http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/01/02085599/meretas.pemahaman.yang.demokratis
Kajian
Meretas Pemahaman yang Demokratis
/ Kompas Images
Senin, 1 Desember 2008 | 03:00 WIB

Maraknya tulisan-tulisan yang bernada menghujat, menganggap sesat
serta mengafirkan terhadap komunitas tertentu dalam kesarjanaan Muslim
Indonesia di pelbagai media, baik buku, majalah, mailing list, dan
weblogs, menjadi alasan utama penulisan buku ini.

Hujatan-hujatan yang tertuang dalam media-media itu mencerminkan
adanya kebencian dan dominasi emosional ketimbang spirit
intelektual-akademis. Hal ini pada gilirannya akan menggiring kepada
image publik bahwa komunitas yang terhujat menjadi pihak terdakwa
sekaligus "berdosa" dalam keislamannya.

Tentu saja tulisan-tulisan yang bernada menghujat seperti yang
disampaikan dalam kata pengantar penulis buku ini bertentangan dengan
realitas sejarah pemikiran Islam klasik.

Para pemikir abad pertengahan hingga abad modern ikut memberikan
interpretasi mengenai kode dan "saluran" teks kitab suci. Sebagai
sebuah teks kitab suci, masyarakat Muslim menjadikan Al Quran sebagai
sumber religiositas dan etika utama dalam realitas sosial yang memuat
"pengetahuan Allah SWT", yang tidak mudah dipahami setiap pembaca.

Pembaca bisa saja salah tafsir terhadap permasalahan yang dibahas
dalam ayat (irtibat al- ayat). Kesalahan penafsiran ini biasanya
disebabkan penafsir memahami teks begitu saja tanpa meletakkannya
dalam konteks tata-situasi kebudayaan dan tanpa mempertimbangkan
sejarah dari turunnya teks (nash) atau asbab an-nuzul.

Untuk itu, proses pemahaman sebagai sebuah tindakan yang "menyejarah"
selalu terkait dengan konteks ruang dan waktu di mana pemahaman itu
diberikan. Secara eksplisit, hasil pemahaman masa lalu itu dapat
disampaikan dan direinterpretasikan dalam konteks kekinian.

Membangun konteks kekinian memerlukan "kontinuitas epistemologis"
untuk menjembatani perbedaan atmosfer kontekstual antara masa lalu dan
masa kini. Karena itu, pemahaman atau interpretasi atas teks harus
dilihat sebagai produk pemikiran yang relatif sebab ia lahir dari
penalaran yang terbatas. Kaidah metodologi digunakan untuk mengungkap
maksud dari teks.

Buku "Pemikiran Progresif dalam Kajian Al-Qur'an" karya Dr M Nur
Kholis Setiawan ini boleh dikatakan merupakan lanjutan epistemologis
dari produk pemikiran yang relatif tersebut.

Buku ini mampu memperlihatkan embrio pemikiran progresif yang
bersumber dari interpretasi para ulama abad pertengahan. Embrio
pemikiran progresif ini sudah berkembang luas di lingkungan para
akademisi bidang ilmu-ilmu keislaman dan sebagian umat Islam sudah
menjadikannya dalam perilaku keberagamaan.

Nur Kholis Setiawan selain mengajar di berbagai perguruan tinggi juga
tercatat sebagai Pengurus Pusat Lakpesdam NU 2005-2010.

(Ubaidillah Achmad Dosen Filsafat Pendidikan Islam pada Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang )

Data Buku

Judul: Pemikiran Progresif dalam Kajian Al-Qur'an

Penulis: Dr Phil HM Nur Kholis Setiawan

Penerbit Kencana Prenada Media Group

Edisi 1; Cetakan 1; XXII, 200 hlm, 21 cm

Kirim email ke