http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/01/02145046/kontekstualisasi.ragam.fundamentalisme
Kontekstualisasi Ragam Fundamentalisme
Senin, 1 Desember 2008 | 02:14 WIB

Politik identitas atas nama budaya maupun pasar menentukan konstruksi 
perempuan ”ideal” dan seksualitas normatif. Hal itu digunakan untuk 
memaksakan politik hegemoni yang menstigmatisasi dan memarjinalkan 
mereka yang berada di luar paradigma dominan.

Madhu Mehra dari Forum Asia-Pasifik mengenai Perempuan, Hukum, dan 
Pembangunan (APWLD) menggarisbawahi hal itu ketika memaparkan laporan 
APWLD mengenai fundamentalisme di Asia-Pasifik dalam Konferensi II 
Jaringan Kartini Asia (KAN) di Bali beberapa waktu lalu. APWLD adalah 
suatu organisasi independen dengan status konsultatif pada Badan Ekonomi 
dan Sosial Perserikatan Bangsa-bangsa (Ecosoc).

Madhu Mehra mengingatkan, gerakan fundamentalis yang menggunakan politik 
identitas berbasis agama, kultur, etnisitas, dan nasionalisme tidak 
berbeda dengan globalisasi neoliberal dan militerisasi. Mereka tidak 
memiliki toleransi terhadap pluralitas, perbedaan, perdebatan dan 
ketidaksepakatan.

”Proyek identitas fundamentalis mengonstruksi identitas eksklusif, 
homogen, dan statis untuk kepentingan politik mereka. Agenda politiknya 
memaksakan sumber kekuasaan absolut dengan menekankan identitas tertentu 
dan menutup ruang perdebatan dan ketidaksepakatan,” ujar Madhu Mehra.

Konstruksi identitas itu selalu meliyankan ”yang lain”; dan yang lain 
itu adalah lawan. Ada dua jenis fundamentalisme terkait dengan ini. 
Pertama, dominasi mayoritas terhadap minoritas di suatu negara. Kedua, 
dominasi di dalam kelompok minoritas, biasanya menggunakan notion 
otentisitas etnik dan agama dan membuat batas tegas agar dapat 
mengendalikan komunitasnya secara penuh.

”Kita harus membedakan antara proyek politik identitas fundamentalis dan 
gerakan politik identitas,” kata Madhu Mehra.

Gerakan politik identitas menentang ideologi dan struktur dominan dengan 
mendukung keberagaman dan menciptakan masyarakat inklusif. Sementara 
proyek politik identitas kultural bersifat hegemonik dan eksklusif.

Proyek itu sebenarnya tak berurusan dengan tradisi, agama, dan kultur. 
Proyek itu lebih merupakan proyek politik yang menggunakan sumber daya 
modern, seperti hukum dan media, tetapi menggunakan budaya dan agama 
untuk mencapai tujuan hegemoniknya.

”Premis dari setiap jenis fundamentalisme berbasis politik identitas 
kultural adalah pendekatan dan tanggapan yang monolitik, absolut,” kata 
Madhu Mehra.

Kecenderungan itu akan mengikis demokrasi di setiap tingkatan meskipun 
mereka menggunakan ruang demokrasi untuk mendapatkan dan memperluas 
kekuasaan politiknya.

”Dalam proyek itu, yang ’ideal’ pada perempuan sudah ditentukan secara 
normatif,” kata Madhu Mehra.

Akibatnya adalah diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yang 
tidak dianggap ”ideal”, termasuk anggota kelompok minoritas, lesbian, 
gay, biseksual, dan transjender (LBGT). Pencemaran komunitas liyan 
melalui kekerasan seksual terhadap perempuan dan mengkriminalisasi LBGT 
juga merupakan konsekuensi dari politik seperti itu.

*Situasi di Asia-Pasifik*

Kontekstualisasi berbagai bentuk fundamentalisme di kawasan Asia-Pasifik 
dipaparkan para pembicara dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Pakistan, 
dan India.

Di Malaysia, seperti dipaparkan Zainah Anwar dan Prema E Devaraj, 
fundamentalisme berbasis agama menguat. Perkembangan antidemokrasi yang 
mengatasnamakan perlindungan demokrasi dari terorisme mengesahkan 
gerakan nondemokratis dan nonpartisipatif, khususnya kelompok 
fundamentalis yang berkoalisi dengan kekuasaan negara. Kelompok itu 
dinapasi nasionalisme Islam yang mereduksi dialog antarbudaya dan agama.

”Jender dan seksualitas merupakan wilayah kritis bagi transformasi 
sosial. Negara membatasi kebebasan perempuan dan kelompok minoritas,” 
ujar Zainah Anwar, yang juga memaparkan munculnya fatwa antitomboi dan 
larangan yoga karena bertentangan dengan Islam.

Banglades yang ketika berdiri tahun 1971 merupakan negara sekuler, pada 
tahun 1988 berubah menjadi negara Islam. Rezim militer mengontrol dan 
menghancurkan kehidupan komunal etnis lain. Identitas Bengali yang 
sekuler berubah menjadi identitas Islam yang unidimensional.

Di Indonesia, seperti dipaparkan Ketua Komnas Anti Kekerasan terhadap 
Perempuan Kamala Chandrakirana, kekuatan gabungan fundamentalisme, 
militerisme, dan oportunis politik menyasar tubuh perempuan sebagai 
target regulasi yang mengatur cara berpakaian dan mobilitasnya.

Di Filipina, peraturan dan kebijakan negara semakin memaksakan 
norma-norma dan nilai Katolik Roma yang membatasi hak-hak seksual dan 
hak reproduksi perempuan.

Di Pakistan, paket ”Islamisasi” yang dibawa Jenderal Zia ul Haq berpusat 
pada tubuh, hak, dan kebebasan perempuan.

Di India, kelompok sayap kanan memaksakan nasionalisme Hindu untuk 
konstruksi budaya, khususnya dalam kaitannya dengan seksualitas. Di 
Myanmar, tubuh perempuan adalah target serdadu dalam perang saudara yang 
tak ada akhirnya.

”Proyek identitas fundamentalis kontemporer harus dilihat dalam konteks 
kegagalan ekonomi pasar neoliberal global,” kata Madhu Mehra.

Ia melanjutkan, ”Konflik sumber daya alam, migrasi, dan degradasi 
lingkungan menjadikan situasi kemiskinan semakin mengerikan. Itu 
ditambah kemiskinan sisi ekonomi, kebangkrutan politik, alienasi budaya, 
depresi psikologis, dan kekosongan spiritual yang membuat orang sangat 
rentan dan menerima saja jawaban sederhana dan populis yang disodorkan 
fundamentalis militan dan pemerintah yang sangat berkuasa.”

/(Maria Hartiningsih/ Ninuk Mardiana Pambudy)/



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke