba-tiba melayang ke sebuah percakapan dengan Mas
Arief,teman kos saya di Kalibata di tahun 2006,beliau ini pegawai pajak
lulusan STAN tahun 1990-an awal.

"Lho Mas kok masih nge-kos?" tanya saya heran.

"Iya gaji PNS berapa sih,Dik?" jawab Mas Arief kalem.

"Keluarga dimana?" tanya saya sambil mengambil handuk sambil menunggu
giliran mandi.

"Tinggal di kontrakan di Surabaya,kalo dibawa ke sini,ga kuat dengan
biaya hidupnya" jawab beliau lagi.

"Emang berapa banyak orang seperti Mas di tempat kerja Mas?" tanya saya
tambah antusias.

"Paling ga sampe 10%,dan biasanya kami dikucilkan dengan dipersulit
ketika meminta bantuan mereka yang berkaitan dengan pekerjaan atau
dipindah ke bagian yang tidak mengerjakan apa-apa yang tidak punya
prospek karir.Tapi sekarang Alhamdulillah,gaji kami udah naik banyak dan
akhirnya saya bisa nyicil rumah di daerah Cibubur,bulan depan akan saya
boyong keluarga ke jakarta" jawab Mas Arief masih dengan sikap
tenangnya.

***

Coba simak rekaman percakapan telepon KPK yang menarik antara seorang
oknum jaksa agung muda yang diduga bernama Urip (U) dengan seorang oknum
pengusaha yang diduga bernama Arthalyta (A) tentang jual beli perkara
BLBI :

Urip (U): Jadinya berapa?

Artalyta (A): Kan enam. (Enam Milyar maksudnya)

U: Belum bonus kan? Itu lho, yang kemarin saya garuk-garuk kepala.

A: Kan tidak bisa, sudah dieksekusi segitu.

U: Tambahin dikitlah.

***

Teman saya yang bekerja di sebuah LSM Asing yang sedang mengerjakan
sebuah proyek di sebuah departemen bercerita :

-  "Bayangkan Mas,ternyata setelah 10 tahun jadi PNS di departemen …
mereka bisa cuti 3 bulan dengan tetap dapat gaji dari pemerintah,mereka
cuti 3 bulan itu biasanya untuk ngobyek jadi konsultan di lembaga
lain,enak kan?"

- " Budget utk tahun anggaran 2008 ini yang harusnya cair maret, hingga
bulan ini (juli) belum cair,coba bayangkan banyak program jadi
mangkrak,ga tahu nyantol dimana,ujung-ujungnya nanti ketika cair alokasi
pencairannya utk hal-hal yang ga masuk akal agar budget habis sesuai
target biasanya markup pengadaan,markup perjalanan dinas,markup studi
banding,dll"

-  "Biaya pencairan anggaran biasanya disunat di tiap level shg sampe ke
tangan orang yang berwenang tinggal berapa persennya."

-  "Aku kemarin terkejut hanya seminar 2 hari dapat fee perjalanan dinas
1,5 juta harusnya kan cuma 750rb! eh ternyata setelah kucermati biaya
aku berangkat dari jakarta-puncak di hari pemberangkatan dan pulang
dihitung padahal itu cuman berapa jam.Pantesan negara kita bangkrut..."

Terinspirasi dengan cerocosan teman saya yang tomboy ini saya jadi
teringat untuk membandingkan dengan ini :

1. Seorang dosen senior hanya digaji tidak sampai Rp 5 juta sebulan

2. Seorang kuli bangunan harus kerja seharian utk dapat upah 40rb selama
8 jam kerja

3. Tukang jualan kue belum tentu dapat Rp 10rb/hari walau dia harus
keliling berkilo2 utk menjajakan dagangannya

4. Tukang minuman di kereta yang menjajakan dagangannya di kereta
ekonomi dg berdesak-desakan belum tentu dapat 20rb/hari

***

Saya pun jadi mengangguk setuju dengan pendapat Asrul Sani, seorang
sastrawan legendaris dengan banyak karya berkualitas,salah satunya
scenario NAGA BONAR :

"…Sayangnya dalam masyarakat kita terlalu banyak penghargaan yang
jatuh pada orang yang sama sekali tidak berharga di mata masyarakat.
Sebaliknya banyak orang yang hebat dianggap tidak berguna. Ini benturan.
Maka orang mengerti,jadi kalau tunduk saja,saya dapat.Tetapi kalau
bangun belum tentu saya dapat.Lantas orang berpikir : di depan saya
tunduk, di belakang itu urusan lain.Yang jelas saya akan memberikan
kesetiaan kepada yang menghargai. Siapa yang
menghargai,keluarga,misalnya. Baik saya hanya akan berbuat untuk
keluarga.tetangga mau kelaparan,saya nggak peduli. Makin lama makin
kecil lingkaran masyarakat dan makin apatis karena perhatiaannya hanya
terbatas pada keluarganya."







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke