Memaknai Ulang Peran NU
04/08/2008

/Judul Buku: Sarung & Demokrasi, dari NU untuk Peradaban ke-Indonesia-an
Penulis: Abu Dzarrin Al-Hamidy, dkk
Pengantar: KH Miftachul Akhyar
Penerbit: Khalista
Cetakan: Juli 2008
Tebal: xiv+288hlm; 14,5 x 21cm
Perensi: Ahmad Shiddiq Rokib
/
Peran Nahdlatul Ulama (NU) bagi perjalanan peradaban ke-Indonesia-an 
tidak bisa dipandang sebelah mata. Sikap akomodatif terhadap kebudayaan 
lebih diletakkan dalam rangka menunjukkan bahwa agama (Islam) selalu 
memberi peluang bagi tumbuh kembangnya kebudayaan yang memang menjadi 
"naluri" masing-masing komunitas. Itu sebabnya, NU selalu merawat 
kebudayaan (lokal) sebagai alat untuk mengembangkan tradisi keagamaan 
yang berpahamkan Ahlussunnah wal Jamaah. Wajah agama (Islam) yang 
ditawarkan NU adalah agama yang berwajahkan ke-Indonesia-an. Sikap 
akomodatif ini tidaklah diambil berdasar kalkulasi opurtunistik, 
melainkan eksternalisasi paradigma keagamaan yang terbuka dan tidak 
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang hitam-putih.

Peradaban ke-Indonesia-an yang kemudian hendak dibentuk NU adalah 
peradaban kebangsaan kebebasan yang dilandasi moral keagaman (Islam). 
Nilai-nilai Islam memberikan inspirasi sekaligus menggerakkan kehidupan 
kebangsaan indonesia, meski hal tersebut tidak diletakkan untuk 
mendirikan negara agama, melainkan negara beragama. NU sadar bahwa 
realitas empirik kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang plural, 
yakni yang dibangun dengan mensinergikan secara adil suku bangsa yang 
berbeda dan agama yang berlainan, bahkan paham agama yang yang lain 
pula, baik ekonomi, hukum, dan sebagainya.

Buku hasil lomba karya tulis ilmiyah (LKTI) yang diselenggarakan 
Pengurus Wilayah NU Jawa Timur ini banyak menjelaskan NU dan 
ke-Islam-an, politik, pendidikan, budaya, dan kemasyarakatan. Ada yang 
menarik untuk direnungkan dan diaplikasikan dalam mengaktualisasikan 
peranan NU sebagai organisasai sosial keagamaaan, sehingga tidak hanya 
menjadi macan podium, tapi juga bermanfaat bagi warganya, terutama yang 
berada di pinggiran dan terjepit kapitalisme dan neokolonialisasi.

Tulisan M. Suhaidi R.B. berjudul /NU dan Transformasi Keaswajaan 
Revitalisasi Gerakan Pembebasan Sosial NU dalam Memberdayakan Umat 
Secara Kaffah, /misal, mencoba menghadirkan sebuah kritik tentang 
dinamika (politik) NU yang terlalu dominan. Akibat dominanasi politik 
tersebut, peran serta NU dalam berbagai bidang mengalami pasang surut 
dan cenderung acuh tak acuh terhadap realitas yang dihadapi umat. Stadi 
kasus pada mayarakat Madura yang menanam tembakau dan petani garam 
adalah warga Nahdliyin, selalu mengalami nasib tidak beruntung. Tembakau 
yang dianggap daun emas dan merupakan penghidupan tersendiri, ternyata 
tidak seindah namanya. Rata-rata harganya antara 5000-8000 per kilogram. 
Harga sedemikian murah, sulit kiranya petani tembakau untuk mencicipi 
hasil manis, sebab modal yang dikeluarkan tak sebanding dengan hasil dan 
harga tembakau, cenderung dipermainkan pemilik modal. (hal 7)

NU sebagai institusi tempat mengadu berbagai persoalan yang hadapi dan 
tempat bernaung warganya, menurut Koordinator Forum Studi Agama dan 
Demokrasi (ForSAD) ini, harus melakukan langkah-langkah amaliah 
(praksis) yang nyata, dan tidak hanya kata-kata (/qaul/). Dan menjadikan 
pendiri NU contoh serta teladan dalam merespons realitas yang dihadapi 
masyarakat dengan senantiasa merasakan penderitaan warganya. Sehingga 
prinsip pokok /mabadi khairul ummah /dan /amar ma'ruf nafi munkar, /yang 
betul-betul membumi.

Dalam mempertegas gambaran di atas, sekaligus menjadikan evaluasi ulang 
terhadap peran NU pada warganya, ada beberapa pilar yang bisa dijadikan 
komitmen untuk memasyarakatkan dan mempertegas politik kebangsaan NU, 
seperti yang ditulis Fathor Rahman Jm, dengan judul Revitalisasi Gerakan 
Politik Kebangsaan NU untuk Pemberdayaan Bangsa. Di antaranya pesantren, 
semangat politik NU, /Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Tujjar, Tasywirul 
Afkar, /dan basis ajaran tasawuf NU, bisa menjadi instrumen untuk 
mewujudkan komitmen dan pembelaan terhadap warganya. Misal, di antara 
salah satu dari pilar-pilar di atas, diberdayakan atau dijadikan sebagai 
sumber kekuatan terutama dalam menopang ekonomi dan memperbaiki 
kehidupan umat.

Pesantren yang merupakan pusat pendidikan tertua di Indonesia dengan 
keunikan dan kekhasan tersendiri, di dalamnya terdapat interaksi di 
antara orang-orang, pascakemerdekaaan menjadi pusat pemberdayaan 
masyarakat secara sosial, ekonomi, dan budaya. Dalam hal ini, pesantren 
Sidogiri bisa menjadi cerminan. Dengan memanfaatkan alumni dari berbagi 
daerah untuk jaringan ekonomi dalam mendirikan kopersai simpan pinjam, 
BPRS, dan baitul mal wattanwil. Jika semua pesantren yang ada di 
Indonesia mengikuti langkah Pesantren Sidogiri, maka komunitas NU dan 
yang berada di berbagai daerah pelosok negeri, bisa jadi masyarakat yang 
seperti kasus tembakau di Madura di atas, cukup diselesaikan oleh 
pesantren. Serta tidak dibayangi neokolonialisme lagi. Sedangkan NU 
sendiri membangun dan memberikan jaringan disertai penambahan modal bagi 
pesantren dalam mengelola ekonomi kerakyatan atau NU menghidupkan 
Nahdlatul Tujjar yang digagas KH Wahab Chasbullah dengan Tujuan 
memperkuat modal pedagang dan pertanian warga NU. Hal ini, sesuai 
/statuten /dari perkumpulan NU di Surabaya pada 1930 pasal 3 mengenai 
usaha-usaha yang mesti dilakukan NU, item f berbunyi: "Memperhatikan 
Perekonomian Umat Islam". (hal 68-75)

Buku setebal 288 halaman ini, sangat penting dibaca akademisi, politisi, 
peneliti, pemerhati, dan warga nahdiyin, untuk memberikan wawasan baru 
tentang ke-NU-an dan langkah apa saja yang menjadi pekerjaan rumah NU 
untuk melangkah lebih maju. Namun, sayang bukan buku utuh yang ditulis 
satu tim atau satu orang (perorangan), akan tetapi hasil LKTI yang 
dimungkinkan terdapat tumpang tindihnya gagasan.

Dari gasasan di atas, adalah upaya penyegaran memori dan memberikan 
motivasi bagi elit NU dari tingkat pengurus besar sampai pengurus 
ranting untuk selalu berkomitmen dan ikhlas dalam mengerakkan NU sesuai 
semangat khittah, agar benar-benar membela kepentingan umat secara 
praksis dan tidak lagi terjebak politik praktis.
/
Peresensi adalah mantan aktivis Ikatan Pelajar NU Gapura, Sumenep, Jawa 
Timur, dan saat ini menjadi pengelola Taman Baca Surabaya/



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke