Ini adalah tulisannya orang yang ngga niat diskusi, sekeadar copy paste yang penting nongol biar dikata nggak terlalu sibuk di komnas. Terlalu panjang mas, intinya apa?
2008/11/19 ahmad baso <[EMAIL PROTECTED]> > "Sebab itu, benar juga kalau dikatakan bahwa pesantren adalah suatu > subkultur dalam kehidupan masyarakat kita sebagai suatu bangsa. Ketahanannya > membuat pesantren tidak mudah menerima sesuatu perubahan yang datang dari > luar, karena pesantren memiliki suatu benteng tradisi tersendiri. Tradisi > kerakyatan dalam mengabdi kepada Allah SWT, dan menyebar kebaikan di > tengah-tengah masyarakat." > > -- KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, hal. 72-73. > > Perempuan, Agency (Fa'iliyah) > Tidak semua memang bisa tampil dalam situasi krisis, dimana perempuan harus > tampil berdiri sendiri di baris paling depan. Karena itu berarti menanggung > resiko terbesar dan terberat dibanding mereka yang berada di baris belakang. > Tapi memang hanya mereka yang punya agency, yang punya inisiatif dan > keberanian mengambil resiko, punya sikap tegas, dan keyakinan diri saja yang > berani berdiri di avant garde. Merekalah yang bermental perintis dan > pendobrak. Dan salah satu dari sekian perempuan itu di Tanah Air adalah > (almarhumah) Ibu Solichah A Wahid Hasyim, ibunda Gus Dur.[2] > Ada tiga peristiwa yang sangat kritis namun strategis dimana > Ibu Wahid demikian almarhumah disapa tampil dan berdiri di depan dengan > siasat-siasat, agency atau fa'iliyyah-nya. > Pertama, beberapa hari setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, ia > mengambil inisiatif pertama mengumpulkan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, > laki-laki maupun perempuan, untuk menyikapi situasi genting tersebut. Dalam > situasi yang belum menentu itulah, keberanian Ibu Wahid mendorong NU > bertindak, dengan Subchan ZE selaku ujung tombaknya, beraksi mengutuk keras > aksi G30S itu. Di tengah situasi yang belum jelas mana lawan mana kawan, Ibu > Wahid justru sudah menunjukkan agency-nya sebagai seorang perempuan NU hadir > mengawal keselamatan bangsa dan negaranya. > Kedua, ketika program-program KB dikampanyekan pemerintah untuk > mangendalikan laju pertumbuhan penduduk, Ibu Wahid dengan kemampuan dan > siasatnya melakukan pendekatan kepada masyarakat, terutama kalangan > Nahdliyyin, untuk menyosialisasikan program-program KB tersebut sehingga > diterima oleh masyarakat. Peran beliau mengingatkan akan pentingnya > penguatan posisi perempuan pesantren dalam isu-isu strategis hak-hak > reproduksi. > Ketiga, ketika dua faksi di tubuh NU, yakni kelompok Cipete dan kelompok > Situbondo, terlibat konflik politik yang berlarut-larut dan makin > membahayakan keberadaan NU pada tahun 1980-an. Dan saat itu menjelang > Muktamar di Situbondo tahun 1984. Ibu Wahid segera mengambil inisitaif untuk > mendekati kedua kelompok tersebut, menjembatani serta mengarahkan sejumlah > pertemuan di antara tokoh-tokoh kedua faksi. Muktamar NU akhirnya berjalan > mulus tanpa gejolak politik berkat prakarsa Ibu Wahid mengelola konflik di > lingkungan NU demi tercapainya ishlah atau rekonsiliasi. Ini adalah agency > strategis beliau sebagai perempuan rekonsiliator.[3] > > Perempuan, Kebudayaan dan Masyarakatnya > Pengalaman Ibu Wahid di atas adalah pengalaman khas masyarakat pesantren, > pengalaman khas kaum Nahdliyyin. Perannya adalah refleksi dari karakter > komunitasnya sebagai pengawal bangsa, penjaga tradisi dan pemrakarsa ishlah > dan rekonsiliasi. > Masyarakat pesantren mungkin disebut masyarakat tradisional. Masyarakat > yang memandang dunia luar mendatangkan kekhawatiran dan rasa was-was. Namun > demikian, ketika suatu kebudayaan rakyat tumbuh subur, maka segenap > unsur-unsurnya pun ikut bergerak. Dan unsur-unsur luar bisa diterima tanpa > gesekan-gesekan atau ketegangan dengan dunia tradisi tersebut. Mungkin bisa > dikatakan bahwa masyarakat tradisional itu illiteracy, buta huruf. Tapi itu > hanya untuk menyebut mereka tidak bisa membaca dan menulis huruf Latin. Tapi > mereka punya kiat sendiri untuk menyiasati buku, yang tertulis, maupun dunia > luar, dengan menempatkan secara verbalistik atau lisan segenap yang tertulis > dan yang konseptual. Artinya, segenap makna yang bisa jadi pakem dalam > bahasa tertulis, dicairkan dan dibuat fleksibel ketika dikondisikan dalam > kultur oral-tradisi ini. Makna yang muncul pun jadinya terbuka bagi pembaca > (dan pendengarnya) untuk memberikan suara yang disesuaikan dengan konteks > dan lingkungan mereka masing-masing. Itu misalnya mereka lakukan dengan > membaca sebuah teks melalui tradisi samaan, yang biasa dilakukan dalam > pembacaan al-Quran di depan khalayak atau audiens pendengar. Masing-masing > audiens akan menangkap teks yang dibaca itu sesuai dengan tingkat pemahaman > dan pengalamannya. Satu bacaan mungkin ada yang lebih kuat resonansinya > dibandingkan bacaan di telinga seorang pendengar; tapi bacaan lain yang > minor itu justru bisa juga bergema kuat di telinga hadirin lainnya. Bahkan, > sebuah makna bisa diciptakan dalam situasi kebersamaan audiens tersebut.[4] > Itulah kekeliruan Geertz dalam bukunya, Religion of Java, karena ingin > mengembalikan pengalaman orang-orang Jawa yang membaca tradisi dan > kebudayaan mereka ke dalam kotak-kotak "santri" (dipecah lagi menjadi > "santri kolot" dan "santri modern"), "abangan", dan "priyayi". Posisi mereka > difiksasi dan dimantapkan ke dalam sekat-sekat kebudayaan, dimana pengalaman > mereka dalam ber-slametan misalnya menjadi hak eksklusif kaum abangan, dan > bukan misalnya milik bersama-sama yang melibatkan abangan, santri dan > priyayi dalam satu pengalaman "nonton bersama", pengalaman berkebudayaan). > Dikiranya, Geertz bisa menempatkan orang-orang Jawa dalam posisinya yang > empuk, untuk kemudian dari sana membaca diri dan dunianya. Padahal > pengalaman mereka dalam kebudayaan adalah pengalaman transisional, yang > liminal.[5]Sementara Geertz inign menutup peluang pengalaman yang kaya itu, > dan membatasinya pada kotak-kotak tertentu yang sudah tersedia: santri, > abangan, priyayi. Yang kemudian berkembang menjadi kotak-kotak > "tradisional" dan "modern". Selain itu, Geertz juga ingin menunjukkan cara > terbaik mengungkap makna atas pengalaman mereka tersebut, dengan memberikan > padanya sebuah otoritas yang berdaulat. Karena makna sudah dianggap otonom, > terlepas dari subyeknya, maka yang berhak kemudian untuk mendaulat makna > adalah ada sang penulis, yang punya otoritas. Dan otoritas itu nantinya > bernama Geertz, murid-muridnya, dan seterusnya..... > > Ke-Perempuan-an, Ke-Indonesia-an > Proses kreatif berkebudayaan itulah yang dimainkan oleh orang-orang kampung > dan kalangan pesantren terhadap sebuah teks yang bernama Mencaoai Indonesia > Merdeka (1933) karya Soekarno.[6]Proses kehadiran teks itu sangat sarat > dengan makna dan pengalaman. Coba bayangkan, sebuah buku diperoleh dengan > cara yang bisa saja nyawa jadi taruhannya. Buku tersebut adalah sejenis teks > yang dilarang untuk diakses oleh penduduk pribumi. Tapi orang-orang > pesantren tetap berjuang untuk menyembunyikan buku dari aksi razia polisi > kolonial Belanda. > Suatu hari, polisi kolonial Belanda mendatangi desa-desa yang dianggap > sarang aktifis nasionalis. Mereka berpakain preman, kelaur masuk rumah > warga. Mereka menggeledah rumah-rumah penduduk yang dicurigai menyimpan buku > Soekarno seukuran saku itu.[7]Haji Mahful dan Abdulbasir, pemilik salon dan > kawan sepengajian ayah di pesantren Kiai Nasyrawi, mendatangi Ibu Saifuddin > Zuhri yang sedang memasak. Berikut penuturan Kiai Saifuddin kecil > menggambarkan situasi tersebut: > > "Mas Ajeng, tolonglah sembunyikan buku ini dimana saja," pinta Paman Haji > Mahful, sambil meneyrahkan buku ukuran saku yang agak kumal. Sementara Paman > Abdulbasir menyebarkan sorot mata ke sekeliling dapur. Orang-orang di desaku > biasa memanggil ibu dengan sebutan "mas ajeng" atau kadang "ibu". > "Apa ini, Dik Mahful?", tanya ibu, seperti tidak paham. > "Sebuah buku penting! Tolonglah Bu, sembunyikan buku ini," jawab Paman Haji > Mahful dan Paman Abdulbasir berbareng. Wajah orang-orang ini seperti dalam > ketakutan. > "Buku?", tanya ibu dengan wajah bingung. > "Ya, buku! Buku penting. Tolonglah ibu sembunyikan dimana saja,' desak > Paman Mahful sambil menyerahkan buku dari balik baju piyamanya. > "Mengapa harus saya? Saya tidak mengerti buku," tukas ibu. > "Begini Mas Ajeng...", Paman Haji Mahful mendekati ibu dan berkata seperti > berbisik, "Ini buku Ir. Sukarno namanya Mencapai Indonesia Merdeka. Siang > ini puluhan polisi melakukan penggeledahan di semua rumah di desa kita. > Mereka sedang mencari buku ini. Gubernemen Hindia Belanda melarang buku ini > beredar dan dibaca oleh rakyat, karena isinya dipandang sangat berbahaya. > Tolonglah Mas Ajeng sembunyikan dimana saja asal aman!". > Ibu menoleh padaku sambil menerima buku dengan kedua tangannya. Paman Haji > Mahful dan Paman Haji Abdulbasir bergegas mohon diri lalu meninggalkan ibu > yang masih berdiri di dekat pintu dapur. > Ibu tampak tenang sekali, tak ada kecemasan pada wajahnya. Sedang berpikir, > tapi tidak gugup. > Buku ukuran saku itu dipeluknya erat-erat seperti kebiasaan ibu kalau > sedang membawa kitab al-Quran. Sejenak pandangan itu disebar sekeliling > dapur. Tiba-tiba ibu menghampiri periuk tempat menanak nasi. Ibu memang > tengah menanak nasi buat santapan siang seisi rumah. Nasi itu sudah hampir > masak, antara "mandek" dan "tanek" menurut istilah desaku, yaitu bila air > tajinnya sudah hampir mengering larutannya berangsur lenyap menjadi uap. > Akau dapat memastikannya karena kendil atau periuk tempat menanak nasi itu > telah ditutup daun pisang pada mulutnya yang disumbat dengan tutup > erat-erat. > Ibu menghampiri periuk itu. Perlahan-lahan dibukanya tutup periuk. Daun > pisang penutup periuk yang sudah menguap itu dibuka selembar demi selembar. > Beberapa lembar tersisa yang masih mengepulkan uap panas itu dibiarkan > menutupi nasi yang hampir "tanak" dalam periuk. Buku berukuran saku itu > dibungkus kain lap putih. Di atas daun pisang yang masih mengepulkan uap > penutup periuk itulah ibu meletakkan buku tipis Mencapai Indonesia Merdeka. > Ibu mengembalikan daun-daun pisang penutup mulut periuk di atas buku kecil > itu rapat-rapat. Hati mulai kurang cemas karena kecerdikan ibu, hati menjadi > geli menyaksikan ibu menanak nasi dengan Mencapai Indonesia Merdeka! Ibu > mengurangi bara api di bawah periuk. > "Alhamdulillah, tawakkaltu ya Rabbi [Saya berserah diri kepada-Mu Ya > Tuhanku]," Ibu berucap syukur dan bertawakkal. Beliau memandang aku dengan > senyumnya, aku pun membalasnya dengan senyum dan bangga. Tapi senyum ibu > hanya sejenak. Ibu meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sambil menatap > padaku. Aku paham akan maksudnya, agar aku merahasiakan peristiwa penting > itu. > Tiba-tiba aku sangat terkejut ketika dua orang polisi menghampiri rumah > yang hanya berjarak tiga meter. > "Selamat siang", seru kedua polisi itu. > "Selamat siang", jawab ibu sebelum aku sempat membalas polisi itu. Ibu > ebrdiri di belakangku. > "mana tuan rumah?" tanya seornag dari mereka. > "Ayahnya anak-anak sejak pagi tadi tak ada di rumah," jawab ibu dengan > tenang saja. Ibu mempersilakan polisi-polisi itu duduk di emper rumah. Tapi > polisi-polisi itu tidak segera masuk ke rumah kami., seperti ada keengganan. > Seorang polisi lain bergabung dengan mereka. Ketiga polisi itu sedang > berembuk. Agak lama juga mereka berunding. > "Boleh kami masuk rumah untuk mencari tuan rumah?" tanya salang seornag > dari mereka. Agaknya dia sang komandan. > "Silakan saja! Tapi saya sudah katakan bahwa ayahnya anak-anak sejak pagi > tak ada di rumah," jawab ibu dengan menatap wajah-wajah polisi itu. > Polisi-polisi itu tampak ragu untuk memasuki rumahku, lalu berunding sesama > mereka. > "Karena tuan rumah tidak ada, baiklah kami minta permisi", kata komandan > mereka. > "Oh, ... tahukah nyonya dimana Haji Mahful?" komandan itu membalikkan > badannya dan bertanya kepada ibu. bertanya tak disangka-sangka itu... > "Maafkan, saya tidak tahu", jawab ibu dengan nada tegas meyakinkan. > Mendengar jawaban ibu, polisi-polisi itu lalu berpamitan.[8] > > Pengalaman buku ini menunjukkan sebuah konteks, yang sarat perebutan makna. > Tokoh-tokoh dalam cerita bukan hanya menghadapi dominasi, tapi juga > bagaimana menyiasati dominasi tersebut. Relasi dominasi dan subordinasi > digambarkan melalui aksi polisi yang menggeledah buku Sukarno atas perintah > Gubernemen Hindia Belanda. Wilayah pertarungannya justru pada sebuah buku, > dan ketegangan bahkan teror pun bertebaran di sana-sini, "di semua rumah di > desa kita". Dan kemudian, ternyata, resolusinya ada pada seorang perempuan. > Ketegangan di ruang publik, dalam ranah politik, kemudian menemukan > solusinya di ruang privat: dapur, dengan seorang ibu desa sebagai aktornya. > Sebuah wilayah yang belum terjangkau dalam imajinasi aktifis feminis. Namun, > sangat krusial bagi sebuah pergerakan kebangsaan, karena dapur ternyata > adalah kepanjangan dari domain bangsa yang dibentuk di ruang publik. > Hanya melalui agency seorang ibu, buku Sukarno selamat, dan kemudian bisa > diakses dan dinikmati oleh penduduk kampung. Jadi, di sinilah agency > (keaktoran) perempuan. Di ruang publik suaranya memang tidak terdengar; tapi > justru dalam situasi krisis, ia hadir dengan subyektifitas keperempuanannya, > dengan membawa wilayah dapur, yang dianggap sebagai wilayah subordinasi > perempuan (ingat semboyan kaum feminis modernis tentang ketertindasan > perempuan: dapur, sumur, kasur), masuk ke dalam ruang publik dengan > siasat-siasatnya sendiri. > Coba perhatikan siasat ibu Saifuddin dalam menyembunyikan buku Sukarno itu. > Tidak pernah terbayangkan, sebuah buku bisa diselamatkan dari atas periuk > yang sedang mendidih, dan lolos tanpa lecet sekalipun. "Karena kecerdikan > ibu, hati menjadi geli menyaksikan ibu menanak nasi dengan Mencapai > Indonesia Merdeka!". Kita tentu bisa bertanya, apakah ibunda Saifuddin > pernah melakukan hal serupa sebelumnya, sehingga dalam hitungan menit buku > Sukarno bisa diselamatkan di atas periuk? Setahu saya, dari bacaan atas > kedua buku Kiai Saifuddin Zuhri tersebut, belum pernah. Artinya, itulah arti > agency ibunda Saifuddin. Ia muncul bukan tiba-tiba, out of nothing, tapi > sudah tersedia secara potensial, dan ketika muncul pemicunya, maka ia pun > menjadi aktual. Dan dengan secepat kilat, agency tersebut berfungsi dengan > pas dan jitu, tanpa mesti ada instruksi atau desakan luar. Seperti halnya > pengalaman Ibu Solichah Wahid di atas. Mengapa misalnya diselamatakan di > atas > periuk yang mendidih, bukan misalnya di buang di tempat sampat atau > dilempar ke area persawahan belakang rumah? Toh juga polisi kolonial tidak > akan repot-repot sampai mencarinya ke sana. Kita pun bisa kaget, kok bisa > buku tipis seperti itu bisa selamat dari panas bara api? Memang dahsyat > siasatnya itu! > Dengan demikian, menyelamatkan buku tersebut dalam bayangan ibunda Kiai > Saifuddin adalah juga berarti merawat sebuah tradisi, yakni memperkukuh > solidaritas penduduk kampung, menyelamatkan mereka dari tindakan represif > aparat kepolisian kolonial, serta menghargai keyakinan dan pendirian politik > mereka. Lebih dari itu, merawat tradisi adalah juga berarti menyelamatkan > Sukarno. Menyelamatkan Sukarno bukan berarti bisa mengeluarkannya dari > pembuangannya di Endeh, Flores, kala itu. Tapi berarti menyelamatkan > benih-benih kebangsaan yang ditanamkan Sukarno di dalam imajinasi penduduk > Nusantara. Sekecil apapun tindakan yang dilakukan oleh perempuan desa ini > terhadap buku Sukarno, tapi kontribusinya sangatlah signifikan. Tentu kita > bisa bertanya-tanya, apa jadinya nasib buku Sukanro dan juga nasib penduduk > desa tersebut, kalau ternyata buku tersebut disembunyikan oleh seorang > laki-laki, dan kemudian ketahuan oleh polisi? > Dalam pandangan penguasa kolonial, dari gubernur jenderal sampai polisi > kampung, sebuah buku, apalagi yang selevel dengan tulisan-tulisan Suakrno, > adalah dunia laki-laki. Dan laki-laki terlalu "polos", artinya, mudah > ketahuan kalau sedang menyembunyikan sesuatu, yang memang berasal dari dunia > laki-laki itu. Raut wajahnya muda terbaca, apalagi gerak matanya gampang > diterka. Itu sebabnya sang pemilik buku dan para kiai pembacanya tidak > percaya buku itu bisa selamat kalau dititipkan kepada laki-laki. Karena > mereka dianggap terlalu familiar dengan dunia mereka, dunia pergerakan, > dunia politik. > Tapi kalau dititipkan kepada seorang perempuan, apalagi perempuan desa? > Dalam benak polisi kolonial, tahu apa mereka tentang dunia pergerakan, > apalagi semacam buku Sukarrno? Paling tahunya dunia masak-memasak, atau > buku-buku resep, demikian kira-kira pikiran polisi kolonial laki-laki itu. > Tapi justru dalam ke-tidak-tahu-annya itu, perempuan sebetulnya adalah > sebuah kekuatan di ruang publik. Tidak salah kalau Sukarno sendiri percaya, > dan menyebut mereka pilar-pilar kebangsaan, penopang dunia pergerakan > nasional, seperti ditulisnya dalam buku Sarinah. > Itulah agency ibunda Kiai Saifuddin. Seorang perempuan tidak bisa diabaikan > akan ke-tahu-annya terhadap segenap yang terjadi di ruang publik. Ruang > publik baginya adalah kepanjangan dari dunia mereka, dari ruang privat, > sumur, dapur dan kasur. Mereka mengamati dan mengobservasi segenap ruang > publik di luar itu, dari posisinya yang lebih aman, dari dalam, dari ruang > privat. Itulah wilayah "kedaulatan" perempuan, apalagi perempuan desa dan > perempuan pesantren. Mereka bisa melihat kita, tapi kita tidak bisa melihat > mereka. Mereka bisa menguntit pergerakan kita di luar, bisa nguping > pembicaraan kita di serambi, atau di ruang tamu, atau di pasar, dan bahkan > bisa pula mendaur-ulang segenap bahasa dan kosa-kata kaum lelaki melalui > gosip, ngerumpi atau rumor. "When you look at me, but you never see me", > kira-kira demikian perumpamaan situasi kaum perempuan tradisi, yang mungkin > bisa dibaca dan dipandang oleh kaum laki-laki, tapi sebetulnya mereka tidak > pernah melihat dan mengetahuinya.[9]Demikian pula, kuasa kolonialisme, yang > semua pemangkunya adalah laki-laki, tidak tahu apapun tentang perempuan, > apalagi perempuan tradisi, perempuan santri atau perempuan desa, ketika > mereka juga menguntit pergerakan orang-orang pergerakan, bisa nguping > pembicaraan tentang Indonesia merdeka di serambi atau di ruang tamu, atau di > pasar, dan bahkan bisa pula mendaur-ulang segenap bahasa dan kosa-kata kaum > lelaki tentang satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, dalam ruang gosip, > ngerumpi atau rumor. > Dan ketika kaum lelaki sedang sibuk membicarakan buku Suakrno, ketika > mereka sedang kelabakan bagaimana menyimpan rapi buku itu supaya tidak > ketahuan, kaum perempuan pun sudah tahu itu semua dalam rumor dan > ngerumpinya, dari balik tirai, dari dalam ruang publik. Meski mereka > dikurung dalam rumah, tapi dari balik bilik mereka nguping atas apa yang > sedang diperbincangkan dan dihebohkan oleh kaum lelaki. Coba simak penuturan > Kiai Saifuddin: "Ibu tampak tenang sekali, tak ada kecemasan pada wajahnya. > Sedang berpikir, tapi tidak gugup. Buku ukuran saku itu dipeluknya erat-erat > seperti kebiasaan ibu kalau sedang membawa kitab al-Quran". > Konteks saat itulah yang membuat agency sang ibu melampaui batas-batas > konvensional. Dalam sebuah komunitas, seperti komunitas pedesaan dan > pesantren, sang ibu adalah simbol tradisi, pengawal dan penjaga > tradisi.[10]Dengan masuknya era pergerakan, sang ibu kemudian menjadi aktor > dari dunia baru tersebut, dunia kebangkitan. Maka sang ibu pun dalam dunia > baru tersebut menjadi aktor baru, sebagai penjaga tradisi Sukarno(isme) di > suatu lokus kebudayaan yang bernama Sukaraja. Seandainya tradisi kebudayaan > tersebut mandeg atau macet, maka ide-ide kebangsaan tersebut tidak akan bisa > berkembang. Sang ibu adalah juga anggota pengajian rutin yang digelar oleh > dua ibu nyai, sebutan untuk kiai perempuan, di kota kecil Sukaraja, > Banyumas. > Agency perempuan dari balik ruang privat, seperti kasus, dapur, sumur, > melalui praktik komunikasi ngerumpi atau rumor, atau melalui ruang publik > non-politik seperti pasar ini, jarang diperhatikan dalam studi dan gerakan > perempuan. Apalagi kalau melibatkan aktor perempuan desa, perempuan > pesantren atau perempuan subaltern. Pasar misalnya menjadi arena publik bagi > kaum perempuan, untuk mengartikulasikan agency-nya, misalnya dalam kerangka > solusi mengatasi konflik atau ketegangan sosial. Dunia laki-laki biasanya > identik dengan konflik dan ketegangan. Tapi aktor perdamaian lebih banyak > dimainkan oleh perempuan, dan inisiatif itu muncul melalui ruang publik > non-politis seperti pasar. Seperti pengalaman kaum perempuan di Ambon pasca > konflik yang menginisiasi perdamaian melalui pasar, karena memang pasar > tidak mengenal sektarianisme atau identitas agama. Buku yang diterbitkan > oleh PP. Lakpesdam NU tentang inisiasi perdamaian, tampak belum > mengakomodasi > suara-suara perempuan dari latarbelakang sosial-kultural semacam ini.[11] > Demikian pula, strategi komunikasi ngerumpi, adalah instrumen perempuan > dalam mengartikualsikan suaranya atau agency-nya untuk bertindak sesuai > dengan kemauannya sendiri, tanpa intervensi luar. Demikian pula perempuan > pesantren, dalam posisinya yang selalu dianggap di belakang, namun menjadi > artikulator mandiri tentang dunia sekitarnya, tanpa campur tangan laki-laki. > Seperti ditunjukkan dari pengalaman Ibu Solichah Wahid dan ibunda Kiai > Saifuddin di atas.*** > > > ________________________________ > > [1]Ahmad Baso, pengurus LTN-PBNU, Anggota Komnas HAM. Makalah > dipresentasikan pada Seminar Nasional "Budaya, Gender dan Hak Asasi Manusia" > yang diselenggarakan oleh PP Fatayat NU-UNFPA, Jakarta, 12 November 2008. > [2]Muhammad Dahlan, et. al. (editor), Solichah A. Wahid Hasyim, Muslimah di > Garis Depan: Sebuah Biografi (Jakarta: Yayasan KH. A. Wahid Hasyim, 2001). > [3]Tentang agency perempuan sebagai rekonsiliator, lihat Musdah Mulia, > Muslimah Reformis (Bandung: Mizan, 2004) > [4]Contoh terdekat untuk menggambarkan pengalaman pembacaan kolektif > tersebut adalah pada acara nonton bareng sebuah pertandingan sepakbola. Bagi > pecandu bola, tentu beda antara pengalaman menonton sendirian dengan > pengalaman nonton bareng. Detil-detil pertandingan terasa hidup dan bermakna > ketika ditonton bareng. Misalnya mengapa kaki Fernando Torres bisa dengan > mudah melayang melewati kaki-kaki pemain belakang kesebelasan Jerman > sehingga bisa mencetak gol kemenangan bagi Spanyol untuk merebut Piala Eropa > 2008. Selain itu nonton bareng juga mengungkapkan sebuah situasi kebersamaan > di antara anggota penonton yang meski tidak kenal satu sama lain, tapi bisa > bertemu dalam satu kesebelasan favorit. Bahkan bisa saling berangkulan kalau > ternyata kesebelasan yang dijagokan bisa mencetak gol ke kandang lawan. > Bukan hanya itu. Dalam nonton bareng, masing-masing bisa meberikan makna dan > tafsiran atas segenap warna warni pertandingan, tanpa ada batasan atau > hirarki. Tidak pernah misalnya seseorang berteriak, "Hai, fren, tafsiranmu > keliru!" atau "Hai, sobat, kamu tidak berhak memberi tafsiran atau pemaknaan > atas pertandingan ini!". Malah, sebaliknya, semakin banyak makna dan > tafsiran yang bertebaran. Itu bukan hanya menunjukkan kayanya tindakan > pemaknaan, tapi juga menunjukkan banyaknya pilihan dan alernatif, sehingga > memungkinkan seseorang bisa kreatif, dalam berimajinasi, dan berkarya, dalam > berpikir, termasuk dalam mereproduksi kembali sekian makna yang > diperolehnya. Makin banyak makna, maka akan banyak kreatifitas yang muncul. > Itulah kebudayaan. Salurannya bisa macama-macam: panggung teater, sandiwara, > samaan, ziarah kubur, istigotsah, dan segenap praktik-praktik kultural > lainnya yang banyak menghiasi tradisi kebudayaan rakyat dengan tradisi oral > atau lisannya. > [5]Tentang pengalaman komunitas pesantrens ebagai opengalaman liminal, > lihat tulisan saya, Ahmad Baso, "Kiai sebagai Antropolog: Siasat dan > Strategi Kebudayaan Kiai Saifuddin Zuhri". Tashwirul Afkar, September 2008. > [6]Karangan ini dimuat dalam Sukarno, Di Bawah Bendera Revolusi(Jakarta: > Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1963), cet. 2, jilid pertama, > hal. 257-324. > [7]KH. Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren (Jakarta: Gunung Agung, > 1987), hal. 74-76. > [8]Zuhri, Berangkat dari Pesantren, hal. 74-76. > [9]Analisis tentang strategi the gaze (dipandang-memandang) seperti ini > saya timba dari Homi K. Bhabha, The Location of Culture (London & New York: > Routledge, 2002). > [10]Ini tampak dalam pengalaman kaum perempuan dalam tradisi Jawa yang > bergerak dalam Serat Centini. Kaum perempuan pesantren, melalui aktor Ni > Rancangkapti, putri Sunan Giri Parapen, tampil sebagai kekuatan pemersatu > dunia Kejawen dan dunia pesantren. > [11]Lihat Khamami Zada et. al., Prakarsa Perdamaian: Pengalaman dari > Berbagai Konflik Sosial (Jakarta: PP Lakpesdam NU, 2008). > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
