Pola kepemimpinan ini yang sudah diterapkan Gus Dur dalam PKB nya, dengan 
langsung membersihkan "oknum2 yang haus kekuasaan". Tetapi memang "komplotan" 
Tanfidz PKB yang diawaki Cak Imin "berhasil" mencuri hati pemerintah. Bedanya 
parpol diikat dengan UU dan sedangkan NU organisasi mandiri. 

Saya yakin NU bisa dengan kepemimpinan tunggal. Sekedar wacana, mungkin Habib 
Lutfi ini perlu digadangkan untuk calon Rois Syuriah PB NU periode ke depan. 
Meski masih mudah, tp kharismatik

Regards,



[EMAIL PROTECTED]

--- On Wed, 9/10/08, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kmnu2000] Habib Luthfi: Saatnya NU Satu Komando
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, September 10, 2008, 1:00 AM










    
            

Habib Luthfi: Saatnya NU Satu Komando

Rabu, 10 September 2008 12:00



Pekalongan, */NU Online

/*Ulama kharismatik asal Pekalongan, Jawa Tengah, Habib Muhammad Luthfi 

bin Ali bin Yahya menyarankan agar NU dapat kembali satu komando seperti 

pada zaman Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari. NU harus dipimpin 

oleh syuriyah yakni kiai yang tegas dan bijaksana, sementara tanfidziyah 

hanya sebagai pelaksana program saja.



Habib Luthfi yang juga pimpinan jamaah tarekat se-Indonesia atau Rais 

Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah 

mengusulkan dalam muktamar NU yang akan datang muktamirin atau peserta 

muktamar hanya memilih rais syuriyah saja, sedangkan ketua umum 

tanfidzaiyah cukup ditunjuk oleh rais syuriyah terpilih.



Dalam perbincangan dengan kontributor */NU Online/* Abdul Muis di 

kediamannya di Pekalongan, Ahad (7/8) lalu, Habib Lutfi menyatakan 

perlunya satu otoritas kepemimpinan yang tegas dalam NU. Jika di 

kemudian hari tanfidziyah kebablasan dalam menjalankan tugas, rais 

syuriyah atau rais Aam memiliki kewenangan mutlak untuk mengingatkan 

ketua umum dan jika perlu diganti sesuai dengan kewenangannya.



Pola kepemimpinan satu komando menurut Habib Luthfi telah diterapkan di 

organisasi yang dipimpinya, Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An 

Nahdliyyah. Pada Muktamar Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An 

Nahdliyyah ke-10 tahun 2005 di Pekalongan hanya memilih Rais Aam, 

sedangkan Mudir Aam (ketua tanfidziyahnya) cukup ditunjuk oleh Rais Aam 

terpilih. Hal ini menurut Habib Luthfi untuk menghindari dualisme 

kepemimpinan di tubuh Thariqah.



Dikatakan, kepemimpinan satu komando juga untuk mengantisipasi 

tarik-menarik antara peran syuriyah dan tanfidziyah karena masing masing 

merasa mendapat mandat oleh peserta muktamar. Akibatnya jelas, Ketua 

Tanfdziyah yang seharusnya berperan sebagai pelaksana kebijakan syuriyah 

akan tetapi pada prakteknya justru tanfidziyah berfungsi merencanakan 

dan melaksanakan program-program di NU secara keseluruhan.



Habib Luthfi berharap pada muktamar NU yang akan datang hal ini sudah 

bisa dilaksanakan. PBNU diminta segera membentuk tim khusus untuk 

melakukan kajian yang konprehensip, sehingga peran NU sebagai penjaga 

akidah dan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah dapat terus dilaksanan dan 

tidak lagi dibawa ke sana kemari karena faktor kepentingan oleh 

sekelompok pengurus. (nam)



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke