Bung, saya baru ingat bagaimana mungkin menggunakan epistemological rupture Gaston Bachelard yang dipinjam Jabiri untuk kita pinjam juga menganalisis epistem Al Rais Al Akbar Hasyim Asy'ari dan lawan polemisnya. Dalam kategorisasi Jabiri, dua-duanya masuk dalam satu nalar bayani bukan? ;PP
Owh tapi tidak juga karena lawan polemisnya biasanya tidak mengapresiasi epistem irfan dan ini berbeda dengan Al Rais Al Akbar dan penerus-penerusnya yang mengapresiasi dua hal sekaligus. Barangkali ini letak bedanya. Dalam konseptualisasi Al Rais itu, nalar bayani dan irfani justru didamaikan dalam satu konsep epistemis. Dan kita bisa merujuk pada tokoh-tokoh klasiknya yang coba mendamaikan keduanya seperti Al Ghazali. Dalam analisis Jabiri memang terkesan memperlawankan ketiganya, sedangkan fakta sejarah seorang filsuf juga seorang fakih seperti Ibn Rusyd, seorang fakih tapi di satu waktu juga sufi seperti Al Ghazali. Mungkin juga Al Alusi itu seorang mufassir dan tentunya punya tradisi literer yang kuat tapi dianya seorang sufi. Al Syafi'i itu fakih dan tentu bayani tapi mengajarkan istiqra (ini burhani). Jadi memang dalam Islam tidak ada epistem yang kontradiktif, barangkali wilayah ketiganya sendiri-sendiri atau mungkin sinergis dan kembali kepada karakter para pemikir mendialogkan ketiganya ketika harus saling terkait. Salam, anismasduki Salam, anismasduki --- In [email protected], "--::Irwan Masduqi::--" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > TADARUS LAKPESDAM > Tema: Telaah Kritis Karya-karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyâari >  > KH. Hasyim Asyâari, pendiri Nahdhatul Ulama, sejatinya adalah penulis prolifik. Untuk sekadar menyebut, beliau telah menulis al-Tibyân fi al-Nahyi âan Muqâthaâat al-Arhâm wa al-Ikhwân, al-Tanbihât al-Wajibât, al-Nûr al-Mubîn fi Mahabat Sayid al-Mursalîn, Dhau` al-Mishbâh fîma Yataâalqu bi al-Nikâh, Ziyadâd al-Taâliqât, Miftâh al-Falâh, Awdhah al-Bayân fîma Yataâalaqu bi Wadhâif Ramadhân, Irsyâd al-Mu`minîn, Adab al-âAlim wa al-Mutaâalim, Risâlah Ahl Sunnah dan lain-lain. > Tak dapat disangkal, rentetan sepuluh âanggitanâ (baca: karya) ini cukup menjadi bukti produktivitas KH. Hasyim Asyâari. Namun, sayang seribu sayang, karya-karya yang berharga itu belum terpublikasikan secara luas, sehingga apresiasi dalam bentuk âpembacaan kritis kontemporerâ (al-qiraah al-naqdiyyah al-muâashirah) terhadapnya masih sangat minim. Memang tak dapat dipungkiri, Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaâah dan Adab al-âAlim wa al-Mutaâalim merupakan dua karya beliau yang terkadang dikaji di pesantren-pesantren, tetapi kajian tersebut kurang memadai lantaran hanya sekadar kajian âkilatanâ dengan sistem âmaknoni kelawan makno gandul utawi iki ikuâ. Pembacaan ini bersifat tradisional (qira`at al-turâtsi li turâts) dan acap mengabaikan historisitas pemikiran KH. Hasyim Asyâari. > Di bulan yang mulia ini Lakpesdam PCI-NU Mesir akan menyelenggarakan Tadarus Inklusif mengkaji secara kritis sepuluh karya KH. Hasyim Asyâari. Tanpa menafikan pentingnya makno gandul ala pesantren salaf, kajian kritis ini akan mendapuk amukan-amukan metodologis cara baca turâts yang ditawarkan oleh para pemikir Arab kontemporer, seperti Muhammed Arkoun, Husain Muruwah, Mahmud Ismail, Khalil Abd al-Karim, Abed al-Jabiri, Hasan Hanafi, Adonis, Nashr Hamid Abu Zaid dan seterusnya. > Untuk sekadar contoh, misalnya, dari Arkoun kita dapat meminjam pendekatan antropologisnya yang konon juga concern pada aspek mitologi. Pendekatan ini mungkin akan berguna jika diterapkan menganilisis pergulatan realitas dengan mitos, takhayul, bidâah dan khurafat yang menjadi discource pada masa KH. Hasyim Asyâari. Teori dialektika-materialis-historis yang digelindingkan Husain Muruwah, Khalil Abd al-Karim dan Mahmud Ismail diandaikan guna menguak historisitas karya-karya KH. Hasyim Asyâari. > Metodologi pembacaan kontemporer Abed al-Jabiri, seperti fashl-washl, objektivitas, analisa epistemologis, analisa historikal, analisa ideologikal, teori epistemological break (al-qathiâah al-maârifiyyah) dan sebagainya juga sangat membantu. Epistemological break yang diaplikasikan oleh Altuser sebagai pisau analisis tajam guna mengiris dan merobek-robek relasi konseptual Hegel dan Karl Marx pasca penulisan Das Kapital, kemudian diadopsi al-Jabiri guna memisahkan corak pemikiran Andalusia-Maghribi dengan Masyriq, misalnya, dapat kita fungsikan untuk mengalisis retakan epistemologis antara KH. Hasyim Asyâari dengan pemikiran lawan-lawan ideologisnya. Tipologisasi âKanan dan Kiri dalam Pemikiran Islamâ milik Hasan Hanafi pun membantu kita untuk memposisikan pemikiran KH. Hasyim Asyâari; apakah beliau kanan atau kiri? Teori Tsabit wa al-Mutahawwil milik Adonis ikut andil bagian dalam menerawang pertarungan antara pihak-pihak yang menghendaki > kemapanan dan pihak yang menghendaki perubahan yang terjadi pada era KH. Hasyim Asyâari. > Dengan model pembacaan ini, kami tidak bermaksud su`ul adab dan neko-neko kepada KH. Hasyim Asyâari, melainkan sebagai bentuk apresiasi dan upaya kita mereaktualisasikan pemikiran beliau dalam konteks kekinian. Kajian ini juga bertujuan mengkorelasikan pemikiran KH. Hasyim Asyâari dengan perkembangan pemikiran kontemporer Arab. Universitas Al-Azhar, misalnya, tengah mengkampanyekan upaya pendekatan Sunni-Syiah dan komparasi empat madzhab dengan madzhab Syiah serta Dhahiriyyah. Namun, di sisi lain, KH. Hasyim Asyâari mewajibkan taqlid hanya kepada empat madzhab. Sejauh mana relevansi pandangan KH. Hasyim Asyâari dalam hal ini? Dalam persoalan tasawuf, misalnya, KH. Hasyim Asyâari sangat menggandrungi al-Ghazali, sementara, di pihak lain, Abed al-Jabiri dan beberapa pemikir Arab kontemporer menilai tasawuf al-Ghazali terpengaruh Hermetisme dan menjadi penyebab kemunduran kebudayaan Arab-Islam. Dalam teologi, Hasan Hanafi mengatakan bahwa > Asyâariyyah adalah kanan, regresif dan tidak revolusioner, sedangkan, di sisi lain, KH. Hasyim Asyâari adalah pengikut setia Asyâariyyah. Untuk mengkaji diskursus ini secara detail, maka hadirilah acara ini. >  >  > Pembicara: > 1. Romli Sarqawi, S.Ag (Alumni Tebuireng dan Pakar Pemikiran KH. Hasyim Asyari) > 2. Irwan Masduqi (Koordinator Lakpesdam) > 3. Faiq Ihsan Anshori (Aktivis Lakpesdam & Mizan Study Club) >  > Hari/Tanggal:Rabu, 10 September 2008 > Waktu: 15. 00 WK. > Tempat:Sekretariat PCI-NU Mesir >  > Rangkaian Acara: > 1. Pembacaan Ayat Suci Al-Quran > 2. Sambutan Panitia > 3. Sambutan Tanfidhiyyah > 4. Bedah Karya-karya KH. Hasyim Asyâari >  > Contact Person: > M. Abdul Rouf: 0103393873 > Faiq Ihsan Anshari: 0169398877 > Irwan Masduqi: 0108248859 > > > ___________________________________________________________________________ > Nama baru untuk Anda! > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. > Cepat sebelum diambil orang lain! > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ > > [Non-text portions of this message have been removed] >
