Problem NU sekarang memang mendasar dan menyeluruh: visi, missi, kiprah dan
organisasinya amburadul. Katakanlah di AD/ART ada, tapi jabarannya dalam
program dan perangkat organisasi /manajemen nol. Syuriah sebagai Dewan Pengawas
tidak tahu menahu, bahkan - maaf - seperti tidak peduli. Apa yang terjadi,
terjadilah. Beliau-beliau sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri; terutama
mikirin beban pesantrennya yang semakin berat bersaing dengan lembaga-lembaga
pendidikan lain, atau sibuk dg pengajiannya dari kampung ke kampung. Akhirnya,
ya unsur Tanfizyah yang pegang kendali sendiri, sesuai kepentingannya yang
kebetulan terlahir sebagai politisi.. Terjadilah apa yang terjadi: NU, meskipun
bersumpah bukan partai lagi tapi ucapan dan kelakuannya lebih partai
dibanding partai.
Usulan Habib Lutfi merupakan satu opsi, berkaitan dengan sistem kepemimpinan.
Belum yang lain-lain. Sementara mencari rois am seperti yang yang
dikatakanya juga tidak mudah. Selain punya karisme spiritual dan moral, juga
wajib punya visi sosial (termasuk politik) serta kepemimpinan yang jelas dan
kuat. NU bukan hanya pesoalan kunut dan istighasah, tapi juga bagaimana
membangun Indoensia sebagai basis muslim aswaja yang kokoh dan berwibawa, di
mata dunia.
Segenap Nahdliyin terpelajar dengan wawasan luas, dimnapun khususnya di
kantong2 PCI-NU di berbagai belahan dunia, harus bersuara !!!
Salam,
Rozak
[Non-text portions of this message have been removed]