.....ditambah sebuah doktrin guru mengajinya, "Berjuang harus ikhlas, ini
bagian dari dakwah. Biarlah Allah yang membalas semua jerih payah kita.
Bayaran Allah jauh lebih besar dari siapapun di dunia ini".....



Dagang Umat

Oleh: Bayu Gawtama



Seorang kader partai tengah memanggul beberapa bilah bambu panjang yang di
ujungnya sudah terpasang bendera partai tersebut. Sendirian ia menancapkan
satu persatu bambu itu dan mengikatkannya pada pohon atau tiang listrik.
Seorang teman saya berkomentar, "kader militan…"


Ia, pemuda itu, satu dari sekian juta kader-kader partai di negeri ini yang
rela melakukan apapun untuk partai yang dicintainya, demi nilai-nilai yang
diperjuangkan partainya meskipun tidak mendapatkan bayaran, insentif atau
bonus sepeser pun. Sekadar makan siang dan sebotol air mineral, ditambah
sebuah doktrin guru mengajinya, "Berjuang harus ikhlas, ini bagian dari
dakwah. Biarlah Allah yang membalas semua jerih payah kita. Bayaran Allah
jauh lebih besar dari siapapun di dunia ini"


Di tempat berbeda, seorang pemuda dari partai yang lain terlihat tengah
memasang spanduk seorang calon anggota legislatif, padahal saat itu waktu
menunjukkan pukul 23.45 WIB. Rupanya, puluhan bahkan ratusan spanduk yang
bertebaran di jalan raya itu hasil kerja kerasnya bersama dengan beberapa
kader partai lainnya. Yang menarik, ternyata ia dan rekan-rekannya tak
benar-benar mengenal foto-foto yang terpasang di berbagai spanduk yang
dipasangnya itu. Namun jawaban soal mengapa ia mau melakukan pekerjaan itu
jauh lebih menarik untuk disimak, "Saya percaya orang-orang ini akan
berjuang mengusung aspirasi rakyat. Mereka orang-orang bersih, berdedikasi
dan punya kapabilitas untuk menduduki kursi parlemen".


"Tapi Anda kan tidak benar-benar mengenal mereka, bagaimana bisa punya
penilaian seperti itu?"


"Mmm… itu yang disampaikan para pimpinan kami di partai," ujarnya.


Nanti, jelang waktu pemilu semakin dekat. Kita akan melihat jutaan orang
rela berkumpul di sebuah lapangan meneriakkan yel-yel, slogan-slogan partai,
juga mengelu-elukan jagonya, mengibarkan bendera partai. Sebagian anak-anak
muda bahkan rela mengecat wajahnya dengan lambang partai, kaum ibu sambil
menggendong anak-anak bayinya di terik panas, bersedia mengenakan baju, jas,
jilbab sampai kaus kaki berlogo partai yang diyakininya itu. Jangan aneh
pula bila menemukan beragam kendaraan, mulai dari kendaraan roda dua sampai
mobil-mobil yang tergolong mahal rela dicat atau ditempeli stiker logo
partai, dari ukuran kecil sampai yang menutupi hampir seluruh body
kendaraannya.


Dan ketika sang jagoan naik ke atas podium, serentak menyambutnya dengan
tepuk tangan layaknya artis, eh bukan, lebih tepatnya pahlawan. Padahal
mereka baru memulai perjuangan dengan mencalonkan atau dicalonkan sebagai
anggota dewan, tetapi inilah gambaran harapan rakyat di bawah akan perubahan
yang diusung oleh partai dan para calon legislatifnya.


Teriakan "Allahu Akbar" membahana membelah langit, kalimat yang sama juga
yang terdengar dari calon anggota parlemen lainnya, dari partai yang
berbeda. Entah kenapa, ini seperti kalimat sakti yang bisa menyihir semua
pendukung partai untuk meyakini bahwa orang yang barusan berteriak "Allahu
Akbar" di atas podium itu benar-benar orang baik, shalih dan dianggap
amanah, bersih, bahkan diyakini tidak akan mencederai kepercayaan yang
disematkan di pundaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti korupsi
atau tindakan tak pantas lainnya yang kerap kita dengar dan lihat terjadi di
Senayan.


Percaya atau tidak, sampai detik ini masih ada kader-kader partai yang
meyakini sampai ke tulang, bahwa orang-orang yang diusung sebagai anggota
dewan ini jujur dan tak mungkin korupsi. "Mereka dibina bertahun-tahun,
punya banyak jamaah pula. Kapasitas mereka mumpuni, dan mereka dikenal
bersih". Ada pula yang berkata, "Mereka orang-orang yang dekat dengan
masyarakat, dikenal baik oleh tetangganya sebagai tokoh masyarakat atau
pengurus masjid". Ada lagi yang berkomentar seperti ini, "Rajin beribadah,
juga rutin menghadiri kajian. Saya dengar sholat malamnya juga rajin. Masak
sih dia akan korupsi?". Bahkan pendapat yang lebih bombastis, "Bab korupsi
itu materi pengajian yang selalu diulang-ulang dalam kelompok kami. Jadi
mereka sudah tahu persis hukumnya…"


Calon anggota dewan, juga yang sekarang sudah menjadi anggota dewan,
layaknya dewa yang diyakini selalu bersih dan tidak mungkin berbuat salah.
Ini fakta, nyata, realita alias benar-benar ada.

Keikhlasan, keyakinan, kecintaan, pengorbanan dan loyalitas yang ditunjukkan
para kader partai adalah cermin hebatnya sebuah sistem dibangun. Sebuah
kondisi yang memerlukan waktu bertahun-tahun, dimulai dari kelompok-kelompok
kecil yang dibina hingga menjadi sebuah komunitas besar dengan keseragaman
ciri dan kebiasaan. Kader-kader partai tertentu misalnya, bisa sangat mudah
dikenali dari cara berpakaiannya, bahasa dan istilah yang dipakainya,
pergaulannya, kehidupan sehari-harinya, juga aksesoris di tubuhnya.


Hanya saja, patut disayangkan ketika keikhlasan, keyakinan, kecintaan,
pengorbanan, dan loyalitas yang mereka berikan seutuhnya untuk partai dan
para petinggi partai ini justru dimanfaatkan secara tak tepat. Kader-kader
partai ini sudah cukup silau dengan prestasi, portofolio dan bahkan label
"Ustadz" atau "Da'i" yang ada pada para calon penghuni Senayan itu. Terlebih
jika guru mengaji mereka yang mengeluarkan fatwa, diselipi dalil-dalil.
Sikap mereka pun seragam, "kami dengar dan kami taat".


Ummat, paling dicari ketika musim pemilu tiba. Rakyat adalah komoditas
paling laku untuk dijual di musim ini. Seseorang bisa menjadi calon anggota
legislatif karena dianggap memiliki jamaah atau pengikuti yang setia. Tidak
hanya itu, nilai seorang calon legislatif ini pun bisa terdongkrak ke puncak
bila ia diyakini mampu menjadi vote getter bagi partainya. Berbekal janji
manis, ummat pun rela mengeluarkan uang, tenaga dan pikirannya untuk
memuluskan jalan jagoannya melenggang ke Senayan.


Para calon anggota legislatif ini berani bertarung berebut kursi parlemen
lantaran merasa memiliki dukungan yang cukup signifikan dari ummatnya,
rakyatnya, warganya atau pengikut yang mengenalnya. Pimpinan partai pun
harus jeli menyusun nomor urut para calon legislatifnya, nomor urut satu
sudah pasti yang paling dianggap mampu meraih sebanyak-banyaknya suara
ummat.


Ketika waktunya tiba, para dewa dan jagoan berhasil digelandang menuju
Senayan. Teriakan takbir kembali membahana, sebagai ungkapan syukur atas
kesuksesan yang diraih. Jerih payah, peluh, bahkan darah yang tumpah selama
masa kampanye hilang sudah, terbasuh oleh senyum ceria para politisi yang
baru saja dilantik dan resmi menyandang gelar anggota parlemen. Kader-kader
partai ini pun kembali ke rumah masing-masing, masih dengan membawa rasa
syukur atas kesuksesan partainya meraih suara signifikan, yang artinya lebih
banyak calon legislatif yang berhasil dihantarkan ke gedung DPR.


Sedih rasanya melihat nasib ummat yang hanya laku dijual pada saat musim
kampanye menjelang pemilu ini. Sementara mereka terus berjuang bertahan
hidup dengan segala keterbatasan, para anggota dewan yang diusungnya tengah
menikmati hidup berlebihan. Disaat sebagian kader yang berjuang dengan
bayaran "ikhlas karena Allah" terseok-seok di jalan mencari sesuap nasi,
para dewa di parlemen tengah menikmati makan siang di sebuah restoran mewah
bersama para kolega atau pejabat pemerintah. Ketika kader-kader militan ini
dilanda kebingungan harus membayar kontrakan yang sudah menunggak empat
bulan, yang duduk di parlemen justru sibuk menambah rumah dan kendaraan
mereka.


Yang lebih menyedihkan, sampai detik ini masih banyak ummat yang mau dan
rela diperdagangkan. Mereka tidak menyadari bahwa disaat menjelang pemilu,
satu suara mereka sangat mahal harganya. Namun usai pemilu, berteriak sampai
urat leher putus pun suara mereka takkan pernah mampu menembus dinding tebal
gedung parlemen.


Maka tidak heran ketika seorang teman bertanya, "dagang apa nih yang bagus
sekarang?" Teman lain di sebelahnya ketus menjawab, "dagang ummat". Wallaahu
a'lam (gaw)



http://gawtama.blogspot.com/


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke