Negeri Kurawa 
Oleh Abdul Munir Mulkhan
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/08/02/ 00422221/ negeri.kurawa

Saat orang ragu pada 34 partai peserta Pemilu 2009 yang mengumbar
janji, warga ragu dan bingung memilih.

Keraguan juga tampak saat menunggu pemimpin baru yang mampu mengubah
penderitaan warga di negeri kaya sumber alam ini. Saat pemimpin muda
belum tampil meyakinkan, yang senior sudah ketahuan belangnya.

Di saat kritis seperti itu, banyak orang tertarik membaca kembali
kisah pewayangan. Sejarah, ajaran agama, dan tradisi lokal di
Nusantara juga menyimpan kisah-kisah magis kehadiran pemimpin yang
dibutuhkan zamannya. Kisah-kisah itu patut disimak kembali. Dan apa
yang sedang terjadi di negeri ini mungkin representasi kisah itu.

Masyarakat merasakan elite partai berbasis agama tidak bebas dari
korupsi berjemaah dengan teman seasas (seagama atau seideologi) atau
luar asas dari penegak hukum dan pemerintahan. Putusan pengadilan bisa
ditawar, undang-undang dan peraturan disusun untuk memuluskan perilaku
jahat dan selingkuh sehingga tampak tidak melanggar tata krama.

Aparat pemerintah bagai majikan yang harus dilayani, bukan hanya
dengan sikap hormat, tetapi juga dengan rupiah. Cerdik pandai dan
agamawan bukan tidak ada. Fatwanya terus mengalir, tetapi lebih
beredar di antara menara gading tidak menyentuh hajat publik.

Nafsu menang sendiri

Gambaran melodramatik penyelenggaraan pemerintahan itu terlukis dalam
kehidupan suatu negeri di dunia pewayangan yang dikenal Negeri Kurawa
dengan pusat pemerintahan di Astina Pura, kadang disebut Negeri
Astina. Dalam upacara resmi, para cendekia dan agamawan ditempatkan di
panggung kehormatan, ke mana sang penguasa menunjukkan sikap hormat.

Sesekali para cerdik pandai dan agamawan dimintai pendapat, bukan
untuk dipraktikkan, tetapi sekadar menunjukkan kepada publik atas
kepedulian sang penguasa pada kebenaran. Bahasanya jauh dari kesadaran
publik umat dan rakyat jelata karena lebih berorientasi kitab yang
telah diseleksi sang penguasa.

Gaya hidup penggawa (aparat) kerajaan Astina itu terlukis, disebut
julik. Suatu pola hidup penuh tipu daya, selingkuh menjadi pakerti
(perilaku), ambisi menang sendiri, kaya sendiri, kenyang sendiri,
pintar sendiri menjadi etika (meminjam Protestan Etiknya Max Weber)
hidup komunitas (baca: partai politik).

Warga dan rakyat bukan hanya kehilangan panutan, pemerintahan tidak
mengenal sistem keteladanan dan nilai moral. Posisi sosial politik
seseorang tidak diukur dari perilaku baik, tetapi dari kemampuan dan
keberanian menggunakan kekuasaan guna kepentingan diri dan kelompok.

Oleh Nietzsche, praktik hidup dan pemerintahan itu bisa digambarkan
sebagai sistem sosial politik yang didominasi persona ubermensch.
Persona demikian ialah pola hidup manusia bermoral tuan, manusia atas
atau super yang bernafsu menang sendiri. Berbagai kisah fiksi tentang
superman terinspirasi konsep manusia bermoral tuan itu.

Dalam sistem sosial politik dan pemerintahan demikian, kebenaran tidak
diukur dari nilai obyektif yang didukung mayoritas, tetapi nilai
subyektif penguasa yang memerintah dengan tangan besi dan Machiavelis.
Moralitas baik ialah moral tuan saat nafsu menjadi komando kehidupan,
bukan moral budak yang lemah. Kebaikan ialah kemegahan, bangga diri,
bukan kedamaian dan ke-welas-asih- an yang menunjukkan kelemahan jiwa.

Dongeng demokrasi

Pemerintahan dan orang baik yang tergambar dalam Kerajaan Ngamarto dan
Pandawa hanya mimpi indah yang enak dikisahkan sebagai dongeng.

Praktik pendidikan bagai sebuah festival dongeng tentang orang-orang
bijak, baik, berbudi, dan dijanjikan surga. Kisah pahlawan dan orang
suci terlukis dalam kalimat sastra yang indah dan enak didengar,
tetapi kosong dari kenyataan.

Sementara fakta-fakta di lapangan bercerita tentang kisah kelaparan,
penderitaan, pembunuhan berantai, korupsi, elite yang selingkuh
jabatan, moral, dan seks. Berita anggota dewan, pejabat tinggi
pemerintahan, elite keagamaan yang korupsi dan selingkuh seksual,
mencerminkan kehidupan mayoritas warga seperti Negeri Kurawa. Wargalah
yang memilih elite partai, sosial dan keagamaan, anggota dewan, dan
memilih presiden yang kemudian menyusun kabinet.

Situasi kehidupan Negeri Kurawa itu tidak jauh berbeda dengan praktik
demokrasi prosedural negeri ini. Suatu eufemisme tentang cara hidup
ngurawa melalui sistem penyelenggaraan negara dan pemerintahan modern
yang disebut demokrasi. Banyak alasan untuk membela diri dengan fakta
buruk kehidupan negeri ini setelah 10 tahun reformasi, 60 tahun
merdeka, dan satu abad kebangkitan nasional.

Sebagian melihat fakta buruk demokrasi prosedural itu sebagai
kewajaran dalam kehidupan ekonomi dan tingkat pendidikan mayoritas
warga Nusantara. Pada tahap sosial ekonomi seperti ini, praktik
demokrasi belum menjanjikan peningkatan kesejahteraan warga
kebanyakan, kecuali segelintir orang.

Sebagian berpendapat, fakta demokrasi negeri ini adalah suatu tahap
yang harus dilalui bangsa yang memulai praktik demokrasi. Beberapa
yang lain berpendapat, demokrasi yang baik memerlukan tingkat
pendidikan dan ekonomi warga yang sudah sampai titik ekuilibrium
setelah dipraktikkan berabad-abad.

Mencari takdir sosial

Berbagai pandangan ini berarti kita menerima apa adanya praktik
demokrasi sebagai kebenaran. Suatu etika hidup ngurawa. Para cendekia
dan agamawan terperangkap etika ngurawa yang digambarkan dalam dunia
pewayangan sebagai Pandita Durno. Ia pandai dan waskita, tetapi
semuanya hanya digunakan untuk membela Raja Astina.

Semua agama meramalkan kedatangan zaman akhir seperti gambaran Negeri
Kurawa. Dajal tiba, saat kekuatan jahat keliwat-liwat, sebagai penanda
datangnya Al-Mahdi Al-Masih, Ratu Adil, atau Satria Piningit. Mungkin
manusia telah gagal membuat sistem yang mampu mengendalikan kejahatan
sehingga perilaku jahat menjadi dominan. Hal itu merupakan pengantar
Perang Baratayuda yang dalam dunia keagamaan dikenal dengan Hari
kiamat. Pada saat itulah Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya mengganti
penduduk bumi atau negeri ini dengan warga baru.

Dalam situasi demikian, tersedia aneka pilihan tindakan. Kita cukup
menyesali nasib dan berdoa meminta Tuhan mengubah yang jahat berhati
malaikat atau minta menunda kiamat. Pilihan lain, menggunakan sisa
waktu yang ada untuk mengubah perilaku yang mentradisi yang
mengakibatkan penderitaan bukan hanya orang miskin, tetapi juga anak
cucu sendiri.

Paling mudah ialah menunggu Godot, Satria Piningit, atau Sang Mahdi.
Kapan akan datang? Mungkin sudah terlambat saat semua sudah hancur.
Kita hanya bisa membayangkan betapa derita yang harus ditanggung anak
cucu nanti.

Nasib lebih baik hanya mungkin diraih jika mengubah perilaku sebagai doa.

Abdul Munir Mulkhan Anggota Komnas HAM; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta



[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/santrikiri
 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke