Memaknai ulang peran ekonomi NU di Indonesia ada nggak yah. Sekarang ini Ormas 
seharusnya di arahan untuk menjadi mandiri dari segi keuangan dan ekonomi 
karena inilah sumber kekuatan ummat itu sendiri. 

NU seharusnya tidak saja memberikan solusi politik kepada ummat tapi juga 
solusi ekonomi. Banyak orang berharap suatu saat NU dapat membangun ekonomi 
ummat. Di Berbagai negara ormas itu mempunyai "pundi-pundi" sendiri sehingga 
ummatnya menjadi loyal. Serupa tapi tak sama coba lihat Aga Khan Foundation... 
dan beberapa organisasi lainnya. Mereka bahkan setiap tahun memberi sumbangan 
buat anggota mereka yang butuh di berbagai negara seperti rumah sakit, 
universitas dan lain. Itu karena mereka mempunyai dasar ekonomi yang kuat, dana 
abadi yang kokoh dan industri usaha halal yang menguntungkan...



Rina S

See My Profile


--- On Tue, 8/5/08, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kmnu2000] Memaknai Ulang Peran NU
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 5, 2008, 5:37 AM










    
            Memaknai Ulang Peran NU

04/08/2008



/Judul Buku: Sarung & Demokrasi, dari NU untuk Peradaban ke-Indonesia- an

Penulis: Abu Dzarrin Al-Hamidy, dkk

Pengantar: KH Miftachul Akhyar

Penerbit: Khalista

Cetakan: Juli 2008

Tebal: xiv+288hlm; 14,5 x 21cm

Perensi: Ahmad Shiddiq Rokib

/

Peran Nahdlatul Ulama (NU) bagi perjalanan peradaban ke-Indonesia- an 

tidak bisa dipandang sebelah mata. Sikap akomodatif terhadap kebudayaan 

lebih diletakkan dalam rangka menunjukkan bahwa agama (Islam) selalu 

memberi peluang bagi tumbuh kembangnya kebudayaan yang memang menjadi 

"naluri" masing-masing komunitas. Itu sebabnya, NU selalu merawat 

kebudayaan (lokal) sebagai alat untuk mengembangkan tradisi keagamaan 

yang berpahamkan Ahlussunnah wal Jamaah. Wajah agama (Islam) yang 

ditawarkan NU adalah agama yang berwajahkan ke-Indonesia- an. Sikap 

akomodatif ini tidaklah diambil berdasar kalkulasi opurtunistik, 

melainkan eksternalisasi paradigma keagamaan yang terbuka dan tidak 

memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang hitam-putih.



Peradaban ke-Indonesia- an yang kemudian hendak dibentuk NU adalah 

peradaban kebangsaan kebebasan yang dilandasi moral keagaman (Islam). 

Nilai-nilai Islam memberikan inspirasi sekaligus menggerakkan kehidupan 

kebangsaan indonesia, meski hal tersebut tidak diletakkan untuk 

mendirikan negara agama, melainkan negara beragama. NU sadar bahwa 

realitas empirik kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang plural, 

yakni yang dibangun dengan mensinergikan secara adil suku bangsa yang 

berbeda dan agama yang berlainan, bahkan paham agama yang yang lain 

pula, baik ekonomi, hukum, dan sebagainya.



Buku hasil lomba karya tulis ilmiyah (LKTI) yang diselenggarakan 

Pengurus Wilayah NU Jawa Timur ini banyak menjelaskan NU dan 

ke-Islam-an, politik, pendidikan, budaya, dan kemasyarakatan. Ada yang 

menarik untuk direnungkan dan diaplikasikan dalam mengaktualisasikan 

peranan NU sebagai organisasai sosial keagamaaan, sehingga tidak hanya 

menjadi macan podium, tapi juga bermanfaat bagi warganya, terutama yang 

berada di pinggiran dan terjepit kapitalisme dan neokolonialisasi.



Tulisan M. Suhaidi R.B. berjudul /NU dan Transformasi Keaswajaan 

Revitalisasi Gerakan Pembebasan Sosial NU dalam Memberdayakan Umat 

Secara Kaffah, /misal, mencoba menghadirkan sebuah kritik tentang 

dinamika (politik) NU yang terlalu dominan. Akibat dominanasi politik 

tersebut, peran serta NU dalam berbagai bidang mengalami pasang surut 

dan cenderung acuh tak acuh terhadap realitas yang dihadapi umat. Stadi 

kasus pada mayarakat Madura yang menanam tembakau dan petani garam 

adalah warga Nahdliyin, selalu mengalami nasib tidak beruntung. Tembakau 

yang dianggap daun emas dan merupakan penghidupan tersendiri, ternyata 

tidak seindah namanya. Rata-rata harganya antara 5000-8000 per kilogram. 

Harga sedemikian murah, sulit kiranya petani tembakau untuk mencicipi 

hasil manis, sebab modal yang dikeluarkan tak sebanding dengan hasil dan 

harga tembakau, cenderung dipermainkan pemilik modal. (hal 7)



NU sebagai institusi tempat mengadu berbagai persoalan yang hadapi dan 

tempat bernaung warganya, menurut Koordinator Forum Studi Agama dan 

Demokrasi (ForSAD) ini, harus melakukan langkah-langkah amaliah 

(praksis) yang nyata, dan tidak hanya kata-kata (/qaul/). Dan menjadikan 

pendiri NU contoh serta teladan dalam merespons realitas yang dihadapi 

masyarakat dengan senantiasa merasakan penderitaan warganya. Sehingga 

prinsip pokok /mabadi khairul ummah /dan /amar ma'ruf nafi munkar, /yang 

betul-betul membumi.



Dalam mempertegas gambaran di atas, sekaligus menjadikan evaluasi ulang 

terhadap peran NU pada warganya, ada beberapa pilar yang bisa dijadikan 

komitmen untuk memasyarakatkan dan mempertegas politik kebangsaan NU, 

seperti yang ditulis Fathor Rahman Jm, dengan judul Revitalisasi Gerakan 

Politik Kebangsaan NU untuk Pemberdayaan Bangsa. Di antaranya pesantren, 

semangat politik NU, /Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Tujjar, Tasywirul 

Afkar, /dan basis ajaran tasawuf NU, bisa menjadi instrumen untuk 

mewujudkan komitmen dan pembelaan terhadap warganya. Misal, di antara 

salah satu dari pilar-pilar di atas, diberdayakan atau dijadikan sebagai 

sumber kekuatan terutama dalam menopang ekonomi dan memperbaiki 

kehidupan umat.



Pesantren yang merupakan pusat pendidikan tertua di Indonesia dengan 

keunikan dan kekhasan tersendiri, di dalamnya terdapat interaksi di 

antara orang-orang, pascakemerdekaaan menjadi pusat pemberdayaan 

masyarakat secara sosial, ekonomi, dan budaya. Dalam hal ini, pesantren 

Sidogiri bisa menjadi cerminan. Dengan memanfaatkan alumni dari berbagi 

daerah untuk jaringan ekonomi dalam mendirikan kopersai simpan pinjam, 

BPRS, dan baitul mal wattanwil. Jika semua pesantren yang ada di 

Indonesia mengikuti langkah Pesantren Sidogiri, maka komunitas NU dan 

yang berada di berbagai daerah pelosok negeri, bisa jadi masyarakat yang 

seperti kasus tembakau di Madura di atas, cukup diselesaikan oleh 

pesantren. Serta tidak dibayangi neokolonialisme lagi. Sedangkan NU 

sendiri membangun dan memberikan jaringan disertai penambahan modal bagi 

pesantren dalam mengelola ekonomi kerakyatan atau NU menghidupkan 

Nahdlatul Tujjar yang digagas KH Wahab Chasbullah dengan Tujuan 

memperkuat modal pedagang dan pertanian warga NU. Hal ini, sesuai 

/statuten /dari perkumpulan NU di Surabaya pada 1930 pasal 3 mengenai 

usaha-usaha yang mesti dilakukan NU, item f berbunyi: "Memperhatikan 

Perekonomian Umat Islam". (hal 68-75)



Buku setebal 288 halaman ini, sangat penting dibaca akademisi, politisi, 

peneliti, pemerhati, dan warga nahdiyin, untuk memberikan wawasan baru 

tentang ke-NU-an dan langkah apa saja yang menjadi pekerjaan rumah NU 

untuk melangkah lebih maju. Namun, sayang bukan buku utuh yang ditulis 

satu tim atau satu orang (perorangan) , akan tetapi hasil LKTI yang 

dimungkinkan terdapat tumpang tindihnya gagasan.



Dari gasasan di atas, adalah upaya penyegaran memori dan memberikan 

motivasi bagi elit NU dari tingkat pengurus besar sampai pengurus 

ranting untuk selalu berkomitmen dan ikhlas dalam mengerakkan NU sesuai 

semangat khittah, agar benar-benar membela kepentingan umat secara 

praksis dan tidak lagi terjebak politik praktis.

/

Peresensi adalah mantan aktivis Ikatan Pelajar NU Gapura, Sumenep, Jawa 

Timur, dan saat ini menjadi pengelola Taman Baca Surabaya/



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke