http://www.nu.or.id/page.php

Radikalisme Islam di Indonesia
28/10/2008

/Judul Buku: Geneologi Islam Radikal di Indonesia   
Penulis: M. Zaki Mubarak
Penerbit: LP3ES, Jakarta
Cetakan: 2008
Tebal: xxxvii + 384 halaman
Peresensi: Muhamad Ismaiel
/
Mohammed Arkoun (1999) melihat fundamentalisme Islam sebagai dua tarikan 
berseberangan, yakni, masalah ideologisasi dan politis. Dan, Islam 
selalu akan berada di tengahnya. Manusia tidak selalu paham sungguh akan 
perkara itu. Bahwa fundamentalisme secara serampangan dipahami bagian 
substansi ajaran Islam. Sementara fenomena politik dan ideologi 
terabaikan. Memahami Islam merupakan aktivitas kesadaran yang meliputi 
konteks sejarah, sosial dan politik.

Demikian juga dengan memahami perkembangan fundamentalisme Islam. 
Tarikan politik dan sosial telah menciptakan bangunan ideologis dalam 
pikiran manusia. Nyata, Islam tidak pernah menawarkan kekerasan atau 
radikalisme. Persoalan radikalisme selama ini hanyalah permaianan 
kekuasaan yang mengental dalam fanatisme akut. Dalam sejarahnya, 
radikalisme lahir dari persilangan sosial dan politik. Radikalisme Islam 
Indonesia merupakan realitas tarikan berseberangan itu.

Tepat di sinilah, buku /Geneologi Islam Radikal di Indonesia /mengungkap 
realitas politisasi dan radikalisasi Islam. Zaki membuat batasan antara 
Islam sebagai ajaran penuh damai dan Islam setelah terkooptasi politik 
ke-Indonesia-an. Baginya, radikalisme merupakan persoalan kompleksitas 
yang tidak berdiri sendiri. Hampir seluruhnya memiliki pendasaran sangat 
politis dan ideologis. Layknya sebuah ideologi yang terus mengikat, 
radikalisme menempuh jalur agama untuk dapat membenarkan segala tindakan 
anarki. Maka, Islam tak sama dengan radikalisme.

Meski demikian, keberkaitan dengan kultur dan cara berpikir, membuat 
Islam dan radikalisme tak mengenal ruang. Seakan melebur dalam 
keberagamaan. Berawal dari memproduksi fanatisme, radikalisme masuk ke 
dalam ajaran Islam hingga dianggap bagian dari Islam. Lalu, membentuk 
pemahaman baru, bahwa Islam adalah agama kekerasan. Padahal, setiap 
agama memiliki sejarah kelam tentang paham fundamental, radikal atau 
kekerasan. Islam adalah satu di antara banyak agama dunia yang dituding 
penganjur paham fundamental.

Adalah keberimanan statis membuat radikalisme tak lekang oleh zaman. 
Ber-Islam dengan iman statis kerapkali menampilkan justifikasi 
hitam-putih hingga berlanjut pada pembelaan berlebihan terhadap 
keyakinannya. Saat itu, paham radikal sedang menjadi ideologi mengikat 
bagi kaumnya. Seperti dikemukakan Eric Hoffer tentang dogmatisme yang 
mencipta ketundukan mutlak. Tak hanya berhenti pada cara berpikir, 
dogmatisme demikian liarnya mencipta sikap pasrah.

Namun, Zaki tak mau berhenti di titik itu. Menghadirkan fakta sejarah 
dari pascakemerdekaan sampai kini merupakan kekuatan untuk mengungkap 
geneologi redikalisme Islam Indonesia. Buku ini mengungkap tapal 
perjalanan kaum radikal; Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir 
Indonesia (HTI) dan Laskar Jihad sepanjang medio 2002, 2003 dan 2005 
terutama setelah reformasi.
*
Sejarah dan Kuasa*
Sejarah radikalisme Islam Indonesia sudah ada sejak dulu. Sejak 
Kartosuwirjo memimpin operasi 1950-an di bawah bendera Darul Islam (DI). 
Setelah DI, Komando Jihad (Komji) pada 1976 meledakkan tempat ibadah. 
Pada 1977, Front Pembebasan Muslim Indonesia melakukan hal sama. Dan 
tindakan teror oleh Pola Perjuangan Revolusioner Islam, 1978.

Teror perlahan memilihkan namanya sendiri untuk Islam radikal, sekalipun 
belum ada istilah tepat untuk menyebut realitas macam itu. Radikalisme 
merupakan sebentuk penguasaan tafsir atas Islam secara tekstual. Juga, 
peradaban teks dengan memperjuangkan formalisasi syariat. Militansi pun 
berlangsung dan memperkuat gerak Islam radikal di Indonesia.

Radikalisme Islam Indonesia lahir dari hasil persilangan Mesir dan 
Pakistan. Nama-nama seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutb dan al-Maududi 
terbukti memengaruhi. Pemikiran mereka membangun cara memahami Islam ala 
garis keras. Setiap Islam disuarakan, nama mereka semakin melekat dalam 
ingatan. Bahkan, sampai tahun 1970-1980-an ikut menyemangati 
perkembangan komunitas usroh di banyak kampus atau organisasi Islam. 
Juga, FPI dan HTI.

Istilah radikalisme Islam kian menguat tak hanya pada matra tekstualitas 
agama. Persentuhan dengan dunia kini, menuntut adanya perluasan gerakan. 
Mulai dari sosio ekonomi, pendidikan hingga ranah politik.

Mungkin, di sinilah letak kekuatan radikalisme Islam Indonesia. Semakin 
melekat dalam setiap segmentasi sosial, semakin susah dibendung. Ia 
pandai membaca ruang sosial yang tak cepat lekang. Karena memahami 
setiap ruang akan mengantarkan radikalisme mencipta mentalitas kultural.

Dari sini, ideologi radikal tampak begitu dekat dengan permainan kuasa. 
Menempuh jalur politik diyakini dapat mengantarkan Islam pada kondisi 
lebih tinggi, yaitu, mimpi formalisasi syariat dan terbentuknya negara 
Tuhan.

Sampai kini, kaum radikal terus berjuang untuk dua hal itu, baik melalui 
lobi-lobi politik maupun fundamental-ideologis. Ironisnya, Islam hanya 
dijadikan pendasaran politik kepentingan. Padahal, dalam praktiknya, 
teror, anarki dan kekerasan secara bergantian dilakukannya. Tidak ada 
batas baik-buruk, moral-amoral. Semuanya berjalan di tataran politik 
yang menjauh dari Islam. Akhirnya, radikalisme kadang keliru dalam 
memahami Islam.

Antara fundamental-ideologis atau kuasa politik, tak bisa menolak 
realitas pengeremangan Islam. Pemurnian Islam yang dibayangkannya 
terjebak pada penistaan. Egoisme politik telah mengaburkan cara beragama 
mereka. Dan, mimpi formalisasi syariat dengan tindak kekerasan hanya 
menyudutkan Islam. Bahwa Islam sebentuk agama penganjur kedamaian 
sekaligus keretakan sosial.

Memang, kaum radikal terus mengulang sejarah politisasi agama yang 
berujung pada sebuah penistaan. Buku ini mencontohkan, bagaimana aksi 
teror Komando Jihad tahun 1976 hanya menyisakan keresahan sosial. Orang 
tak lagi nyaman dalam beragama, sebab dihantui kecurigaan antarsesama.

Hingga penelitian ini selesai pada akhir 2005, dogmatisme-ideologis dan 
permainan kuasa politik masih diminati oleh kelompok Islam radikal 
Indonesia. Sama seperti meminati kekerasan di jalan Allah.
/
Peresensi adalah Peraih Paramadina Fellowship 2008/




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke