Industrialisasi Gagal, Kembalilah Mengurus Desa
Selasa, 28 Oktober 2008 03:04

Jepara, */NU Online
/*Momentum kembali ke desa harus terus digalakkan menyusul kegagalan 
proses industrialisasi di Indonesia. Dengan kembali ke desa maka 
reformasi struktural kebijakan perekonomian yang membela kaum tani juga 
bisa digalakkan.

Demikian disampaikan Prof Dr Mochammad Maksum, Guru Besar Fakultas 
Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Halaqoh Refleksi 
10 tahun Reformasi dan Revitalisasi Gerakan Sosial Nahdlatul Ulama yang 
di gelar PCNU Jepara bekerjasama dengan Wahid Institute, Sabtu (26/10) 
kemarin di gedung NU Jepara.

"Mestinya bangsa ini sadar bahwa selama ini telah salah kiblat, telah 
lalai terhadap pertanian dan pedesaan yang hakikatnya merupakan berkah 
Ilahiyah (anugerah). Sebab di sanalah, kodrat potensi agraris Republik 
Indonesia", kata Prof Maksum seperti dilaporkan kontributor /*NU 
Online*/ Syaiful Mustaqim.

Maka untuk kembali ke desa, lanjut Wakil Ketua PWNU Daerah Istimewa 
Yogyakarta (DIY) ini, perlu adanya perubahan pola pikir dan kebijakan 
yang selama ini anti pertanian, sehingga sektor ini akan ditempatkan 
secara adil. Selama ini pertanian hanya dijadikan sebagai tumbal 
pembangunan.

Hal senada diungkapkan Bahruddin, ketua Sarikat Paguyuban Petani Qaryah 
Thayyibah (SPPQT). Menurutnya, spirit kembali ke desa perlu dimantapkan 
dalam rangka mengantisipasi dampak dinamika global yang berkepanjangan. 
Desa yang didalamnya terdapat sektor pertanian perlu mendapatkan 
perhatian dari berbagai pihak, terlebih mereka yang memang lahir dan 
dibesarkan di pedesaan.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan lumbung yang merupakan sebuah 
komunitas berbasis kelompok yang bertujuan untuk mengembangkan ekonomi 
desa (kerakyatan).

"Di saat negeri mengalami krisis pangan yang berkepanjangan, maka 
pengelolaan lumbung perlu dimaksimalkan untuk memperbaiki komoditas 
pertanian yang makin tersendat," kata Bahruddin.

Bahruddin yang juga pengelola komunitas belajar alternatif Qaryah 
Thayyibah Salatiga ini menambahkan, perbaikan komoditas pertanian itu 
dilakukan untuk membangkitkan resistensi terhadap hak-hak rakyat petani 
yang selama ini selalu dikebiri. (nam)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke