TADARUS LAKPESDAM
Tema: Telaah Kritis Karya-karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari
 
KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama, sejatinya adalah penulis prolifik. 
Untuk sekadar menyebut, beliau telah menulis al-Tibyân fi al-Nahyi ‘an 
Muqâtha’at al-Arhâm wa al-Ikhwân, al-Tanbihât al-Wajibât, al-Nûr al-Mubîn fi 
Mahabat Sayid al-Mursalîn, Dhau` al-Mishbâh fîma Yata’alqu bi al-Nikâh, Ziyadâd 
al-Ta’liqât, Miftâh al-Falâh, Awdhah al-Bayân fîma Yata’alaqu bi Wadhâif 
Ramadhân, Irsyâd al-Mu`minîn, Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim, Risâlah Ahl Sunnah 
dan lain-lain.
Tak dapat disangkal, rentetan sepuluh “anggitan” (baca: karya) ini cukup 
menjadi bukti produktivitas KH. Hasyim Asy’ari. Namun, sayang seribu sayang, 
karya-karya yang berharga itu belum terpublikasikan secara luas, sehingga 
apresiasi dalam bentuk “pembacaan kritis kontemporer” (al-qiraah al-naqdiyyah 
al-mu’ashirah) terhadapnya masih sangat minim. Memang tak dapat dipungkiri, 
Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim merupakan 
dua karya beliau yang terkadang dikaji di pesantren-pesantren, tetapi kajian 
tersebut kurang memadai lantaran hanya sekadar kajian “kilatan” dengan sistem 
“maknoni kelawan makno gandul utawi iki iku”. Pembacaan ini bersifat 
tradisional (qira`at al-turâtsi li turâts) dan acap mengabaikan historisitas 
pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.
Di bulan yang mulia ini Lakpesdam PCI-NU Mesir akan menyelenggarakan Tadarus 
Inklusif mengkaji secara kritis sepuluh karya KH. Hasyim Asy’ari. Tanpa 
menafikan pentingnya makno gandul ala pesantren salaf, kajian kritis ini akan 
mendapuk amukan-amukan metodologis cara baca turâts yang ditawarkan oleh para 
pemikir Arab kontemporer, seperti Muhammed Arkoun, Husain Muruwah, Mahmud 
Ismail, Khalil Abd al-Karim, Abed al-Jabiri, Hasan Hanafi, Adonis, Nashr Hamid 
Abu Zaid dan seterusnya.
Untuk sekadar contoh, misalnya, dari Arkoun kita dapat meminjam pendekatan 
antropologisnya yang konon juga concern pada aspek mitologi. Pendekatan ini 
mungkin akan berguna jika diterapkan menganilisis pergulatan realitas dengan 
mitos, takhayul, bid’ah dan khurafat yang menjadi discource pada masa KH. 
Hasyim Asy’ari. Teori dialektika-materialis-historis yang digelindingkan Husain 
Muruwah, Khalil Abd al-Karim dan Mahmud Ismail diandaikan guna menguak 
historisitas karya-karya KH. Hasyim Asy’ari.
Metodologi pembacaan kontemporer Abed al-Jabiri, seperti fashl-washl, 
objektivitas, analisa epistemologis, analisa historikal, analisa ideologikal, 
teori epistemological break (al-qathi’ah al-ma’rifiyyah) dan sebagainya juga 
sangat membantu. Epistemological break yang diaplikasikan oleh Altuser sebagai 
pisau analisis tajam guna mengiris dan merobek-robek relasi konseptual Hegel 
dan Karl Marx pasca penulisan Das Kapital, kemudian diadopsi al-Jabiri guna 
memisahkan corak pemikiran Andalusia-Maghribi dengan Masyriq, misalnya, dapat 
kita fungsikan untuk mengalisis retakan epistemologis antara KH. Hasyim Asy’ari 
dengan pemikiran lawan-lawan ideologisnya. Tipologisasi “Kanan dan Kiri dalam 
Pemikiran Islam” milik Hasan Hanafi pun membantu kita untuk memposisikan 
pemikiran KH. Hasyim Asy’ari; apakah beliau kanan atau kiri? Teori Tsabit wa 
al-Mutahawwil milik Adonis ikut andil bagian dalam menerawang pertarungan 
antara pihak-pihak yang menghendaki
 kemapanan dan pihak yang menghendaki perubahan yang terjadi pada era KH. 
Hasyim Asy’ari.
Dengan model pembacaan ini, kami tidak bermaksud su`ul adab dan neko-neko 
kepada KH. Hasyim Asy’ari, melainkan sebagai bentuk apresiasi dan upaya kita 
mereaktualisasikan pemikiran beliau dalam konteks kekinian. Kajian ini juga 
bertujuan mengkorelasikan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dengan perkembangan 
pemikiran kontemporer Arab. Universitas Al-Azhar, misalnya, tengah 
mengkampanyekan upaya pendekatan Sunni-Syiah dan komparasi empat madzhab dengan 
madzhab Syiah serta Dhahiriyyah. Namun, di sisi lain, KH. Hasyim Asy’ari 
mewajibkan taqlid hanya kepada empat madzhab. Sejauh mana relevansi pandangan 
KH. Hasyim Asy’ari dalam hal ini? Dalam persoalan tasawuf, misalnya, KH. Hasyim 
Asy’ari sangat menggandrungi al-Ghazali, sementara, di pihak lain, Abed 
al-Jabiri dan beberapa pemikir Arab kontemporer menilai tasawuf al-Ghazali 
terpengaruh Hermetisme dan menjadi penyebab kemunduran kebudayaan Arab-Islam. 
Dalam teologi, Hasan Hanafi mengatakan bahwa
 Asy’ariyyah adalah kanan, regresif dan tidak revolusioner, sedangkan, di sisi 
lain, KH. Hasyim Asy’ari adalah pengikut setia Asy’ariyyah. Untuk mengkaji 
diskursus ini secara detail, maka hadirilah acara ini.
 
 
Pembicara:
1. Romli Sarqawi, S.Ag (Alumni Tebuireng dan Pakar Pemikiran KH. Hasyim Asyari)
2. Irwan Masduqi (Koordinator Lakpesdam)
3. Faiq Ihsan Anshori (Aktivis Lakpesdam & Mizan Study Club)
 
Hari/Tanggal:Rabu, 10 September 2008
Waktu: 15. 00 WK.
Tempat:Sekretariat PCI-NU Mesir
 
Rangkaian Acara:
1. Pembacaan Ayat Suci Al-Quran
2. Sambutan Panitia
3. Sambutan Tanfidhiyyah
4. Bedah Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari
 
Contact Person:
M. Abdul Rouf: 0103393873
Faiq Ihsan Anshari: 0169398877
Irwan Masduqi: 0108248859


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke