halo,
mas baso, kata suara di balik komnas, tulisan ini
dibuat semalam, seperti legenda sangkuriang, sore
pesan pagi jadi. apa betul?

ato tulisan ini memang sudah ada sebelumnya, atau
sperti tukang jahit? tambal sulam,he2....

tapi, bagi fatayat, khususnya yang hadir pada seminar
itu, informasi dari baso ini luar biasa loh... selamat
ya mas...

salam,
elmawa


--- Kh Anam <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> Ini adalah tulisannya orang yang ngga niat diskusi,
> sekeadar copy paste yang
> penting nongol biar dikata nggak terlalu sibuk di
> komnas. Terlalu panjang
> mas, intinya apa?
> 
> 2008/11/19 ahmad baso <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> >    "Sebab itu, benar juga kalau dikatakan bahwa
> pesantren adalah suatu
> > subkultur dalam kehidupan masyarakat kita sebagai
> suatu bangsa. Ketahanannya
> > membuat pesantren tidak mudah menerima sesuatu
> perubahan yang datang dari
> > luar, karena pesantren memiliki suatu benteng
> tradisi tersendiri. Tradisi
> > kerakyatan dalam mengabdi kepada Allah SWT, dan
> menyebar kebaikan di
> > tengah-tengah masyarakat."
> >
> > -- KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari
> Pesantren, hal. 72-73.
> >
> > Perempuan, Agency (Fa'iliyah)
> > Tidak semua memang bisa tampil dalam situasi
> krisis, dimana perempuan harus
> > tampil berdiri sendiri di baris paling depan.
> Karena itu berarti menanggung
> > resiko terbesar dan terberat dibanding mereka yang
> berada di baris belakang.
> > Tapi memang hanya mereka yang punya agency, yang
> punya inisiatif dan
> > keberanian mengambil resiko, punya sikap tegas,
> dan keyakinan diri saja yang
> > berani berdiri di avant garde. Merekalah yang
> bermental perintis dan
> > pendobrak. Dan salah satu dari sekian perempuan
> itu di Tanah Air adalah
> > (almarhumah) Ibu Solichah A Wahid Hasyim, ibunda
> Gus Dur.[2]
> >             Ada tiga peristiwa yang sangat kritis
> namun strategis dimana
> > Ibu Wahid � demikian almarhumah disapa �
tampil
> dan berdiri di depan dengan
> > siasat-siasat, agency atau fa'iliyyah-nya.
> > Pertama, beberapa hari setelah peristiwa Gerakan
> 30 September 1965, ia
> > mengambil inisiatif pertama mengumpulkan
> tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama,
> > laki-laki maupun perempuan, untuk menyikapi
> situasi genting tersebut. Dalam
> > situasi yang belum menentu itulah, keberanian Ibu
> Wahid mendorong NU
> > bertindak, dengan Subchan ZE selaku ujung
> tombaknya, beraksi mengutuk keras
> > aksi G30S itu. Di tengah situasi yang belum jelas
> mana lawan mana kawan, Ibu
> > Wahid justru sudah menunjukkan agency-nya sebagai
> seorang perempuan NU hadir
> > mengawal keselamatan bangsa dan negaranya.
> > Kedua, ketika program-program KB dikampanyekan
> pemerintah untuk
> > mangendalikan laju pertumbuhan penduduk, Ibu Wahid
> dengan kemampuan dan
> > siasatnya melakukan pendekatan kepada masyarakat,
> terutama kalangan
> > Nahdliyyin, untuk menyosialisasikan
> program-program KB tersebut sehingga
> > diterima oleh masyarakat. Peran beliau
> mengingatkan akan pentingnya
> > penguatan posisi perempuan pesantren dalam isu-isu
> strategis hak-hak
> > reproduksi.
> > Ketiga, ketika dua faksi di tubuh NU, yakni
> kelompok Cipete dan kelompok
> > Situbondo, terlibat konflik politik yang
> berlarut-larut dan makin
> > membahayakan keberadaan NU pada tahun 1980-an. Dan
> saat itu menjelang
> > Muktamar di Situbondo tahun 1984. Ibu Wahid segera
> mengambil inisitaif untuk
> > mendekati kedua kelompok tersebut, menjembatani
> serta mengarahkan sejumlah
> > pertemuan di antara tokoh-tokoh kedua faksi.
> Muktamar NU akhirnya berjalan
> > mulus tanpa gejolak politik berkat prakarsa Ibu
> Wahid mengelola konflik di
> > lingkungan NU demi tercapainya ishlah atau
> rekonsiliasi. Ini adalah agency
> > strategis beliau sebagai perempuan
> rekonsiliator.[3]
> >
> > Perempuan, Kebudayaan dan Masyarakatnya
> > Pengalaman Ibu Wahid di atas adalah pengalaman
> khas masyarakat pesantren,
> > pengalaman khas kaum Nahdliyyin. Perannya adalah
> refleksi dari karakter
> > komunitasnya sebagai pengawal bangsa, penjaga
> tradisi dan pemrakarsa ishlah
> > dan rekonsiliasi.
> > Masyarakat pesantren mungkin disebut masyarakat
> tradisional. Masyarakat
> > yang memandang dunia luar mendatangkan
> kekhawatiran dan rasa was-was. Namun
> > demikian, ketika suatu kebudayaan rakyat tumbuh
> subur, maka segenap
> > unsur-unsurnya pun ikut bergerak. Dan unsur-unsur
> luar bisa diterima tanpa
> > gesekan-gesekan atau ketegangan dengan dunia
> tradisi tersebut. Mungkin bisa
> > dikatakan bahwa masyarakat tradisional itu
> illiteracy, buta huruf. Tapi itu
> > hanya untuk menyebut mereka tidak bisa membaca dan
> menulis huruf Latin. Tapi
> > mereka punya kiat sendiri untuk menyiasati buku,
> yang tertulis, maupun dunia
> > luar, dengan menempatkan secara verbalistik atau
> lisan segenap yang tertulis
> > dan yang konseptual. Artinya, segenap makna yang
> bisa jadi pakem dalam
> > bahasa tertulis, dicairkan dan dibuat fleksibel
> ketika dikondisikan dalam
> > kultur oral-tradisi ini. Makna yang muncul pun
> jadinya terbuka bagi pembaca
> > (dan pendengarnya) untuk memberikan suara yang
> disesuaikan dengan konteks
> > dan lingkungan mereka masing-masing. Itu misalnya
> mereka lakukan dengan
> > membaca sebuah teks melalui tradisi samaan, yang
> biasa dilakukan dalam
> > pembacaan al-Quran di depan khalayak atau audiens
> pendengar. Masing-masing
> > audiens akan menangkap teks yang dibaca itu sesuai
> dengan tingkat pemahaman
> > dan pengalamannya. Satu bacaan mungkin ada  yang
> lebih kuat resonansinya
> > dibandingkan bacaan di telinga seorang pendengar;
> tapi bacaan lain yang
> > minor itu justru bisa juga bergema kuat di telinga
> hadirin lainnya. Bahkan,
> > sebuah makna bisa diciptakan dalam situasi
> kebersamaan audiens tersebut.[4]
> > Itulah kekeliruan Geertz dalam bukunya, Religion
> of Java, karena ingin
> > mengembalikan pengalaman orang-orang Jawa yang
> membaca tradisi dan
> > kebudayaan mereka ke dalam kotak-kotak "santri"
> (dipecah lagi menjadi
> > "santri kolot" dan "santri modern"), "abangan",
> dan "priyayi". Posisi mereka
> > difiksasi dan dimantapkan ke dalam sekat-sekat
> kebudayaan, dimana pengalaman
> > mereka dalam ber-slametan misalnya menjadi hak
> eksklusif kaum abangan, dan
> > bukan misalnya milik bersama-sama yang melibatkan
> abangan, santri dan
> > priyayi dalam satu pengalaman "nonton bersama",
> pengalaman berkebudayaan).
> > Dikiranya, Geertz bisa menempatkan orang-orang
> Jawa dalam posisinya yang
> > empuk, untuk kemudian dari sana membaca diri dan
> dunianya. Padahal
> > pengalaman mereka dalam kebudayaan adalah
> pengalaman transisional, yang
> > liminal.[5]Sementara Geertz inign menutup peluang
> pengalaman yang kaya itu,
> > dan membatasinya pada kotak-kotak tertentu yang
> sudah tersedia: santri,
> > abangan, priyayi. Yang kemudian berkembang menjadi
> kotak-kotak
> > "tradisional" dan "modern". Selain itu, Geertz
> juga ingin menunjukkan cara
> > terbaik mengungkap makna atas pengalaman mereka
> tersebut, dengan memberikan
> > padanya sebuah otoritas yang berdaulat. Karena
> makna sudah dianggap otonom,
> > terlepas dari subyeknya, maka yang berhak kemudian
> untuk mendaulat makna
> > adalah ada sang penulis, yang punya otoritas. Dan
> otoritas itu nantinya
> > bernama Geertz, murid-muridnya, dan
> seterusnya.....
> >
> > Ke-Perempuan-an, Ke-Indonesia-an
> > Proses kreatif berkebudayaan itulah yang dimainkan
> oleh orang-orang kampung
> > dan kalangan pesantren terhadap sebuah teks yang
> bernama Mencaoai Indonesia
> > Merdeka (1933) karya Soekarno.[6]Proses kehadiran
> teks itu sangat sarat
> > dengan makna dan pengalaman. Coba bayangkan,
> sebuah buku diperoleh dengan
> > cara yang bisa saja nyawa jadi taruhannya. Buku
> tersebut adalah sejenis teks
> > yang dilarang untuk diakses oleh penduduk pribumi.
> Tapi orang-orang
> > pesantren tetap berjuang untuk menyembunyikan buku
> dari aksi razia polisi
> > kolonial Belanda.
> > Suatu hari, polisi kolonial Belanda mendatangi
> desa-desa yang dianggap
> 
=== message truncated ===



      Is he/she cheated?

Kirim email ke