Jai Guru Deva

Slamet Thohari (Amex) Yogyakarta

--- On Fri, 12/5/08, Didi Tarsidi <[email protected]> wrote:
From: Didi Tarsidi <[email protected]>
Subject: Re: [mitra-jaringan] tunanetra sama dengan orang sakit?
To: [email protected]
Date: Friday, December 5, 2008, 10:33 AM










    
            


Bravo Mbak Aria! 
Hal serupa pernah saya alami dengan merpati dari 
denpasar ke bandung dan dengan adam air dari medan ke jakarta. Ketika mereka 
menyodorkan formulir untuk saya tanda tangani, kedua-duanya saya tolak. Seperti 
yang dilakukan Mbak Aria, saya juga menggertak mereka dengan mengatakan saya 
ketua pertuni dan bisa menuntut mereka di pengadilan. Ternyata itu sangat 
efektif. 
Sebetulnya mungkin tidak ada yang salah dengan isi 
formulir itu. Yang salah adalah persepsi orang tentang ketunanetraan dan 
kecacatan pada umumhya. Mereka masih menyamakan kecacatan dengan kondisi sakit. 

Upaya ke arah pembentukan persepsi yang tepat telah 
banyak kita lakukan melalui berbagai cara dan lewat bermacam-macam media, 
tetapi 
jelas kita masih harus berbuat lebih banyak agar pesan kita itu sampai kepada 
semua orang dan difahami dengan benar. 
Mari kita berjuang terus. 
 
didi Tarsidi

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  Aria 
  Indrawati 
  To: mitra-jaringan@ yahoogroups. com 
  ; seribubuku_mitranet r...@yahoogroups. com 
  ; siaran-pers@ yahoogroups. com ; karyawan 
  YMN ; jurnalis_jakarta@ yahoogroups. com 
  ; saudara sendiri 
  Sent: Thursday, December 04, 2008 12:57 
  AM
  Subject: [mitra-jaringan] tunanetra sama 
  dengan orang sakit?
  

  
  
   
  
  Tunanetra Sama Dengan Orang Sakit?
   
   
  Tiga Desember 2008, bertepatan dengagn Hari Internasional 
  Penyandang Cacat, hari yang dicanangkan PBB lebih dari duapuluh tahun yang 
  lalu untuk diperingati, sebagai isyarat bagi semua pihak di seluruh dunia 
agar 
  lebih memperhatikan keberadaan para penyandang cacat dengan menghormati, 
  melindungi serta memenuhi semua hak-hak mereka,  justru 
  telah ditandai dengan kejadian yang tidak menyenangkan berupa pelanggaran 
  hak.
   
  Kejadian yang saya tulis ini hanya satu dari sekian benyak 
  kejadian, yang mungkin juga terjadi pada hari yang sama di seluruh dunia.
   
  Sore itu, setelah     
  menyelesaikan tugas mengunjungi Fajar Harapan, sebuah pusat 
  rehabilitasi untuk tunanetra di Martapura Kalimantan Selatan, saya – 
tunanetra 
  (lemah penglihatan) -- dan Wenru, seorang teman dari Overbrook School For The 
  Blind – USA – langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Seperti saat 
  berangkat, kali ini kami juga menggunakan pesawat yang sama, Lion Air. Proses 
  check in berjalan cepat karena antrian  penumpang pendek 
  saja. 
          
   
  Setelah menghabiskan waktu dengan mengobrol selama kurang 
  lebih 45 menit di ruang tunggu, kami bergabung dengan antrian penumpang yang 
  memenuhi panggilan boarding. Seperti yang sudah-sudah, kami sengaja memilih 
  berada di barisan agak belakang; kami merasa lebih nyaman begini, jadi tidak 
  terburu-buru. Sama halnya dengan penumpang lainnya, setiba di pintu yang 
  ditetapkan, saya, sambil menarik traveling bag di tangan kanan dan 
berpegangan 
  pada lengan kanan Wenru, menyerahkan boarding pass kami. 
   
  Melihat cara saya berjalan – sambil berpegangan pada lengan 
  Wen --, sang petugas penyobek boarding pass bertanya: “apa ibu sakit?” 
  Saya jawab: “tidak.” 
  Seperti memahami apa yang sedang petugas itu pikirkan, saya 
  melanjutkan: “saya tidak sakit, tapi saya tunanetra.”
      Mendengar kata “tunanetra”, 
  sang petugas kontan berkata: “kalau begitu Ibu harus menandatangani 
  surat pernyataan.”
  “ Surat pernyataan apa?”
   Sang petugas yang semula berdiri di 
  ambang pintu lalu menuju meja di dekatnya, dan meminta pada petugas lain yang 
  ada di situ untuk mengeluarkan surat pernyataan.
  Lalu, “ibu harus menandatangani pernyataan ini,” 
  katanya.
  “pernyataan apa?” Tanya saya lagi.
  “ini sekedar pernyataan saja Bu,” katanya lagi.
   
  Karena sudah tahu pernyataan seperti apa yang mereka minta 
  saya tandatangani, lalu saya bilang: “pernyataan bahwa saya sakit, dan kalau 
  nanti terjadi sesuatu dengan saya airline company tidak mau 
  bertanggungjawab?”
  “Saya tunanetra, tapi saya tidak sakit! Jadi saya tidak mau 
  menandatangani pernyataan itu!”, lanjut saya dengan suara agak meninggi.
   
  “Tapi Bu, dulu pernah ada kejadian”, petugas yang ada di 
  balik meja menyambung.
  “Kejadian apa?” Tanya saya
   
  Melihat saya menjadi marah, sang petugas yang berada di 
  pintu kemudian memanggil petugas security melalui HTnya.
   
  Kemudian , dari sebelah kiri saya, Wen bertanya: “ada apa 
  Aria?”
  “Dia minta saya menandatangani surat 
  pernyataan karena saya tunanetra,” jawab saya.
   “Pernyataan apa?” Tanya Wen.
  “Pernyataan itu sebenarnya untuk orang sakit, karena mereka 
  menganggap  tunanetra sama dengan orang sakit, mereka juga 
  meminta saya menandatangani surat itu, yang intinya 
  menyebutkan bahwa jika sakit bertambah parah akibat penerbangan, perusahaan 
  penerbangan tidak mau bertanggungjawab” , jelas saya.
   
  Sebagai orang yang hamper duapuluh tahun bekerja untuk 
  tunanetra baik di Amerika maupun di Negara-negara sedang berkembang, Wen 
  sangat marah mendengar penjelasan saya. 
   
  Lalu, dengan berbahasa Inggris, tanpa peduli para petugas 
  yang ada di situ memahami atau tidak, Wen berseru: “Aria memang tunanetra, 
  tapi dia tidak sakit, kalian tidak bisa menyamakan tunanetra dengan orang 
  sakit, itu tidak fair, kalian telah melanggar haknya!”
   
  Seusai memarahi para petugas, lalu Wen mengambil boarding 
  pass kami yang tergeletak di meja dan bilang: “ayo Aria, kita jalan saja 
  terus.” Tapi, tentu saja petugas yang ada di pintu menahan kami.
   
  Lalu, sang petugas security berkata: “sebentar Ibu.”
  “Apa lagi?” Tanya saya.
  “Eeeeeeee, Ibu harus,” kata sang petugas security yang saya 
  rasakan  mulai salah tingkah melihat bagaimana saya 
  bersikap.
   
   Karena sudah sangat lelah menempuh 
  perjalanan  Jakarta Banjar Masin pagi harinya, lalu bekerja 
  seharian dan langsung kembali ke Jakarta pada sore hari, 
  akhirnya saya berkata: “saya ini Ketua Persatuan Tunanetra 
  Indonesia , kalau kalian mempersulit saya dalam 
  penerbangan ini, saya akan tuntut kalian ke pengadilan!”
   
   Mendengar itu, sang petugas security 
   kemudian  berkoordinasi dengan staf 
  airline yang ada di pesawat, dan akhirnya mengatakan: 
  “Ya sudah Ibu, silakan naik ke pesawat.”
   
  Kejadian ini tentu saja membuat semua menunggu dan 
  tertunda; bis yang mengantar penumpang ke pesawat, penumpang yang telah siap 
  duduk di pesawat, dan sudah barang tentu keberangkatan pesawat ke 
  Jakarta . Tapi, apa boleh buat. 
   
  Campur aduk antara perasaan marah dan lucu, saya dan Wen 
  membahas kejadian ini sepanjang kami menuruni anak tangga menuju bis yang 
  membawa penumpang ke pesawat, hingga kami duduk di dalam bis itu.
  “Baru saja kita bahas soal ini di pusat rehabilitasi 
  tunanetra Martapura pagi tadi Aria, dan sekarang, kamu mengalaminya sendiri”, 
  kata Wen sambil tertawa.
   
  Di pusat rehabilitasi tunanetra Fajar Harapan Martapura, 
  seorang guru menyampaikan pada kami bahwa di Kalimantan Selatan, pada umumnya 
  perguruan tinggi masih menolak menerima tunanetra menempuh pendidikan tinggi, 
  karena tunanetra dianggap tidak memenuhi syarat “sehat jasmani”. Mendengar 
  ini, tentu saja Wenru merasa heran, dan butuh waktu agak lama untuk 
  menjelaskan kepadanya situasi yang kami para tunanetra di negeri ini 
  hadapi.
   
  Setelah duduk di dalam pesawat, ada perasaan sedikit 
  menyesal di hati saya, karena saya telah memarahi para petugas tadi. 
  Sebenarnya mereka hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh para 
pembuat 
  kebijakan. Jadi, yang salah adalah si pembuat kebijakan. 
   
  Sebenarnya, selain saya, ada juga penumpang lain yang 
  diminta menandatangani surat pernyataan yang sama. Dia 
  seorang perempuan dengan cacat kaki, sepertinya akibat polio. Ketika melihat 
  seorang penyandang cacat kaki melewati pintu boarding bersama seorang 
  penumpang lain yang menyerahkan boarding pass mereka berdua, sang petugas 
  pintu boarding bertanya kenapa penumpang tersebut. Lalu, si penumpang lain 
  yang terbang bersamanya menjawab bahwa dia cacat kaki sejak lahir. Mendengar 
  itu, si petugas pintu boarding meminta si penumpang yang terbang bersama 
  penyandang cacat kaki tersebut menandatangani surat pernyataan yang 
sebelumnya 
  telah disodorkan pada saya dan saya tolak, dan si penumpang tersebut langsung 
  menandatanganinya tanpa membaca terlebih dulu apa isinya.
   
  Apa yang Lion Air lakukan pada saya juga dilakukan oleh 
  kebanyakan airline Indonesia lainnya.Dan, apa yang saya 
  alami juga dialami oleh banyak tunanetra dan penyandang cacat lainnya di 
  negeri ini. Para penyandang cacat yang telah memahami benar hak 
  mereka  dan berani mempertahankan jika hak mereka 
  dilanggar   akan menolak menandatangani pernyataan 
  tersebut, sementara, mereka yang tidak atau belum memahami, atau yang tidak 
  terlalu berani menyatakan sikap, cenderung menerima saja perlakuan 
  ini.    
   
  Usaha mengubah situasi ini telah dilakukan, antara lain 
  dalam diskusi antara organisasi penyandang cacat dengan asosiasi perusahaan 
  penerbangan beberapa waktu lalu, yang diprakarsai oleh kementrian 
pemberdayaan 
  perempuan. Saat hal ini disampaikan, perwakilan asosiasi antara lain 
  mengatakan bahwa keberadaan penumpang penyandang cacat beresiko mempersulit 
  proses evakuasi jika terjadi keadaan darurat.
    
  Tampaknya masih butuh waktu lebih lama untuk mengajak semua 
  pihak menyadari serta memahami bagaimana menghargai, melindungi serta 
memenuhi 
  hak para penyandang cacat, sebagaimana yang telah diamanatkan oleh 
  Undang-Undang Dasar, yang setelah diamandemen mencantumkan ketentuan lebih 
  rinci tentang hak-hak asasi warga Negara, termasuk warga Negara yang 
  menyandang kecacatan.
    
   
   Jakarta , 4 Desember 2008
  Aria Indrawati
  Kabag Humas
  Yayasan Mitra Netra.
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
       
   
       

  

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke